Seminggu kemudian. Langit jingga tampak indah di atas sana, tapi sama sekali tak ingin dinikmati Nindita. Ia menatap rumah dua tingkat dengan cat berwarna putih gading itu. Rumah yang sejak Angga kecil telah ditinggalinya bersama keluarga. Dulu, Nindita yang mengatur bunga-bunga di taman kecil itu. Ia yang menyiramnya setiap hari. Ia juga yang menutup pintu pagar ketika Bima sudah keluar bekerja. Nindita yang merapikan seluruh isi rumah itu, ia begitu akrab dengan setiap sudutnya. Keindahan-keindahan serta kenangan manis selalu ia lewatkan di sana. Hingga akhirnya di dalam rumah itu juga, ia menyesap rasa pahit yang melukai jiwa raganya. Dengan langkah pasti, ia membuka pintu pagar rumah itu. Nindita masuk dengan tenang. Sudah cukup ia menangis untuk semua yang terjadi. Sekarang waktun

