"Sya, kenapa teriak-teriak?" Tanya Juna dari belakang Sasya.
"Nggak papa, Bang. Kak Riki iseng, bercanda, hehe..." Jawab Saaya.
Juna menatap Riki dan Sasya bergantian.
"Hm, Bang. Sasya langsung pulang ke Bandung, ya?" Kata Sasya.
"Sekarang? Nggak capek?"
"Nggak, Bang. Takut kemaleman, nanti nggak ada bus." Jawab Sasya. Lalu mengedipkan satu matanya pada Riki, memberi kode agar Riki bicara.
Riki yang paham maksud Sasya langsung bicara.
"Biar bareng gue aja Sasya nya. Kebetulan hari ini gue harus balik ke Bandung juga." Kata Riki. Sasya pun tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu, Sya. Mumpung ada barengannya, daripada kamu sendirian naik bus." Kata Juna.
"Iya, Bang. Kalau begitu Sasya siap-siap dulu." Kata Sasya langsung berjalan ke kamarnya mengambil barang-barangnya.
Sasya dan Riki sampai di halte dekat rumah Sasya. Riki menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Sasya melepas sabuk pengamannya.
"Makasih ya, Kak. Aku turun dulu. Kakak bisa langsung pulang." Kata Sasya lalu membuka pintu mobil.
"Tunggu disini saja, haltenya ramai." Cegah Riki.
"Nggak papa, Kak. Aku tunggu disebelah halte saja." Jawab Sasya.
"Tunggu disini atau perjanjian batal." Ancam Riki.
Sasya akhirnya mengalah. Dia pun menutup kembali pintu mobil
.
Suasana hening. Sasya mengambil ponsel dari sakunya. Lalu mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Riki duduk menyandarkan tangannya di kaca pintu untuk menopang kepalanya. Tak lama hujan turun.
"Kamu mencintai dia?" Tanya Riki tiba-tiba memecah keheningan.
Sasya menoleh pada Riki yang masih menatap ke depan.
"Hm?" Tanya Sasya.
"Dafa?" Riki memperjelas pertanyaannya, lalu menatap pada Sasya. Gantian Sasya yang menatap ke depan.
"Iya. Aku mencintainya." Jawab Sasya tanpa ragu.
Riki mangangguk-anggukan kepalanya.
"Meskipun dia sering menyakiti kamu?" Tanya Riki lagi.
"Meskipun dia sering manyakiti aku, tapi aku tetap tidak bisa meninggalkan dia." Jawab Sasya lagi.
Riki pun mengangguk-anggukan kepalanya lagi. Suasana kembali hening.
Tak lama datanglah mobil yang Sasya kenal. Lalu Sasya mengetik sesuatu di layar ponselnya. Sasya mengambil tas nya dan bersiap turun.
"Tunggu disini." Riki menahan tangan Sasya. Belum sempat Sasya protes, Riki mengambil payung dari belakang. Riki membuka pintu mobil lalu keluar dan berjalan menggunakan payung. Dia berjalan ke arah pintu Sasya dan membukanya.
Sasya turun dan merapatkan tubuhnya pada Riki mereka lalu berjalan di bawah payung yang sama menuju mobil yang terparkir di depan mobil Riki.
Saat sampai di mobil yang dituju, Dafa yang juga memakai payung turun dari mobil.
Riki lalu menyerahkan Sasya pada Dafa tanpa membiarkan Sasya basah sedikitpun. Saat Sasya sudah berada di bawah payung bersama Dafa, diapun pamit.
"Sudah kan?" Tanya Riki.
Sasya mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih ya, Kak." Kata Sasya.
"Hm." Jawab Riki singkat.
"Makasih ya, Bang, sudah antar Sasya. Kami pamit duluan." Kata Dafa.
Riki mengangguk.
Dafa lalu memayungi Sasya sampai sasya masuk ke mobil. Setelah itu Dafa berjalan ke pintu kemudi. Saat hendak masuk ke mobil, Dafa tersenyum dan menundukkan kepalanya pada Riki yang masih berdiri di belakang mobil Dafa. Riki mengangguk. Lalu Dafa pun masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.
Setelah mobil Dafa melaju, Riki lalu masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya pulang.
Di mobil, Dafa memberikan handuk ada Sasya.
"Nggak basah kok." Kata Sasya.
"Oya? Syukurlah kamu nggak kehujanan." Kata Dafa lalu melempar handuk itu ke kursi belakang.
"Kok cepat? Katanya sampai malam?" Tanya Sasya.
"Iya, jadwal manggungnya diubah, kita nggak jadi tampil yang terakhir. Jadi selesai tampil tadi langsung pulang."
"Terus mobilnya nggak diapakai?"
"Iya, makanya aku pinjam untuk antar kamu pulang." Jawab Dafa sambil tersenyum ada Sasya.
Dafa mengambil tangan Sasya lalu menggenggamnya.
"Maafin aku ya, selalu buat kamu sedih."
"Aku memang sedih, tapi entah kenapa aku selalu maafin kamu kalau kamu sudah minta maaf." Jawab Sasya.
"Itu berarti kamu percaya sama aku. Aku memang nggak ngapa-ngapain kok. Aku nggak punya waktu buat selingkuh, Sya. Bunda dan adik-adikku masih butuh aku." Kata Dafa.
"Iya, aku tahu." Jawab Sasya.
"Kamu maafin aku kan?" Tanya Dafa lagi.
"He em." Jawab Sasya singkat.
"Makasih sayang." Dafa lalu mencium tangan Sasya.
"Ngomong-ngomong aku lapar " kata Sasya.
"Kita makan di tempat biasa mau?" Tanya Dafa.
Sasya tersenyum lebar dan mengangguk dengan semangat. Dafa mencubit pelan pipi Sasya karena gemas
10 menit kemudian mereka sampai di warung pecel lele di pinggir jalan. Hujan sudah reda. Sasya dan Dafa lalu turun dari mobil dan masuk ke warung tenda itu.
"Akhirnya pasangan favorit gue datang juga, setelah sekian purnama nggak kelihatan." Kata seseorang di balik meja penjual.
"Bang Eki. Sehat, Bang?" Sapa Dafa sambil mangajak orang itu tos.
"Sehat dong. Kalau nggak sehat nggak bisa jualan kan?" Jawab Bang Eki.
"Syukurlah kalau sehat. Biasa ya, Bang."
"Siap boskuh." Jawab Bang Eki lalu bersiap menggoreng pesanan Dafa dan Sasya.
Dafa dan Sasya memilih tempat duduk lesehan. Tempat yang biasa mereka duduki saat makan di warung Bang Eki ini.
"Eh, kemarin kata bunda ketemu kamu ya di supermarket?" Tanya Dafa.
Sasya yang sedang mengelap meja dengan tisu terkejut.
"Iya. Sama Raisa sama Maura." Jawab Sasya.
"Kamu habis belanja juga?"
"Iya, belanja bahan makanan buat nginap di villa."
"Ooh. Sama cowok? Kemarin kata Bunda siapa namanya..." Dafa memutar bola matanya berusah mengingat. "Riki?" Tanya Rafa setelah berhasil mengingat.
"Iya, Kak Riki. Temannya Bang Juna."
"Yang tadi?"
"Iya. Aku yang minta anterin dia. Biar Bang Juna nggak curiga kalau aku pulang sama kamu." Jawab Sasya.
"Bang Juna masih nggak suka ya sama aku? Apalagi setelah masalah kemarin." Dafa menundukkan kepalanya.
"Kamu tenang saja, aku akan coba yakinin Bang Juna lagi." Kata sasya sambil memegang tangan Dafa.
Dafa tersenyum pada Sasya.
"Iya, lagian kita sudah janji kan, kita akan hadapi sama-sama. Kalaupun Bang Juna tetap nggak bolehin kamu pacaran sama aku, aku nggak akan nyerah gitu aja. Aku akan buktikan ke dia." Kata Dafa sambil mengepalkan tangannya ke udara.
"Buktikan apa?" Tanya Sasya.
"Buktikan kalau aku laki-laki yang pantas buat kamu." Jawab Dafa. Lalu dia pun tertawa.
Sasya ikut tertawa, lalu mencubit ujung hidung Dafa.
"Bisa aja Mas Dafa." Goda Sasya.
"Ehem-ehem. Yang lagi kangen-kangenan. Jangan mesra-mesraan disini dong, lihat tuh, banyak jomblo." Kata Bang Eki yang sudah bardiri di tempat mereka membawa pesanan Dafa dan Sasya.
" Ya elah, Bang. Salah sendiri, siapa suruh mereka jomblo." Kata Dafa sambil menerima piring dari tangan Bang Eki.
"Iya ya. Salah siapa coba? Ya sudah met makan yee..." Kata Bang Eki.
"Makasih, Bang." Jawab Sasya dan Dafa bersamaan.
Sementata Riki masih menyetir di jalan. Entah kenapa dia masih terngiang-ngiang jawaban Sasya tadi.
"Alu mencintainya. Meskpun dia sering menyakiti aku."