Melepas Rindu

1079 Words
Riki masuk ke rumah dengan langkah gontai. Di ruang tengah dia melihat Papanya yang sedang duduk di lantai sofa sambil membaca majalah. "Riki, tumben masih sore sudah pulang ke rumah." Sapa Papa Riki menggoda anaknya. Riki melirik jam di tangannya, pukul 7 malam. "Iya, Pa. Pulang dari villa siang tadi." Jawab Riki yang kemudian duduk di sebelah Papanya. "Gimana villa kamu? Sudah beres?" "Sudah, Pa. Sudah mulai bisa disewakan." "Baguslah." Jawab Papa Riki kemudian menutup majalahnya. "Oya, mumpung ketemu kamu, Papa mau ajak kamu ketemu teman lama Papa besok siang di Hotel." "Teman lama?" Tanya Riki. "Ada teman lama Papa, dia mau kerjasama dengan Hotel kita di Bali." "Bali?" "Iya, dia mau mendatangkan band dari luar negeri untuk konser di Bali, dan akan memakai Hotel kita untuk akomodasi dan penginapan artis itu." "Ooh, ya oke, Pa. Aku akan luangkan waktu besok." "Makasih, Nak." "Ya, Pa. Ya sudah aku ke kamar dulu ya, Pa. Mau mandi terus istirahat." Pamit Riki. "Ya, Rik. Istirahat sana." Jawab Papa Riki. Sampai di kamar Riki langsung merebahkan diri di kasur, padahal tadi dia pamit pada Papanya mandi dulu baru istirahat. Saat ini pikirannya sedang melayang entah kemana. Sekilas, dia mengingat saat di villa, saat Sasya jatuh dia atas tubuhnya. Dan juga pada saat Sasya memeluknya dari belakang karena ketakutan. Tetapi sesaat kemudian senyumnya hilang, saat mengingat Sasya sedang bersama laki-laki lain, yang tak lain adalah pacarnya. Dan saat Sasya mengatakan bahwa dia mencintai laki-laki itu. Dalam hitungan menit, dia sudah sampai di alam mimpinya. Sasya dan Dafa telah sampai di Bandung. Dafa mengantar Sasya sampai di depan kamarnya. Sasya membuka pintu kamarnya. Dafa membantu membawakan tas Sasya. "Sudah sampai. Kamu langsung istirahat ya, besok kan kamu harus kerja." Kata Dafa. "Kamu mau langsung pulang?" Tanya Sasya. "Iya, aku harus langsung balik ke Jakarta." Jawab Dafa. Sasya mengambil kedua tangan Dafa. "Aku masih pengen sama kamu." Kata Sasya dengan manja. Dafa menarik tubuh Sasya ke dalam pelukannya. "Aku juga masih pengen sama kamu. Aku masih kangen banget sama kamu." Kata Dafa sambil mengusap punggung Sasya. Sasya menenggelamkan wajahnya di d**a Dafa. Mereka berpelukan selama beberapa menit, meluapkan seluruh kerinduan mereka. Dafa mengurai pelukannya, lalu merangkup wajah Sasya dengan kedua tangannya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sasya, bibir mereka hampir menyatu, tapi tiba-tiba Dafa menjauhkan wajahnya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri. "Kenapa?" Sasya bingung. "Nggak ada CCTV kan?" Tanya Dafa. Sasya tersenyum, lalu dia menempelkan bibirnya lebih dulu di bibir Dafa. Tanpa menunggu lama, Dafa pun langsung menyambutnya. Tak sampai 1 menit, Sasya melepaskan ciumannya. "Sebentar saja." Kata Sasya. Lalu Sasya dan Dafa tertawa bersama. Sasya mengantar Dafa sampai ke mobil sambil menggandeng lengan Dafa. "Sudah, aku mau masuk mobil." Kata Dafa saat sampai di depan mobil. "Hati-hati, ya." Kata Sasya. "Iya, tapi kamu harus lepasin aku dulu, biar aku bisa masuk mobil." Kata Dafa melirik tangannya yang masih digelayuti Sasya. "Hehe, kayaknya susah deh lepasinnya." Kata Sasya. "Oya?" Dafa menundukkan kepalanya hingga tepat di depan wajah Sasya. "Apa aku nggak usah pulang aja? Tidur di kamar kamu?" Goda Dafa. Sasya mengangguk dengan semangat dan tersenyum lebar. "Aku maunya juga gitu, tapi nanti digebrek warga." Bisik Dafa. Lalu tertawa melihat wajah Sasya yang langsung cemberut. "Iya deh. Ya sudah sana." Kata Sasya lalu melepaskan tangannya dari lengan Dafa. "Beneran? Ikhlas?" Dafa menaikan kedua alisnya. "Bener, usdah sana. Keburu aku tarik kamu lagi ke kamarku." Ancam Sasya. "Haha, iya, iya. Ya sudah, aku pulang ya, sayang." Pamit Dafa lalu mencium kening Sasya. "Hati-hati, ya. Langsung pulang, jangan mampir kemana-mana." "Siap, bos." Kata Dafa sambil ménaiki mobilnya. Lalu dia membuka kaca mobil. "Telepon aku kalau sudah sampai." Kata Sasya lagi. "Iyà, sayang. Aku jalan ya." Dafa melambaikan tangannya. Begitupun Sasya. Pagi hari di kantor Riki. Baru saja dia memasuki ruangannya, ponselnya berbunyi ada pesan masuk. "Janga lupa luangkan waktu untuk makan siang bersama teman Papa ya, Nak." Hampir saja Riki melupakan janjinya dengan Papanya semalam. "Oke, Pa." Balas Riki. Riki lalu menghabiskan waktunya dengan menyibukkan diri dengan pekerjaanya, agar bisa melupakan wajah Sasya yang terus membayanginya. Akhirnya waktu makan siang pun tiba. Riki berjalan ke restoran hotel untuk memenuhi janjinya dengan Papanya. Dari jauh dia sudah bisa melihat Papanya yang sedang duduk di salah satu meja bersama seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Papanya itu. Riki lalu menghampirinya. "Pa." Sapa Riki. "Eh, Riki sudah datang. Kenalin ini Om Ridwan." Kata Papa Riki mengenalkan temannya pada Riki. "Halo, Om." Riki mengulurkan tangannya pada Pak Ridwan. "Halo Riki. Kamu persis banget sama Papa kamu waktu masih muda, ganteng. Pasti banyak cewek yang naksir ya?" Kata Pak Ridwan. "Hehe, Om bisa saja. Pasti lebih ganteng Papa lah daripada aku." Jawab Riki. "Ah, nggak deh, gantengan kamu." Kata Pak Ridwan lagi. "Sama lah, kan keturunan. Cuma bedanya aku setia pada satu wanita, kalau dia, setia pada banyak wanita, hahaha." Kata Papa Riki tidak mau kalah. "Hahaha..." Ketiganya tertawa bersama. "Ayo duduk, kita ngobrol sambil makan saja." Ajak Papa Riki. Merekapun duduk bersama. "Oya, Rid? Gimana kemarin?" Jadi artis kamu menginap di hotel kami di Bali?" "Jadi, sudah fix artis dan waktunya. Sekarang tinggal bahas akomodasi dan penginapan sama kamu, sekalian temu kangen, sudah lama kan kita nggak ketemu." Jawab Pak Ridwan. "Iya, lama banget. Kalau masalah penginapan nanti kita bahas lagi dengan PR kita, karena mereka yang lebih paham. Sekarang kita makan dulu sambil cerita-cerita." Kata Papa Riki. "Iya deh. Oya, nanti anakku mau nyusul kesini. Nggak papa kan ikut gabung?" Tanya Pak Ridwan. "Nggak papa lah. Aku juga pengen ketemu sama anak kamu, ganteng juga ga kayak kamu." Kata Papa Riki. "Nggak gantenglah, orang anakku cewek." Jawab Pak Ridawan hingga membuat ketiganya lalu tertawa. "Baguslah. Siapa tahu jodoh anak kita." Kata Papa Riki lagi. "Oya, anak Om katanya kenal sama kamu, Rik. Waktu Om bilang mau makan siang di hotel ini, dia langsung mau nyusul, katanya yang punya hotel temen dia, berarti kamu kan?" "Oya? Namanya siapa, Om?" Tanya Riki. "Eh, itu dia anaknya. Cepat sekali sudah sampai saja." Kata Pak Ridwan sambil menunjuk seorang gadis yang sedang berjalan ke arah mereka. "Sheila?" Riki terperanjat. "Hai, Pa." Sapa Sheila lalu mencium pipi Papanya. "Halo, sayang. Kenalin, ini teman Papa, Om Surya." Sheila mengulurkan tangannya pada Papa Riki. "Sheila Om." Papa Riki menyambut uluran tangan Sheila. "Jadi Sheila kenal sama anak Om ya?" Tanya Papa Riki. "Iya, Om." Jawab Sheila. "Teman apa, Rik?" Tanya Papa Riki pada Riki. "Hm, ya teman saja, Pa." Jawab Riki sambil menggaruk tengkuknya. Dia sendiri lupa bagaimana dia bisa bertemu dan mengenal Sheila sampai sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD