Perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap. Tak sepatut-nya ada, pada kita yang bukan apa-apa.
***
Setelah memasuki kelas-nya, Lea memancarkan pandangan-nya ke seisi ruangan, Lea punya banyak pertanyaan untuk Sean. Namun sialan, lelaki itu tidak ada dikelas. Membuat Lea tergopoh berjalan menuju Pietro.
"Kau melihat Sean?" tanya Lea langsung, ia meletakkan tongkat disamping-nya dan duduk terlebih dahulu. Dosen mereka belum memasuki kelas. Termasuk hal yang biasa karena Pak Arsen, dosen Hukum Perdata, memang selalu terlambat.
Pietro mengerutkan dahi. Heran dan bingung. "Sean? Lelaki yang jarang masuk kelas itu? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan-nya?"
"Kata-nya, dia musuh Altair disirkuit. Aku hanya ingin bertanya sesuatu kepada-nya," rutuk Lea kemudian.
"Dia tidak ada masuk kelas." ujar Pietro malas.
"Tapi, bukankah dia dikelas yang sama dengan kita?" Lea masih bersikeras.
"Iya, tapi dia memang belum ada masuk kelas Lea," Pietro menjawab jengah.
"Terus kemana dia pergi, aku kira dia akan masuk kelas tadi, huh." Lea masih antusias membahas lelaki itu.
"Entahlah," kata Pietro malas.
"Kau tau Pietro, Altair sialan itu tadi mengatakan aku cantik seperti Ursula! Dia memang b******n, detik pertama memuji ku, detik selanjut-nya menghempas-ku. Heh, apa kata-nya? cantik sedikit dari penyihir licik itu? Ish, dimana mata-nya. Dasar songong dan aneh. Aku membenci-nya Pietro!" Lea bercerita panjang. Perasaan keki masih menjalar setiap kali Lea membahas lelaki itu.
Pietro tidak menjawab lagi, dia hanya telah memainkan ponsel-nya. Risih karena kini sahabat-nya itu terus memikirkan tentang lelaki songong bernama Altair tersebut.
"Pietro! Ish. Aku tengah bercerita, kau malah sibuk dengan ponsel-mu!" Rutuk Lea seraya menarik benda pipih milik sahabat-nya itu.
Pietro hanya menghela nafas,"Kau tahu, kau kini selalu membahas dia,"
"Dia songong sekali!" tukas Lea lagi.
"Kau membenci-nya?" tanya Pietro sambil mengangkat sebelah alis-nya. Lea mengangguk cepat. Membuat Pietro tertawa disana.
"Kau tahu? Kau malah tampak sangat mencintai-nya." Pietro mengejek. Membuat Lea membulatkan mata garang.
"Tidak Pietro! Tidak akan! Kau tahu, aku hanya ingin mencari tahu kebenaran-nya." jelas Lea tidak terima.
Dengan Pietro yang sudah mengedikkan bahu, tidak ingin mau tahu lagi apapun perkataan sahabat-nya itu. Karena bagi Pietro ini sudah mulai tampak jelas. Dan dia sedikit resah. Itu saja.
???
"Kau akan latihan hari ini?" Deo bertanya kepada Altair ketika kelas mereka sudah berakhir.
Kevin dan Lucas telah pergi, tidak perlu dipertanyakan, kedua playboy itu pasti tengah sibuk menggoda adik tingkat. Jadi hanya tersisa Altair, Deo dan juga Rendra.
Mereka berada dikantin kampus belakang kelas. Selain tempat-nya yang rindang dan juga sejuk, dagangan Bu Risa menjadi favorit sebagian mahasiswa Teknik. Kantin itu selalu ramai, bukan hanya karena makanan-nya yang begitu nikmat, melainkan karena para mahasiswa senior kerap kali berada disini. Membuat banyak sekali mahasiswa wanita modal nekat untuk berada disini. Bukan hanya senior, bahkan mahasiswa junior juga begitu berani berada dikantin tersebut, hanya demi mengecengi para senior mereka.
Terbukti ketika seorang wanita dengan rambut curly sedada terlihat menghampiri meja Altair dengan senyuman manis-nya.
Deo dan Rendra hanya tersenyum, sementara Altair tidak tahu menahu karena dia membelakangi wanita itu.
"Aku boleh gabung?" wanita itu bertanya pertama. Namun, belum juga ada yang menjawab dia sudah lebih dulu duduk tepat disebelah Altair.
Altair langsung menoleh, menatap sinis wanita disebelah-nya ini sebelum berganti memberi tatapan tajam pada kedua sahabat-nya. Yang membuat Deo dan Rendra hanya mengedikkan bahu.
"Angel, kau terlihat makin cantik!" puji Rendra pertama. Membuat wanita itu langsung mengedipkan sebelah mata-nya.
"Dan juga semakin--sexy!" Deo menyambung.
Wanita yang dipuji langsung terkekeh geli. "Tentu saja, hanya orang buta yang tidak dapat melihat kecantikan dan kesexy-an ku!" singgung-nya sambil menatap Altair.
Namun lelaki yang disinggung hanya mengalihkan pandangan, berpua-pura fokus pada makanan dihadapan-nya, yang sial-nya kini malah terasa hambar!
"Altair!" Angel berujar keki. Kedatangan-nya bahkan tidak direspon oleh lelaki itu.
"Apa?" jawab-nya malas.
"Aku mendengar kabar kau memiliki kekasih baru. Benarkah? Anak hukum sebelah? Secantik apa wanita itu?!" tanya-nya penasaran.
Altair baru merespon setelah itu, dia tahu kemana arah pembicaraan saudara kembar Sean ini. Lagi pula, tidak perlu Altair bertanya bagaimana Angel dapat mengetahui hubungan-nya dengan Lea. Karena wanita itu memiliki segudang mata-mata. s**t, wanita ini selalu mengusik-nya!
"Lebih cantik dari-mu!" Tukas Altair tajam. Dia hanya ingin wanita menyebalkan yang satu ini pergi dari hadapan-nya.
Hal tersebut sukses membuat Deo dan juga Rendra terkekeh geli.
"Aku tidak percaya," tantang-nya disana. "Deo, Rendra benarkah wanita itu lebih cantik dari-ku?" Angel kini menanyakan hal itu kepada kedua sahabat Altair.
Deo terkekeh sebelum berujar, "Tidak, tentu saja kau yang paling cantik!"
"Benar, mana ada yang mampu mengalahkan pesona Angelina Danilova!" Rendra menyambung-kan.
Membuat Altair menatap keki kedua sahabat-nya itu. Sementara Angel sudah tersenyum puas.
"See, sahabat-mu saja dapat memperjelas semua-nya," jelas-nya bangga.
"What ever. Bagi-ku, dia sejuta kali lebih cantik dari-mu!" Altair masih bersikeras.
"Apakah aku harus merekam apa yang kau katakan barusan?" Deo menguji Altair.
"Harus bung! Kevin dan Lucas harus mendengar itu!" Rendra menyambung sambil mengarahkan ponsel-nya pada wajah Altair.
"Diam sialan!" ucap Altair marah. Membuat Rendra kembali terkekeh sambil meletakkan kembali ponsel-nya.
"Altair, pergilah dengan-ku kepesta Sonya malam ini," Angel berkata sambil memegang manja tangan Altair.
Membuat-nya segera menepis rengkuhan tangan wanita itu. "Ajak-lah yang lain. Kevin, Lucas atau mereka berdua--" tolak Altair sambil menunjuk kedua sahabat-nya itu.
"Maafkan aku Angel. Tapi aku sudah punya janji temu bersama wanita lain," Deo menolak pertama, pura-pura merasa bersalah.
"Maafkan aku juga Angel. Tapi aku sudah punya janji makan malam bersama Nenek-ku," Rendra ikut beralasan. Dia sengaja agar Altair tidak punya pilihan lain. Dan lihatlah, mata elang-nya langsung menatap Deo dan Rendra berang. Namun mereka hanya terkekeh, tidak mengindahkan tatapan itu.
"Lihatlah, kedua sahabat-mu tidak punya waktu Altair. Kau saja ya?" kata-nya masih memohon.
"Tidak bisa Angel. Aku harus kerumah sakit menemani kekasih-ku," ucap Altair beralasan juga.
"Kenapa kau mau dengan wanita merepotkan itu? Tugas-mu bukan hanya mengurusi-nya!" Angel bercerocos marah. Tidak terima karena Altair selalu menolak permintaan-nya. Ralat, lelaki itu bahkan menolak seluruh ajakan-nya.
"Karena aku mencintai-nya!" jawab Altair asal, dia berdiri dan segera meninggalkan kantin.
Membuat Angel menatap punggung Altair gusar, hingga hilang dari pandangan, dia juga sudah berlalu meninggalkan Deo dan Rendra. Wanita itu kembali menghampiri teman-temannya dimeja depan, yang kini sudah terkekeh geli melihat wajah masam Angel.
"Kau merekam-nya?" tanya Deo kemudian. Rendra langsung mengangguk mantap. Membuat kedua-nya tertawa lepas disana.
"Oke, mari kita mengejek si-songong itu!" teriak Deo puas. Dengan Rendra yang kini mulai berkutat dengan handphone-nya. Mereka akan memberikan serangan kepada Altair, lelaki itu memang punya ego yang tinggi. Jadi mari kita skakmat seorang Altair hari ini.
CARSWELL
Rendra Tyaga : *Mengirim voice note*
Deo Abian : Hei bung, kalian harus mendengar pengakuan ini
Kevin Aldebaran : Aku sudah menduga-nya sejak awal
Lucas Zephyr : Oh s**t! Bagaimana mungkin?
Rendra Tyaga : Yeah, si songong itu memang tidak bisa menipu kita
Lucas Zephyr : Huh, tidak kusangka setelah disangkal terus-terusan
Kevin Aldebaran : Kenalkanlah wanita gila itu kepada kami
Deo Abian : Tenang saja, kami tidak akan mengganggu wanita-mu itu
Rendra Zephr : Paling hanya sedikit bergurau
Kevin Aldebaran : Dengan bumbu menggoda
Lucas Zephyr : Playboy kau Kevin! Punya sahabat-mu pun ingin kau ambil?
Kevin Aldebaran : Tidak mungkin. Aku masih sayang dengan wajah indah ku ini. Kau saja jika ingin berakhir dirumah sakit.
Deo Abian : Hahahaha aku yakin, sebentar lagi kita akan mendapatkan bogeman dari Altair
Rendra Tyaga : Aku yang pertama bung. Dimana kalian? Aku butuh tameng saat ini juga!
Kevin Aldebaran : Kevin meninggalkan grup
Lucas Zephyr : Lucas sedang sekarat
Deo Abian : Deo berada ditempat yang tidak bersinyal
Rendra Tyaga : Sialan kau Deo! Kau yang mengusulkan ini
Deo Abian : Tidak Altair, percaya pada-ku. Aku sama sekali tidak tahu
Rendra Tyaga : Heh kusumpah kau jadi pasir
Lucas Zephyr : Bodoh HAHA
Altair baru saja sampai didalam sedan-nya. Setelah bersusah payah dia menghindari Angel, disinilah dia berada. Kelas memang sudah berakhir, Altair hanya tengah menunggu panggilan dari Lea.
Jadi, menghiraukan getaran dihandphone-nya sejak tadi, setelah sampai diparkiran fakultas-nya barulah Altair membuka benda pipih itu. Altair telah menduga pasti itu dari grup-nya, karena handphone-nya hanya ribut jika grup tengah membahas sesuatu.
Cepat Altair membuka itu, membaca seluruh pesan dari teman-temannya tersebut dan mengerutkan dahi bingung. Hingga akhir-nya sebuah pesan suara yang dibagikan Rendra yang kini tengah didengar-nya.
'Karena aku mencintai-nya.'
Shit! Altair bahkan tidak sadar telah mengatakan itu. Dia berujar asal hanya karena ingin Angel cepat berlalu. Altair risih berada dekat dengan wanita itu. Tidak, bukan karena Angel Danilova adalah kembaran dari Sean Danilova. Tapi karena sejak dulu wanita itu tidak pernah berhenti mendekati-nya. Altair tidak suka. Angel bahkan terkesan berlebihan, mengatakan pada semua orang bahwa Altair adalah kekasih-nya. Hell, mengatakan suka saja Altair tidak pernah. Dasar wanita gila yang satu itu. Huh!
Altair Ataya : I kill you, Ren!
Setelah mengatakan itu Altair memasukkan handphone-nya kembali pada saku-nya. Namun sebelum-nya, tidak tahu dorongan dari mana, pesan suara itu Altair simpan dalam file disana.
Kemudian Altair mulai menghidupkan mesin mobil-nya dan menderu sedan itu keFakultas Lea. Bahkan ketika wanita menyebalkan itu belum meminta jemputan. Entahlah, Altair merasa ingin secepat-nya bertemu wanita menyebalkan itu. Atau bagaimana dia mengatakan ini, 'mungkin-kah Altair merindukan perdebatan mereka? Huh, tidak mungkin bung!'
Altair sudah berada didepan gerbang Fakultas hukum. Dia sengaja tidak masuk keparkiran karena mahasiswa sudah bertebaran keluar, Altair tidak ingin terjebak macet saat menjemput wanita menyebalkan itu. Jadi, kembali merogoh handphone-nya Altair hendak menghubungi Lea, ketika ditengah kerumunan dia menemukan wanita itu sedang dipapah oleh lelaki berkaca-mata kemarin. Sedikit heran karena Lea terlihat begitu dekat dengan-nya. Apakah lelaki itu kekasih-nya?
Sekelabat pikiran buruk mulai menghiasi kepala-nya. Namun jika memang itu kekasih-nya, Altair yakin lelaki itu sudah pasti akan menemui-nya dan memukul-nya, karena membuat Lea seperti itu.
Cepat Altair melakukan panggilan, dari dalam sedan-nya dia tersenyum, karena wanita menyebalkan itu terlihat kesusahan dengan tongkat dikedua sisi tangan-nya, lelaki berkacamata itu tampak membantu-nya. Menuntun-nya dengan sabar, membuat Altair terusik menyaksikan itu.
Setelah panggilan terhubung barulah Altair menormalkan suara-nya.
"Lihatlah kearah jarum jam dua belas dari tempat mu berdiri--" jelas Altair pertama.
Lea tampak kebingungan sebelum menoleh lurus, mendapati mobil Altair didepan gerbang, bibir-nya ditekuk habis-habisan.
"Tidak bisakah kau masuk seperti biasa?" Lea sedikit memohon. Tidak jauh memang hanya sekitar lima puluh meter ia sudah sampai kedepan gerbang, tapi Lea benar-benar sulit melangkah dengan kedua tongkat.
"Jika kau terus berbicara kepada lelaki berkaca-mata itu, lebih baik aku pergi dulu," kata-nya mengancam.
"Sia--"
Sambungan sudah Altair putus, dia tahu kalimat selanjut-nya yang akan wanita menyebalkan itu katakan. Jadi dari dalam sedan-nya Altair terkekeh geli.
Dengan Lea yang sudah berjalan tergopoh-gopoh dengan kedua tongkat-nya. Pietro terus menatap kepergian Lea, dengan Altair yang sudah tersenyum puas dari dalam sedan-nya.
"Kenapa kau selalu menguji-ku??" cerocos Lea ketika ia sudah meneparkan diri didalam sedan Altair.
Altair mendongak sebentar, sebelum tersenyum menyebalkan. "Lagi pula ini yang harus kau ketahui jika ingin mengenal-ku. Aku sering membuat marah,"
Lea langsung memukul tangan Altair cepat sebelum lelaki songong itu menghindar. "Kau tidak hanya membuat marah, tapi membuat tensi!!"
"Syukurlah, supaya wanita gila seperti-mu cepat mati!" Ledek Altair kemudian.
"Heh, kau tidak akan menemukan wanita seperti ku lagi, jika aku mati!" sambung Lea tidak mau kalah.
"Tidak mungkin, ada banyak wanita cantik yang akan mengelilingi hidup-ku!" kata-nya bangga.
"Tapi tidak ada yang seperti-ku bodoh!" jelas Lea tidak terima.
"Terserah kau saja," kata Altair akhir-nya. Sekeras apapun usaha-nya meladeni Lea, Altair yakin wanita menyebalkan ini tidak akan pernah mau kalah. See, Lea sudah tersenyum senang.
"A-ah aku hampir lupa mengatakan ini, kau mengenal Sean?" tanya Lea disela-sela perjalanan mereka.
Mendengar itu Altair langsung menoleh, "Kau mengenal-nya?"
Lea mengangguk, "Dia satu kelas dengan-ku sejak semester pertama, tapi baru tadi dia menegur-ku."
"Apa kata-nya?" tukas Altair cepat.
"Dia bilang--" Lea menggantung ucapan-nya, sambil melirik wajah Altair yang terlihat tidak sabar menunggu jawaban. "Rahasia!" sambung Lea kemudian, ia terkekeh melihat kekesalan diwajah Altair.
"Berhenti bergurau. Dia mengatakan apa?" kata-nya gusar.
"Kenapa kau sangat ingin tahu?" tanya Lea penasaran.
"Dia musuh-ku. Aku harus tahu apa yang dikatakan-nya!" Altair masih bersikeras.
"Tidak banyak, dia hanya meminta-ku untuk menjadi pacar-nya," decak Lea santai.
"Apa? Dia sedang cari mati?" gerutu Altair marah.
"Hei, kenapa kau meninggikan suara-mu!" timpal Lea kemudian.
"Jangan berhubungan dengan-nya, berpaling saja jika kau berpapasan dengan-nya!" Altair memperingati.
Lea tersenyum mendengar itu. Mendapati kerutan gusar diwajah songong Altair begitu terlihat jelas, Lea menyimpulkan sepihak, apakah lelaki songong itu tengah cemburu? Jadi mari kita bermain-main sebentar.
"Eh-m, sulit mengatakan ini. Bagaimana jika aku menyukai lelaki bernama Sean itu?" Lea bertanya bodoh. Ia tengah meminta persetujuan.
Altair langsung menatap-nya tajam, "You're mine. Itu sudah perjanjian kita, jika kau memang menyukai-nya maka biarkan dia bertarung dengan-ku!"
"Dengan balapan bodoh itu?" tukas Lea menantang. "A-ah kau saja kemarin kalah, bagaimana mungkin kau bisa menang melawan-nya?" sindir Lea lagi.
"Itu kekalahan pertama ku. Kau tidak tahu apa-apa, Lea! Apakah dia membanggakan diri-nya kepada-mu?" balas Altair menyinggung, dia gusar.
"Dia mirip dengan-mu. Terlalu songong dan se-enaknya!" cerita Lea lagi.
"Kau benar-benar menyukai-nya? Aku pikir pacar-mu lelaki berkacamata itu!" jelas Altair meremehkan.
"Pietro maksud-mu? Heh, dia sahabat-ku!" teriak Lea tidak terima.
"Kau lebih cocok dengan-nya, dari pada Sean sialan itu!" rutuk Altair lagi. "Ralat, kau tidak cocok dengan siapa-pun," sambung-nya tidak suka.
"Kau terlihat marah sejak tadi. Kau cemburu?" tebak Lea langsung, ia menyunggingkan senyum-nya.
"Hanya saja, aku tidak suka seseorang yang ingin mengenal-ku membicarakan lelaki lain." Altair memperjelas itu.
Lea meneguk saliva-nya, berusaha memahami perkataan si-songong itu, namun detik selanjut-nya Lea terkekeh. Ia meminimasirkan jantung-nya yang tiba-tiba berdegup kencang. Lea mulai kehilangan kendali setiap Altair berkata hal-hal gila seperti tadi. Ish!
"Hmm--" akhir-nya Lea hanya bergumam kecil.
"Aku serius mengatakan-nya, jangan dekat dengan Sean. Aku tidak suka." Altair semakin memperjelas itu. Dengan Lea yang sudah mengangguk disana.
Kini bukan hanya jantung-nya yang memburu, gerutan merah juga timbul dikedua pipi Lea. Hell! Perasaan macam apa ini?
???