Tidak sepatut-nya ini menjadi sebuah tanya.
Dimana jawaban-nya saja sudah jelas dan seharus-nya.
Namun menentang semua itu, bagaimana meyakinkan lagi.
Jatuh cinta tak bisa kau tahan, meski kita tengah berusaha membantah-nya.
***
"Altair aku akan mencoba berjalan tanpa tongkat, kau berdiri disana nanti aku mendatangi-mu," jelas Lea ketika mereka berdua sudah sampai diapartemen.
Lea sudah mengganti baju-nya, dengan tanktop hitam dan celana jeans pendek sepaha. Altair masih duduk manis disofa, sejak tadi lelaki songong itu hanya merebahkan diri sambil memainkan ponsel-nya.

Mendengar perkataan Lea, Altair meletakkan handphone-nya. Jika sebelum-nya selepas pulang kuliah Altair akan melatih diri disirkuit, atau berkumpul dibasecamp bersama teman-temannya, kali ini berbeda.
Dua minggu belakangan ini, sejak kecelakaan konyol itu disinilah Altair menghabiskan waktu-nya. Pada apartemen milik wanita menyebalkan ini. Alair juga tidak tahu bagaimana ini terus terasa nyaman, tapi bersama Lea, Altair merasa hidup-nya kembali. Dia merasa menemukan ketenangan atas rasa gundah yang menyerang-nya bertahun-tahun lalu.
Altair tidak juga menolak, dia langsung berdiri disana. Dari kamar Lea yang hanya berjarak 5 meter dari sofa, wanita itu terlihat mengambil ancang-ancang untuk berjalan.
"Berhati-hatilah. Jika memang masih terasa sakit jangan bergaya untuk berjalan tanpa bantuan--" singgung Altair ketus.
Lea hanya mendengus sebelum mulai melangkah pelan. "Jangan menyumpahi-ku."
"Aku tidak menyumpah, aku hanya tidak ingin merawat-mu selama-nya!" ralat Altair cepat.
Lea tidak menghiraukan seruan itu, ia hanya terus berjalan pelan. Memang tubuh-nya kerap kali oleng, namun siapa sangka Lea mulai bisa berjalan sedikit demi sedikit. Senyum tersungging dibibir-nya, lega dan bahagia bercampur satu. Jika Lea terus berlatih seperti ini, ia tidak perlu lagi menggunakan tongkat sialan itu!
Sedikit lagi Lea akan sampai pada tubuh tegap yang sudah menunggu-nya disana, ia mendongak-kan kepala terlampau senang, ketika kaki-nya malah terhimpit dan Lea langsung oleng.
"A-a-a-a!" Lea berteriak.
Dengan sigap Altair langsung meraih tubuh itu, membuat-nya spontan memeluk Lea.

"Sudah kukatakan berhati-hatilah! Kenapa kau begitu keras kepala?" Altair berujar marah. Namun detik selanjut-nya dia sudah meletakkan Lea pada sofa dibelakang-nya.
Lea langsung menoleh untuk menatap wajah Altair, "Aku hanya lelah terus memakai tongkat,"
"Tapi jangan memaksa! Kau ingin kaki-mu semakin patah?!" kata-nya gusar.
"Jangan meneriaki-ku terus. Kau begitu menakutkan," rutuk Lea kemudian.
"Berhentilah membuat-ku khawatir!" Altair berujar malas. Mata-nya masih terus menatap tajam wanita mwnyebalkan itu.
"Ha-a?" jawab Lea terbata. Ia masih mencerna perkataan sisongong itu. Apa kata-nya? Khawatir? Hell. Yang benar saja.
"Sudahlah. Kau begitu bodoh!" timpal Altair kemudian.
"Ish! Kau yang bodoh!" kata Lea tidak mau kalah. Ia membalas tatapan Altair, seakan menantang lelaki itu. Tentu saja, Lea tidak akan menyerah.
"Kau dungu!" Kata Altair, dia juga tidak ingin kalah.
Membuat Lea malah terkekeh kemudian, meskipun keki perkataan Altair malah membuat-nya geli sendiri.
"Aku malas berdebat lagi. Lebih baik kau memasak sesuatu untuk-ku, aku sangat lapar," cerocos Lea, ia menampilkan wajah sedih.
"Lihat, kau sekarang sudah mulai kecanduan oleh masakan-ku." Altair berujar puas, dia menaikkan sebelah alis-nya.
Membuat Lea menggerutu, tapi memang benar, malam itu ketika Lea terbangun dan menemukan martabak mie telor diatas nakas-nya, ia benar-benar menikmati itu.
"Buatkan aku seperti yang waktu itu," Lea kini meminta penuh harap.
Altair tidak menjawab, dia hanya berdiri dan mulai melangkah kedapur. Lea tersenyum senang, dari duduk-nya ia dapat melihat Altair mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
Bahkan hanya menyaksikan si-songong itu dari duduk-nya, senyum Lea tak kunjung berhenti.
"Kenapa kau tidak mengambil jurusan tata boga saja?" ledek Lea ketika dilihat-nya Altair masih sibuk dengan perlengkapan-nya.
"Diamlah, kau mengganggu konsentrasi-ku!" tutur Altair garang. Dia sedang mengadon indomie dan juga telur dalam satu bagian. Tapi wanita menyebalkan itu tak kunjung menghentikan cerocosan-nya.
"Aku ingin melihat-mu masak, bisakah kau ambilkan tongkat-ku sebentar?" pinta Lea penuh harap, tadi ketika ia berlatih untuk berjalan, tongkat-nya Lea simpan didepan pintu kamar-nya. Lea benar-benar ingin melihat lelaki songong itu mengerjakan segala-nya, heran karena ternyata Altair begitu jago masak.
"Duduk saja dengan tenang. Aku tidak yakin kau hanya menonton-ku, kau pasti membuat dapur mu sendiri acak-acakan nanti-nya," Altair beralasan.
"Tidak masalah, ini apartemen ku huh!" Lea bersikeras.
Altair tidak menyahut lagi, dia mulai benar-benar fokus pada sesuatu yang dibuat-nya.
Tidak butuh waktu lama hingga Altair mulai menghidangkan martabak mie itu pada sebuah piring kaca, kemudian membawa sebotol saos sambal dan melangkah kesofa tempat wanita menyebalkan itu menunggu-nya.
"Lebih baik kau makan daripada berceloteh terus," singgung Altair seraya menyerahkan semua masakan-nya tepat didepan Lea.
Lea langsung melahap itu dengan penuh semangat. "He-ny-ak," ujar-nya masih dengan mulut dipenuhi makanan. "Enak! Kau jago sekali!" betul Lea ketika mulut-nya sudah tidak terlalu penuh.
Altair terkekeh sebelum menolak pelan kepala wanita menyebalkan dihadapan-nya ini. "Makan-lah pelan-pelan, semua itu untuk-mu dungu!"
Lea tidak menjawab, masih mengunyah martabak mie itu, ia menatap tajam Altair. Membuat Altair memalingkan wajah dan kembali memainkan handphone-nya.
"Kau tidak pulang?" tanya Lea ketika ia sudah menghabiskan separuh makanan-nya.
Altair menoleh, menghentikan tatapan-nya pada layar handphone-nya dan berganti menatap wanita menyebalkan itu dengan senyum jahil-nya.
Melihat tatapan itu Lea sudah tahu, ada yang tidak beres dari tatapan sisongong itu.
"Kalau aku pulang sekarang, aku tidak mendapatkan kiss dari-mu!" rutuk-nya geli.
Lea membulatkan mata. "Aku tidak akan mencium-mu lagi. Kenapa kau selalu memaksa!" timpal Lea tidak terima.
"Itu perjanjian, kau lupa?" jelas Altair mempertegas. Dia menyeringai penuh kemenangan. Membuat Lea menatap-nya gondok.
"Tidak perlu melakukan-nya setiap hari!" Lea masih memikirkan cara untuk menolak.
"Kenapa? Atau kita ganti menjadi setiap jam saja?" Altair menantang. Membuat Lea menggeram. Cepat Lea mendekatkan wajah-nya pada wajah si-songong itu, Altair tersenyum senang. Namun detik selanjut-nya dia mengaduh.
"Hei gila!" teriak Altair.
Lea tertawa puas, ia berhasil menghentak kening-nya pada kening Altair. Meskipun sakit, Lea tidak peduli. Ia hanya tidak ingin lelaki songong itu terus merasakan kemenangan-nya.
"Rasakan itu!" jawab Lea cepat, giliran ia yang tersenyum puas.
Altair masih menyentuh kening-nya yang terasa sakit. Tenaga wanita gila dihadapan-nya ini memang tidak main-main. Dia menggeleng tidak percaya, Altair pikir wanita menyebalkan itu akan memberikan kissing-nya. s**t, ketika Lea malah menghentakkan kedua kening mereka kuat.
"Kau!" gusar Altair kemudian.
Lea hanya menjulurkan lidah-nya. Mengejek Altair tanpa ampun. Ia tertawa puas.
"Jangan macam-macam dengan-ku!" ancam Lea disana.
Altair tidak tinggal diam, dia kemudian mengangkat tubuh Lea dan menduduki wanita menyebalkan itu diatas pangkuan-nya. Dengan cara yang pelan tentu saja, karena Altair masih memikirkan kaki wanita itu.

Lea tercekat detik itu juga, ia sudah berada tepat diatas lelaki songong ini. Aroma maskulin dari tubuh Altair mulai menggerogoti seluruh indra penciuman-nya, sekelabat pikiran kotor mulai meliar dan bermain-main dikepala-nya. Lea bisa saja mendorong atau-pun memukul lelaki itu dengan resiko ia akan jatuh karena kaki-nya belum kuat menopang lantai. Namun aneh-nya setiap kali Altair melakukan hal gitu itu, Lea seakan terpenjara. Tidak diberikan kekuatan untuk menolak atau melawan.
"Altair! Kau gi-la!" decak Lea gelagapan. Kini ia yang menggerutu marah.
"Bukan hanya aku. Kita berdua gila!" tutur Altair tidak mau kalah. Dia semakin mengeratkan pelukan-nya pada punggung Lea. Tidak memberi jeda antara tubuh-nya dan tubuh wanita menyebalkan itu. Membuat Altair dapat merasakan gairah wanita dihadapan-nya ini, menghilangkan degupan jantung-nya yang menggila Altair berpura-pura tenang. Padahal seluruh pikiran-nya kacau, Altair berusaha meyakinkan diri-nya lagi, aneh karena dulu dia tidak pernah seperti ini. Namun setiap kali berhadapan dengan Lea, ada yang berbeda. Seakan semua yang ada pada diri wanita itu adalah magnet yang terus-terusan membuat Altair tertarik ingin berada didekat-nya.
"Lepaskan aku! Letakkan aku kembali!" teriak Lea bertubi-tubi.
"Oke setelah ini!" sahur Altair seraya mulai menarik bibir Lea dengan cepat.
Seakan sentuhan dan tarikan yang dia berikan dapat membuat dunia-nya tenang. Membuat Altair melupakan seluruh bahaya yang tengah dilewati-nya, tanpa tahu bahwa semua itu hanya karena sentuhan dari wanita menyebalkan ini.
Lea terperanjat, lagi-lagi tidak melakukan penyangkalan, sebab jauh didasar hati-nya aroma maskulin dari tubuh Altair begitu candu dihidung-nya, bahkan hisapan bibir lelaki itu dibibir-nya terasa begitu penuh kasih sayang. Lembut dan juga nyaman. Hingga akhir-nya dalam lidah yang saling bertaut itu, Lea mulai memejamkan mata.
Bagaimana semua gairah yang Altair berikan membuat-nya lumpuh dan juga mati. Lea menikmati semua perlakuan gila itu.
"Cih. Bagaimana kau bisa menolak-nya disaat kau terlihat begitu menikmati-nya," ledek Altair ketika dia sudah menghentikan cumbuan-nya.
Lea langsung tersadar dan memukul d**a Altair cepat. Ia sudah dibuat malu bukan main.
Melihat wajah keki wanita itu Altair langsung menurunkan Lea, meletakkan wanita itu kembali dengan posisi yang sama.
"Kau sering melakukan itu?" tanya Lea akhir-nya. Ia berusaha sibuk memperbaiki perban dikaki-nya, mengalihkan pandangan karena jantung-nya sudah mulai tidak karuan.
Altair menaikkan sebelah alis-nya, "Melakukan apa?"
"Berciuman bodoh!" teriak Lea gusar.
"A-ah. Kalau aku mengatakan tidak pernah kecuali dengan-mu. Kau akan percaya?" ucap Altair geli.
Lea tertawa dibuat-nya, hanya sebentar ketika wajah-nya kembali terlihat garang. "Kau pikir aku bocah ingusan yang akan mempercayai itu?"
"Maka coba percaya saja!" sahut Altair puas.
"Kau tidak pernah melakukan-nya dengan mantan terakhir-mu?" Lea hati-hati menanyakan itu.
"Aku melakukan yang lebih daripada itu!" ucap Altair, dia menyeringai lagi.
Lea tengah berusaha mencerna semua itu, jawaban Altair mengarah pada surat yang ditemukan-nya bersama Dryna.
Benarkah? Altair kah pelaku-nya? Sejak awal Lea sudah tahu, tapi kenapa ia malah tidak takut sama sekali berhadapan dengan si songong itu? Seharus-nya Lea jaga jarak, seharus-nya Lea menolak mendekat. Namun segala-nya terbantah begitu saja, Lea mengabaikan fakta itu tanpa peduli, karena ternyata ia sudah merasa-nyaman.
Lea memang tidak sepenuh-nya percaya, namun jawaban dari Altair barusan membuat-nya berpikir keras lebih dari seharus-nya. s**t! Lea mengabaikan fakta bahwa lelaki dihadapan-nya ini begitu bahaya. Lebih bahaya dari yang difikirkan-nya.
Lantas dari semua itu, mungkin Lea sudah bersiap akan sekelabat bahaya yang menanti-nya. Dan rasa penasaran begitu membendung menyergap-nya, membuat Lea kehilangan akal sehat-nya sehingga sebuah perasaan konyol merasuki-nya secara tidak sopan.
"Ma-mak-sud mu?" tanya Lea gelagapan.
Altair mengedipkan sebelah mata-nya, "Jika aku sudah siap, aku akan menceritakan-nya."
"Ish! Kau penuh teka-teki!" rutuk Lea kesal.
"Kau juga!"
"Ini berbeda kasus-nya!" sanggah Lea tidak terima.
"Kalau gitu, katakan dulu bagaimana kau mengetahui aku seorang hm pe-makai narkoba?" tantang Altair disana. Dia bertanya hati-hati.
Dan benar saja, Lea langsung terdiam. Sebenar-nya tidak masalah menceritakan ini, namun ternyata Lea juga belum siap untuk memberitahukan Altair.
"See, kau bahkan tidak ingin mengatakan-nya. Sebaik-nya kita sama-sama menyimpan rahasia dengan baik Lea." ujar Altair akhir-nya.
"Aku hanya penasaran dengan mantan terakhir-mu." jawab Lea cepat. Berhubung pembahasan mereka masih menyangkut itu, Lea sedikit ingin membuka-nya.
"Tidak perlu. Dia sudah tidak ada." Altair menjawab malas.
Lea mengerutkan dahi, menatap lekat mata hazel lelaki songong itu, bagaimana mungkin rasa bersalah dan kesedihan pun tidak ada disana? Jika memang Altair pelaku-nya? Ini terlihat malah Altair tidak melakukan apa-apa. Hell! Benar-benar gila!
"Kemana dia?" tanya Lea berpura-pura.
"Hei, kenapa kau begitu ingin tahu. Kau sudah mulai mencintai-ku?" sindir Altair geli. Dia benar-benar tidak ingin membicarakan masa lalu pahit itu.
"Apa hubungan-nya? Dasar kau gila!" rutuk Lea gusar.
Altair terkekeh, benar-benar menikmati setiap perdebatan-nya dengan Lea. Bagaimana wanita itu menjawab setiap omongan-nya, bagaimana wanita itu menampilkan wajah masam-nya dan juga bagaimana wanita menyebalkan itu mampu membuat Altair betah berlama-lama disamping-nya.
"Siapa tahu kau sudah mulai mencintai-ku." kekeh Altair sambil mengedikkan kedua bahu-nya.
"Tidak mungkin. Aku tidak sudi mencintai lelaki songong seperti-mu!" Lea berujar sarkas.
Altair tersenyum kecut, sebenar-nya jawaban Lea sedikit melukai hati-nya. Namun tidak masalah karena wanita menyebalkan itu memang selalu menjawab-nya tanpa berpikir lebih dulu. Jadi, semaksimal mungkin Altair berusaha memahami-nya.
"Tidak masalah. Namun jika suatu saat nanti kau sudah mulai jatuh cinta padaku, berhati-hatilah." kata Altair, dia berdiri untuk mengambil minumam didapur.
Meninggalkan Lea yang kini malah menatap punggung Altair tanpa henti. Memikirkan omongan-nya tadi, apakah Altair tersinggung? Atau apakah lelaki itu sakit hati? Sialan, karena saat ini saja Lea sudah mulai mengasihani lelaki songong itu. Huh!
"Nih, minumlah. Sejak tadi kau hanya bercerocos panjang. Tidak haus memang-nya?" ledek Altair.
Lea langsung merampas gelas kaca itu dari tangan Altair, meminum cepat air putih itu dalam sekali tegukan. Menghempas kekhawatiran-nya mengenai lelaki itu tadi. Karena nyata-nya Altair masih saja, tetap songong!
"Pulang sana! Aku benar-benar akan darah tinggi jika terus berhadapan dengan-mu!" ujar Lea. Ia mengusir Altair secara tidak langsung, bukan karena apa, tapi hati-nya sudah mulai kacau.
"Berhentilah mengusir-ku. Setiap kali aku datang kau selalu menyuruh-ku pergi!" gusar Altair kemudian.
"Lagian kau selalu membuat-ku kesal!" gerutu Lea.
"Kau yang memintaku untuk bertanggung jawab. Aku sudah melakukan-nya untuk mengawasi-mu, tapi kau malah menyuruh-ku pergi!" kata-nya mempertegas, Altair sudah merubah posisi-nya menghadap Lea, dengan kedua kaki-nya bersela diatas sofa.
"Ish mari kita akhiri perdebatan hari ini. Aku ingin tertidur dikamar-ku. Ambilkan tongkat ku itu," pinta Lea setengah memaksa.
Altair menghembuskan nafas pertama, dia berdiri terlihat ingin beranjak, namun detik selanjut-nya dia sudah memapah Lea diatas gendongan-nya, membawa tubuh wanita menyebalkan itu memasuki kamar-nya.
Lea pikir sudah cukup perlakuan Altair yang tadi membuat-nya sempoyongan, sialan siapa sangka si-songong itu malah melakukan-nya lagi-lagi. Lea terperanjat entah untuk yang keberapa kali-nya.
"Aku tidak meminta-mu menggendong-ku!" rutuk Lea kesal. Ia membiarkan tangan-nya menjewer telinga Altair. Membalas perlakuan lelaki itu dulu, yang sempat menggigit telinga-nya.
Tapi Altair bukan-nya mengaduh, dia malah terkekeh melihat kekesalan diwajah Lea.
"Jika kau masih berisik, aku akan melempar-mu!" ancam-nya kemudian. Membuat Lea langsung membungkam mulut-nya. Hell, Lea percaya lelaki itu tidak main-main dengan omongan-nya.
Altair tersenyum puas melihat ancaman-nya berhasil, kemudian dia meletakkan Lea diatas ranjang-nya. Altair berbalik, mengambil tongkat wanita itu untuk kemudian menaruh-nya juga tepat disebelah nakas milik Lea.
"Aku pulang!" kata-nya seraya berbalik badan dan mulai melangkah pergi.
"Oke, berhati-hatilah." kata Lea, ia terus menatap kepergian Altair. Seakan tidak rela bahwa punggung kokoh itu semakin samar dan menjauh, hilang dari pandangan seiring pintu kamar Lea yang perlahan menutup.
Lea telah kembali larut dalam semua perasaan konyol-nya. Memaparkan ini, mungkinkah Lea harus takut kepada si-songong itu? Sementara setiap kali berada disamping-nya Lea malah seolah-olah dibuat tak berdaya?
Ish! Bagaimana Lea mampu mencari kebenaran-nya, jika perasaan-nya malah tak beraturan! Huh!
???