bc

Perjodohan yang tidak pernah diinginkan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
opposites attract
stepfather
blue collar
tragedy
substitute
like
intro-logo
Blurb

Remaja yang cantik, belia serta mandiri yang di katakan sukses di usia mudanya, tidak terbesit di pikiranya harus secepat ini mengalami pernikahan dengan seseorang yang tidak sama sekali dikenalnya dan tidak bisa menolak kenyataan itu

chap-preview
Free preview
BAB 1
Di pagi yang cerah mentari mulai menyinari, seorang remaja cantik belia serta mandiri yang dikatakan sukses di usia mudanya yang belum terbesit di pikirannya akan adanya pernikahan di waktu dekat dia adalah Desi dari keluarga Deandro keluarga yang kaya raya. *** "Des, bangun, sayang." ucap Ibu sembari menyibakkan selimut tebalku. "Hmm," jawab ku hanya dengan gumaman tidak jelas karena aku masih sangat mengantuk. "Ayo bangun dulu sayang, Ayah dan Ibu mau membicarakan hal penting dengan kamu. Bu tunggu di meja makan ya, Des." ucap Ibu sembari mengecup keningku lembut sebelum beranjak keluar dari kamarku. Aku kemudian bangun dan mengerjap-kerjapkan mataku sejenak untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarku. "Memangnya ada hal penting apa yang mau Ibu dan Ayah bicarakan? Entahlah, lebih baik aku cepat mandi dan turun ke bawah untuk menemui mereka." batinku penasaran. Dengan segera, aku bangun dan berjalan ke kamar mandi yang berada di dalam kamarku untuk melaksanakan ritual mandi pagiku. Setelah dua puluh menit aku berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhku, aku berjalan menuju walk in closet dan segera mengenakan dress selutut ku. Setelah selesai dengan pakaianku, aku mendudukkan diriku di depan meja rias ku untuk memoleskan sedikit make up di wajahku. Tak butuh waktu lama untukku untuk memoles wajahku, karena hari ini aku memang sedang tidak berniat untuk memakai make up bold. Setelah kurasa cukup dengan diriku, aku langsung turun ke bawah dan menuju meja makan untuk menemui Ibu dan Ayah yang sudah menungguku. "Pagi Bu, Yah, Zein." sapa ku pada mereka sambil mencium pipi mereka satu persatu. "Pagi sayang, duduklah." sapa ayah ku sambil menunjuk kursi kosong di hadapannya dengan dagu nya. Aku pun menuruti perkataan Ayah barusan dan langsung duduk di kursi hadapannya. Jujur saja, sebenarnya aku sangat penasaran dengan hal penting apa yang akan Ayah bicarakan padaku, karena belum pernah Ayah serius sampai seperti ini. "Sebelum makan, Ayah mau membicarakan hal penting yang berhubungan dengan kamu. Tapi kamu harus berjanji terlebih dahulu jika kamu tidak akan menyela perkataan Ayah sebelum Ayah selesai berbicara. Sebentar, Sayang?" ucap Ayah mulai membuka obrolan. "I promise, Ayah." jawabku menyetujui pertanyaan Ayah barusan yang lebih bisa dikatakan sebagai pernyataan. "Bagus. Jadi begini, sebenarnya Ayah and Ibu akan menjodohkan kamu dengan putra keluarga Dimitri karena sejak dahulu kami sudah berjanji untuk menikahkan keturunan kami kelak. Jika kamu bertanya kenapa bukan Zein yang akan kami jodohkan, jawabannya yaitu dikarenakan keturunan dari keluarga Dimitri semuanya adalah pria. Jadi, yang harus kami jodohkan adalah kamu, Sayang." Ayah menjeda penjelasannya sebentar seakan memberikan waktu sejenak kepada otakku agar bisa mencerna semua ucapannya yang terlalu mengejutkan ini. "Sebelumnya, Ayah minta maaf jika hal ini sangat mendadak dan terlalu mengejutkan untuk kamu. Tapi kamu tenang saja, Ayah tidak akan menikahkan putri kesayangan ayah dengan pria asal-asalan. Dia adalah Samuel William Dimitri, pewaris tunggal Dimitri International. Umurnya juga masih 27 tahun, hanya berbeda 2 tahun darimu. Dia pria baik-baik, ayah sudah menyelidiki semua tentang dia. Jadi, ayah harap kamu bisa menerima perjodohan ini dengan baik." ucap ayah melanjutkan penjelasan panjangnya yang kemudian sukses membuat bibirku menganga dengan sempurna. What the... Berita macam apa ini? "Apa?! Kenapa ayah dan ibu memutuskan keputusan sepihak seperti ini?! No! Desi tidak mau dijodohkan. Ayah, Ibu, aku bisa mencari pasanganku sendiri, sungguh." ucapku berusaha menolak dengan sedikit berteriak karena aku sudah tidak dapat menahan emosiku lagi saat ini. "Kami minta maaf sayang, ini memang sudah perjanjian antar dua keluarga dan janji harus ditepati. Sayang tenang saja, kalian berdua tidak akan langsung menikah. Kalian akan bertunangan terlebih dahulu, kemudian kalian akan saling mengenal selama 3 bulan kedepan, lalu selanjutnya baru pernikahan kalian akan digelar." ujar Ibu berusaha menenangkanku tapi tetap saja aku tidak bisa tenang. "What? Hanya 3 bulan, Bu?! Yang benar saja," Ucapku mulai frustasi. "Ingat, sayang, kamu tidak boleh menolak perjodohan ini, atau kamu akan ayah hapus dari daftar keluarga Deandro." Ucap ayah secara detail dan tegas-sangat tegas. "Oh God! Terserah ayah dan Ibu saja kalau begitu. Aku mau ke butik dulu Bu, Yah, ada urusan penting." Ucapku berusaha menghindar seraya bangkit dari dudukku. Aku sungguh tidak bisa berpikir jernih lagi saat ini, semuanya terlalu mengejutkan dan terlalu tiba-tiba. "Tapi kamu belum sarapan, sayang, nanti sakit. Sarapan dulu baru berangkat ke butik." ujar Ibu mencegahku. "No, Bu. Nanti aku sarapan di butik saja. Des berangkat dulu." Ucapku sambil mengecup pipi Ibu, ayah, dan Zein lalu berjalan meninggalkan meja makan dengan tergesa-gesa. "Hati-hati, Sayang." kata Zein agak berteriak yang hanya kubalas dengan anggukan tanpa menoleh ke arahnya. Mood ku benar-benar sedang berada di bawah saat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk melajukan mobil ku ke butik milikku. Tapi, saat sedang berada dalam kemacetan, aku merasa mobilku tiba-tiba bergerak maju dengan sendirinya padahal aku sama sekali tidak menginjak pedal gasnya. Hingga akhirnya aku tersadar jika mobilku ditabrak dari belakang. Shit! Apa lagi sekarang? Aku memutuskan untuk turun dan menghampiri mobil yang berada tepat di belakang mobilku -mobil yang telah menabrak mobilku. Knock knock Pengemudi itu tidak membuka kacanya, tapi dia membuka pintu mobil nya langsung sebelum kemudian muncullah pria tinggi besar dengan kacamata hitam yang bertengger apik di hidung mancungnya dan jangan lupakan setelan jas serta sepatu pantofel mengkilatnya saat keluar dari mobil itu. "Kau tau apa kesalahanmu?" Tanyaku dengan tatapan menusuk setelah mataku berhasil lepas dari pesonanya. "Ah, ya, maaf telah menabrak mobilmu, Miss." Ucapnya dengan santai. "Ha? Hanya seperti itu permintaan maaf mu?" Ucapku mulai geram. "Hm, sorry, Miss, aku sibuk dan sebentar lagi ada meeting penting. Maaf karena sudah menabrak mobil mu. Ini kartu nama ku, kau bisa datang untuk meminta ganti rugi kepada ku--kapanpun kau bisa." Ucapnya panjang lebar sebelum kembali masuk ke mobilnya dan langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Double s**t! Akhirnya aku memutuskan untuk menelefon pengawalku agar datang ke tempat di mana mobilku ditabrak untuk membawa mobilku, sedangkan aku memilih untuk memanggil taxi untuk melanjutkan perjalananku menuju butik. Setidaknya, hanya di butik aku bisa menghilangkan semua emosiku dengan melampiaskannya dengan mendesain gaun-gaun baru. Aku benar benar muak dengan hari ini! Setelah lima belas menit berada dalam perjalanan, akhirnya taxi yang aku tumpangi sampai di depan butik ku. Aku segera membayar taxi yang mengantarku itu sebelum akhirnya aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam butik. "Good morning, Des." sapa Dinda, karyawan yang menjaga butikku setiap hari, sekaligus teman baikku. "Morning, Din." sapa ku balik tetapi dengan muka yang tertunduk lesu. Sungguh, aku tidak memiliki mood yang bagus saat ini. "Kenapa wajahmu terlihat sangat murung? Apa ada masalah?" tanya Dinda mengkhawatirkan ku. "Sedikit." jawabku seadanya. "Kau boleh bercerita padaku jika kau mau, Des." balas Dinda kemudian. "Kau tau Din, aku dijodohkan. Dan lebih parahnya lagi, tadi mobilku ditabrak dengan pria sok tampan. Sial sekali aku hari ini?!" kataku bercerita dengan penuh emosi yang sejak tadi tertahan. "oh my God... DIJODOHKAN?! YANG BENAR SAJA?! DENGAN SIAPA?! APAKAH DIA TAMPAN?! KAYA?! ATAU SEJENISNYA?!" tanyanya tanpa henti. Ada apa dengan Dinda? "Ya, aku dijodohkan! Dijodohkan dengan Samuel Dimitri. Cih! Apa-apaan itu?!" jawabku dengan ekspresi paling teraniaya. "Are you kidding me, Des!? Kau dijodohkan dengan Samuel Dimitri?? CEO Dimitri International itu?! Oh my god, Des! Betapa beruntungnya dirimu! Jika aku jadi kau, aku tak akan menolak perjodohan ini dan pasti akan menerimanya dengan lapang dada!" katanya dengan wajah sumringah. Aku menatap Dinda dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Sungguh aku tidak percaya jika tanggapan Dinda akan seperti ini. Daripada mood ku bertambah buruk, lebih baik aku pergi menuju ruanganku dan langsung mendesain baju baju baru untuk meluapkan semua emosiku.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
35.9K
bc

The Lone Alpha

read
125.6K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
614.2K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.6K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
820.3K
bc

Bad Boy Biker

read
8.7K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook