BAB 1
Di pagi yang cerah mentari mulai menyinari, seorang remaja cantik belia serta mandiri yang dikatakan sukses di usia mudanya yang belum terbesit di pikirannya akan adanya pernikahan di waktu dekat dia adalah Desi dari keluarga Deandro keluarga yang kaya raya.
***
"Des, bangun, sayang." ucap Ibu sembari
menyibakkan selimut tebalku.
"Hmm," jawab ku hanya dengan gumaman
tidak jelas karena aku masih sangat
mengantuk.
"Ayo bangun dulu sayang, Ayah dan
Ibu mau membicarakan hal penting
dengan kamu. Bu tunggu di meja
makan ya, Des." ucap Ibu sembari
mengecup keningku lembut sebelum
beranjak keluar dari kamarku.
Aku kemudian bangun dan
mengerjap-kerjapkan mataku sejenak
untuk menyesuaikan cahaya matahari
yang masuk ke dalam kamarku.
"Memangnya ada hal penting apa yang mau
Ibu dan Ayah bicarakan? Entahlah,
lebih baik aku cepat mandi dan turun ke
bawah untuk menemui mereka." batinku
penasaran.
Dengan segera, aku bangun dan berjalan
ke kamar mandi yang berada di dalam
kamarku untuk melaksanakan ritual
mandi pagiku. Setelah dua puluh menit
aku berada di dalam kamar mandi
untuk membersihkan tubuhku, aku
berjalan menuju walk in closet dan segera
mengenakan dress selutut ku.
Setelah selesai dengan pakaianku, aku
mendudukkan diriku di depan meja rias
ku untuk memoleskan sedikit make up di
wajahku. Tak butuh waktu lama untukku
untuk memoles wajahku, karena hari ini
aku memang sedang tidak berniat untuk
memakai make up bold. Setelah kurasa
cukup dengan diriku, aku langsung turun
ke bawah dan menuju meja makan untuk
menemui Ibu dan Ayah yang sudah
menungguku.
"Pagi Bu, Yah, Zein." sapa ku pada
mereka sambil mencium pipi mereka
satu persatu.
"Pagi sayang, duduklah." sapa ayah
ku sambil menunjuk kursi kosong di
hadapannya dengan dagu nya.
Aku pun menuruti perkataan Ayah
barusan dan langsung duduk di kursi
hadapannya. Jujur saja, sebenarnya aku
sangat penasaran dengan hal penting apa
yang akan Ayah bicarakan padaku,
karena belum pernah Ayah serius sampai
seperti ini.
"Sebelum makan, Ayah mau
membicarakan hal penting yang
berhubungan dengan kamu. Tapi kamu
harus berjanji terlebih dahulu jika kamu tidak akan menyela perkataan Ayah
sebelum Ayah selesai berbicara. Sebentar,
Sayang?" ucap Ayah mulai membuka
obrolan.
"I promise, Ayah." jawabku menyetujui
pertanyaan Ayah barusan yang lebih bisa
dikatakan sebagai pernyataan.
"Bagus. Jadi begini, sebenarnya Ayah and
Ibu akan menjodohkan kamu dengan
putra keluarga Dimitri karena sejak dahulu
kami sudah berjanji untuk menikahkan
keturunan kami kelak. Jika kamu bertanya
kenapa bukan Zein yang akan kami
jodohkan, jawabannya yaitu dikarenakan
keturunan dari keluarga Dimitri semuanya
adalah pria. Jadi, yang harus kami
jodohkan adalah kamu, Sayang." Ayah
menjeda penjelasannya sebentar seakan
memberikan waktu sejenak kepada otakku
agar bisa mencerna semua ucapannya
yang terlalu mengejutkan ini.
"Sebelumnya, Ayah minta maaf jika
hal ini sangat mendadak dan terlalu
mengejutkan untuk kamu. Tapi kamu
tenang saja, Ayah tidak akan menikahkan
putri kesayangan ayah dengan pria
asal-asalan. Dia adalah Samuel William
Dimitri, pewaris tunggal Dimitri
International. Umurnya juga masih 27
tahun, hanya berbeda 2 tahun darimu. Dia pria baik-baik, ayah sudah menyelidiki
semua tentang dia. Jadi, ayah harap kamu
bisa menerima perjodohan ini dengan
baik." ucap ayah melanjutkan penjelasan
panjangnya yang kemudian sukses
membuat bibirku menganga dengan
sempurna.
What the... Berita macam apa ini?
"Apa?! Kenapa ayah dan ibu
memutuskan keputusan sepihak seperti
ini?! No! Desi tidak mau dijodohkan. Ayah,
Ibu, aku bisa mencari pasanganku
sendiri, sungguh." ucapku berusaha
menolak dengan sedikit berteriak karena
aku sudah tidak dapat menahan emosiku
lagi saat ini.
"Kami minta maaf sayang, ini memang
sudah perjanjian antar dua keluarga dan
janji harus ditepati. Sayang tenang saja, kalian
berdua tidak akan langsung menikah.
Kalian akan bertunangan terlebih dahulu,
kemudian kalian akan saling mengenal
selama 3 bulan kedepan, lalu selanjutnya
baru pernikahan kalian akan digelar." ujar
Ibu berusaha menenangkanku tapi
tetap saja aku tidak bisa tenang.
"What? Hanya 3 bulan, Bu?! Yang
benar saja," Ucapku mulai frustasi. "Ingat, sayang, kamu tidak boleh menolak
perjodohan ini, atau kamu akan ayah
hapus dari daftar keluarga Deandro." Ucap
ayah secara detail dan tegas-sangat
tegas.
"Oh God! Terserah ayah dan Ibu saja
kalau begitu. Aku mau ke butik dulu
Bu, Yah, ada urusan penting." Ucapku
berusaha menghindar seraya bangkit dari
dudukku.
Aku sungguh tidak bisa berpikir jernih lagi
saat ini, semuanya terlalu mengejutkan
dan terlalu tiba-tiba.
"Tapi kamu belum sarapan, sayang, nanti sakit.
Sarapan dulu baru berangkat ke butik."
ujar Ibu mencegahku.
"No, Bu. Nanti aku sarapan di butik
saja. Des berangkat dulu." Ucapku sambil
mengecup pipi Ibu, ayah, dan Zein
lalu berjalan meninggalkan meja makan
dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati, Sayang." kata Zein agak
berteriak yang hanya kubalas dengan
anggukan tanpa menoleh ke arahnya.
Mood ku benar-benar sedang berada di
bawah saat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk
melajukan mobil ku ke butik milikku. Tapi,
saat sedang berada dalam kemacetan,
aku merasa mobilku tiba-tiba bergerak
maju dengan sendirinya padahal aku
sama sekali tidak menginjak pedal gasnya.
Hingga akhirnya aku tersadar jika mobilku
ditabrak dari belakang.
Shit! Apa lagi sekarang?
Aku memutuskan untuk turun dan
menghampiri mobil yang berada tepat
di belakang mobilku -mobil yang telah
menabrak mobilku.
Knock knock
Pengemudi itu tidak membuka kacanya,
tapi dia membuka pintu mobil nya
langsung sebelum kemudian muncullah
pria tinggi besar dengan kacamata
hitam yang bertengger apik di hidung
mancungnya dan jangan lupakan setelan
jas serta sepatu pantofel mengkilatnya saat
keluar dari mobil itu.
"Kau tau apa kesalahanmu?" Tanyaku
dengan tatapan menusuk setelah mataku
berhasil lepas dari pesonanya.
"Ah, ya, maaf telah menabrak mobilmu,
Miss." Ucapnya dengan santai. "Ha? Hanya seperti itu permintaan maaf
mu?" Ucapku mulai geram.
"Hm, sorry, Miss, aku sibuk dan sebentar
lagi ada meeting penting. Maaf karena
sudah menabrak mobil mu. Ini kartu nama
ku, kau bisa datang untuk meminta ganti
rugi kepada ku--kapanpun kau bisa."
Ucapnya panjang lebar sebelum kembali
masuk ke mobilnya dan langsung pergi
meninggalkanku begitu saja.
Double s**t!
Akhirnya aku memutuskan untuk
menelefon pengawalku agar datang ke
tempat di mana mobilku ditabrak untuk
membawa mobilku, sedangkan aku
memilih untuk memanggil taxi untuk
melanjutkan perjalananku menuju butik.
Setidaknya, hanya di butik aku bisa
menghilangkan semua emosiku dengan
melampiaskannya dengan mendesain
gaun-gaun baru.
Aku benar benar muak dengan hari ini!
Setelah lima belas menit berada dalam
perjalanan, akhirnya taxi yang aku
tumpangi sampai di depan butik ku. Aku
segera membayar taxi yang mengantarku itu sebelum akhirnya aku melangkahkan
kakiku untuk masuk ke dalam butik.
"Good morning, Des." sapa Dinda, karyawan
yang menjaga butikku setiap hari,
sekaligus teman baikku.
"Morning, Din." sapa ku balik tetapi dengan
muka yang tertunduk lesu. Sungguh, aku
tidak memiliki mood yang bagus saat ini.
"Kenapa wajahmu terlihat sangat
murung? Apa ada masalah?" tanya Dinda
mengkhawatirkan ku.
"Sedikit." jawabku seadanya.
"Kau boleh bercerita padaku jika kau mau,
Des." balas Dinda kemudian.
"Kau tau Din, aku dijodohkan. Dan lebih
parahnya lagi, tadi mobilku ditabrak
dengan pria sok tampan. Sial sekali
aku hari ini?!" kataku bercerita dengan
penuh emosi yang sejak tadi tertahan.
"oh my God... DIJODOHKAN?! YANG BENAR
SAJA?! DENGAN SIAPA?! APAKAH DIA
TAMPAN?! KAYA?! ATAU SEJENISNYA?!"
tanyanya tanpa henti.
Ada apa dengan Dinda? "Ya, aku dijodohkan! Dijodohkan
dengan Samuel Dimitri. Cih! Apa-apaan
itu?!" jawabku dengan ekspresi paling
teraniaya.
"Are you kidding me, Des!? Kau dijodohkan
dengan Samuel Dimitri?? CEO Dimitri
International itu?! Oh my god, Des! Betapa
beruntungnya dirimu! Jika aku jadi kau,
aku tak akan menolak perjodohan ini dan
pasti akan menerimanya dengan lapang
dada!" katanya dengan wajah sumringah.
Aku menatap Dinda dengan tatapan yang
tidak dapat diartikan. Sungguh aku tidak
percaya jika tanggapan Dinda akan seperti
ini. Daripada mood ku bertambah buruk,
lebih baik aku pergi menuju ruanganku
dan langsung mendesain baju baju baru
untuk meluapkan semua emosiku.