Langit telah berubah menjadi jingga saat Angga duduk di meja dekat kolam renang di rumahnya. Ia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja seraya tersenyum sinis saat mendengar notifikasi dari ponsel yang tak berhenti berbunyi sejak tadi. Angga sudah melihat beberapa notifikasi itu, ia sudah membacanya dan menggelengkan kepala sambil menatap dingin pada kekosongan di depannya. Angga mendengar suara langkah kaki terburu-buru mendekat ke arahnya. Ia berdiri untuk menyambut, tapi tiba-tiba tangan itu menamparnya kasar. Seperti dugaannya, Bima akan datang dan menamparnya atau membunuhnya sekalian. “Apa-apaan, Ga? Kenapa nggak bisa berhenti untuk bersikap kurang ajar, hah?” teriak Bima tepat di depan wajah Angga. Sementara Angga memegang pipinya yang terasa berdenyut perih. Tamparan, makian, d

