Menghadapi Sheila

1018 Words
Riki dan Sheila bersama papa mereka sekarang sedang makan siang bersama. Pak Ridwan dan Papa Riki tidak berhenti membicarakan tentang masa muda mereka, yang ternyata mereka adalah teman kuliah dan bertemu secara tidak sengaja, padahal mereka beda jurusan, namun karena kesamaan hobi mereka, yaitu main musik, mereka jadi berteman baik, bahkan sampai sekarang. Setelah 1 jam berbincang, Pak Ridwan pamit karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. "Terimakasih ya, Sur, atas waktu kamu." Pamit Pak Ridwan. "Sama-sama. Aku juga senang sekali kita bisa ketemu lagi, sudah setahun lebih ya kita nggak ketemu." "Benar, apalagi sekarang anak kita juga saling ketemu, dan ternyata sudah saling kenal." "Iya, semoga kita bisa ketemu lagi, ya." Kata Papa Riki. "Oya, Pa. Sheila disini dulu ya, masih mau ngobrol sama Riki." Kata Sheila mencuri kesempatan. "Ya, asalkan Riki nggak sibuk, jangan sampai ganggu kerjaan Riki." Jawab Pak Ridwan. "Kamu nggak sibuk kan, Rik?" Tanya Sheila. "Eem, enggak kok." Jawab Riki dengan terpaksa. Karena dia tidak mungkin menolak dihadapan Papanya Sheila, dan dia yakin Sheila tahu itu. "Ya sudah kalau begitu, Papa duluan. Riki, Om pamit dulu ya." "Iya, Om. Merekapun berpisah. Pak Ridwan kembali ke kantornya, Papa Riki kembali ke ruangannya, sedangkan Riki membawa Sheila ke ruangannya. "Kamu mau ngomong apa? Aku masih banyak pekerjaan." Tanya Riki dengan sinis. "Tadi kamu bilang nggak sibuk." "Sudah cepat. Kamu cuma punya waktu 10 menit." Tegas Riki. Sheila lalu mendekati Riki dan memeluk Riki dengan tiba-tiba. "Sheila, apa-apaan sih kamu?" Kata Riki lalu melepas pelukan Sheila. "Katanya 10 menit. Daripada buat ngobrol mending buat peluk kamu." "Sheila, Ini kantor ya." "Berarti kalau nggak di kantor boleh?" tanya Sheila. "Nggak juga." "Ya sudah deh, kali ini aku nurut, tapi besok, aku pastikan kamu nggak bisa nolak aku." Kata Sheila dengan percaya diri. "Jangan coba-coba ya kamu memanfaatkan orangtua kita." Ancam Riki. "Bye, sayang." Sheila melambaikan tangannya pada Riki tanpa menhiraukan peringatan Riki, lalu dia keluar dari ruangan Riki dengan tersenyum. Sabtu, pukul 2 siang, Riki sudah mulai gelisah. Harusnya sejak pagi tadi dia sudah berangkat ke Bandung, tapi tiba-tiba saja dia diminta Papanya untuk menggantikannya memimpin rapat dengan para staff untuk penilaian akhir bulan, karena Papanya sedang tidak enak badan. Padahal tadi malam dia sudah meminta Sasya untuk menemaninya jalan-jalan sore nanti sebagai balasan karena dia sudah membantu Sasya minggu kemarin, untuk bertemu dengan Dafa di belakang Juna. Sasya pun dengan terpaksa menerima ajakan Riki karena dia ingin segera melunasi hutang janjinya pada Riki. Riki terus melirik jam di tangannya. Dia bahkan tidak bisa fokus mengikuti rapat. Akhirnya pukul 3 sore, rapatpun selesai. Riki segera keluar dari ruangan rapat dan kembali ke ruangannya untuk bersiap kembali ke Bandung. Saat Riki sedang bersiap tiba-tiba saja seseorang masuk ke ruangan Riki tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu hingga Riki terkejut. "Sheila." Riki setengah berteriak, karena tidak mengira Sheila datang dan bisa masuk begitu saja ke ruangannya. "Hai, kamu sudah mau pulang, pas banget." Kata Sheila. "Pas apa? Aku mau berangkat ke Bandung." Jawab Riki. "Lho, Papa kamu belum bilang?" "Papa?" "Iya, kita kan mau makan malam bersama, kamu sama papa kamu, aku sama orangtuaku." Terang Sheila. "Maaf, aku nggak bisa. Aku harus ke Bandung sekarang." Kata Riki lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar. Belum sampai di pintu, Papa Riki masuk ke ruangan Riki. "Riki." "Papa. Papa kok disini?" Tanya Riki bingung. "Iya, Papa ada janji sama orang sore ini. Sekalian mau bilang sama kamu kalau nanti malam kita akan makan malam bersama keluarga Sheila. Kata Papa Riki. "Apa? Tapi aku kan mesti ke Bandung, Pa." "Minggu ini kamu nggak usah ke Bandung dulu nggak papa, kamu bisa minta tolong Pak Hasan untuk menggantikan kamu dulu sementara." Kata Papa Riki. "Tapi, Pa..." "Sheila sudah sampai sini? Kita janjian jam 7 malam kan?" Tanya Papa Riki pada Sheila. "Iya, Om. Sheila mau ngajak Riki temani Sheila dulu ke Mall." Kata Sheila. Riki melotot pada Sheila. Sheila tersenyum pada Riki seolah mengatakan bahwa dia menang. "Ya sudah kalau gitu, kalian berangkat sekarang aja biar nggak kemalaman nanti." Kata Papa Riki. "Oya, Om. Ayo, Rik." Ajak Sheila. Sheila dan Riki keluar dari ruangan Riki, diikuti dengan Papa Riki yang berjalan di belakang mereka. Sheila maauk ke mobil Riki, tapi Riki tidak langsung menyalakan mobilnya. "Kenapa? Kok nggak jalan?" Tanya Sheila bingung melihat Riki yang hanya duduk diam. "Sheila, aku peringatkan sama kamu ya, kamu nggak bisa ngatur aku seenaknya kayak gini. Aku akan antar kamu kemanapun kamu mau, tapi aku nggak bisa menemani kamu. Aku harus ke Bandung." Kata Riki dengan tegas. "Tapi Papa kamu bilang kamu nggak perlu ke Bandung, sudah ada orang yang bisa menggantikan kamu." "Aku ke Bandung bukan urusan pekerjaan. Aku mau menemui seseorang." Jawab Riki. "Siapa?" "Kamu nggak perlu tahu." Riki lalu menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari Hotel. "Sasya?" Tanya Sheila. "Bukan urusan kamu." Jawab Riki masih tetap menatap ke depan sambil menyetir. "Kamu ada hubungan apa sama dia? Apa Juna tahu?" Sheila terus mencari tahu. "Sudah aku bilang, bukan urusan kamu, kamu nggak perlu tahu." Sheila tersenyum sinis. Sampai di tempat tujuan Sheila, Riki menurunkan Sheila di pintu masuk. Lalu dia langsung pergi meninggalkan Sheila. "Kamu lihat saja Riki, kamu pasti akan jatuh ke pelukanku." Kata Sheila dengan senyum liciknya, sambil menatap mobil Riki yang semakin menjauh. Pukul 7 malam, Riki sampai di depan kos Sasya. Dia lalu mengambil ponselnya da menghubungi Sasya. "Aku di depan." Kata Riki saat panggilan teleponnya tersambung. Tak lama Sasya keluar dari kosnya. "Jam berapa ini? Aku sampai lumutan tauk nungguin kamu, katanya sore." Kata Sasya sambil cemberut. "Maaf tadi ada gangguan di kantor, jadi baru bisa keluar sore." Jawab Riki. "Terus gunanya ponsel kamu buat apa? Nggak bisa telepon atau kirim pesan gitu kalau kamu datang telat?" Kata Sasya sambil menunjuk ponsel yang sedang dipegang Riki. "Maaf..." Kata Riki sambil mendekatkan wajahnya pada Sasya. Sasya lalu memalingkan wajahnya. "Cantik banget sih kalau lagi marah." Goda Riki. "Apaan sih." "Ayo berangkat." Kata Riki lalu membukakan pintu mobil untuk Sasya. "Aku bisa sendiri." Kata Sasya masih kesal. "Iya aku tahu. Aku cuma mau bukain aja kok buat kamu." Jawab Riki. Sasya lalu masuk ke mobil. Riki tersenyum melihat Sasya yang sedang kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD