"Jun, kok lo nggak bilang sih kalau ini film horor?" Tanya Riki yang masih menyembunyikan wajahnya di d**a Juna.
"Gue juga baru tahu kalau ini film horor." Jawab Juna yang juga menyembunyikan wajahnya di belakang kepala Riki.
"Lo nggak lihat dulu judulnya apa?" Tanya Riki lagi.
"Gue asal beli, tapi gue lihat kok judulnya, 'Cinta Lama Bersemi Kembali'. Mana gue tahu kalau ternyata film setan." Jawab Juna tak mau kalah.
"Sssstttt..." Terdengar suara dari seseorang di belakang mereka. Orang itu merasa terganggu dengan Juna dan Riki yang berisik sendiri.
Juna dan Riki tersadar, lalu mereka melepaskan pelukan mereka dan duduk kembali dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Tangan Juna meraih popcorn, dan lagi-lagi memegang tangan Riki yang juga hendak meraih popcorn.
"Ih, dah ini buat elo saja." Kata Riki yang lalu memberikan satu wadah popcorn ke pangkuan Juna.
"Kalian bisa tenang nggak sih nontonnya?" Bisik Sasya pada Juna.
"Riki yang berisik." Kata Juna.
"Enak saja, lo kalik yang teriak-teriak." Bantah Riki.
"Sssstttt..." Lagi-lagi orang di belakang mereka memperingatkan mereka agar diam.
Juna menghabiskan satu wadah popcorn untuk mengalihkan dia dari film horor itu. Film pun sudah masuk ke akhir cerita. Ada adegan romantis saat sang hantu laki-laki akan pergi meninggalkan kekasihnya yang masih hidup sebagai manusia. Mereka berpelukan. Lalu sang hantu mencium mesra si wanita. Kali ini tangan Riki yang terulur hendak mengambil popcorn di pangkuan Juna, yang ternyata tanpa sadar dia malah memegang tangan Juna. Juna yang terkejut menepis tangan Riki.
"Ngapain lo pegang-pegang tangan gue?" Tanya Juna.
"Idih, siapa juga yang pegang tangan lo? Gue mau ambil popcorn." Jawab Riki.
"ini!." Juna meletakkan wadah popcorn di pangkuan Riki.
"Mending gue pegang tangan Sasya." Kata Riki pelan.
"Apa?" Tanya Juna.
"Siapa yang ngomong?" Jawab Riki. Lalu dia menutup mulutnya. "Untung Juna nggak dengar." Kata Riki lagi dengan pelan.
Film pun selesai. Lampu bioskop menyala lagi. Sasya berdiri dan menengok kearah Abangnya. Betapa terkejutnya dia melihat Abangnya tertidur di atas kepala Riki yang juga tertidur di bahu Juna.
"Abang." Sasya membangunkan Juna dengan menggoyangkan tubuh Juna. Juna dan Riki terbangun. Mereka pun sadar bahwa mereka tertidur sambil berpelukan. Dengan cepat mereka menjauh satu sama lain.
"Cari kamar sana, Bro." Kata seseorang yang dari tadi duduk di belakang mereka, yang tidak lain adalah orang yang memperingatkan mereka saat mereka membuat keributan.
Juna dan Riki menatap tajam pada orang itu.
"Sudah, sudah. Ayo keluar. Jeni dan teman-temannya sudah keluar dari tadi." Ajak Sasya. Lalu menggandeng tangan Abangnya.
Juna, Riki dan Sasya berdiri di depan bioskop.
"Gini nih, kalau nonton sama orang yang nggak pernah masuk bioskop, norak." Kata Riki.
"Siapa yang lo bilang norak? Lo juga sama." Kata Juna tidak mau kalah.
"Elo yang teriak-teriak waktu setannya keluar."
"Elo juga peluk gue ketakutan."
"Elo pegang-pegang tangan gue."
"Elo juga."
"Stop! Kalian bisa diam nggak? Kalian berdua tuh sama-sama norak tahu nggak!" Teriak Sasya kesal lalu meninggalkan mereka berdua. Dia berjalan sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang dewasa yang dia kenal.
Jeni dan teman-temannya lanjut makan dan nongkrong di Cafe. Juna lalu menggiring Sasya dan Riki mengikuti adiknya itu.
"Jun, biarkan saja. Jeni sudah gede, nggak perlu diikutin terus." Kata Riki.
Juna tidak mendengarkan perkataan Riki. Dia lalu membawa Sasya dan Riki duduk di belakang meja Jeni dan teman-temannya.
Riki dan Sasya pun terpaksa mengikuti Juna. Juna sebenarnya membiarkan Jeni bergaul dengan teman-tamannya, tapi yang membuat dia tidak tenang adalah Irene. Pandangannya tidak bisa lepas dari Irene. Bagaimana tidak, sedari tadi Aldo terus mendekati Irene. Bahkan saat ini Aldo duduk di samping Irene.
Aldo menunjukkan sebuah foto dari ponselnya pada Irene. Dia sengaja mendekatkan kursinya pada Irene. Dia merapatka tubuhnya pada Irene dan berbicara dari jarak sangat dekat dengan Irene. Bahkan tangan Aldo sudah mulai melingkar di bahu Irene.
Kali ini Juna tidak bisa tinggal diam. Dia menghampiri meja Jeni dan teman-temannya. Dia mengambil tangan Aldo dari bahu Irene. Aldo terkejut dengan kedatangan Juna. Aldo lalu berdiri dan menantang Juna.
"Lo siapa?" Tanya Aldo yang tingginya hampir sama dengan Juna.
"Bang Juna." Kata Irene.
"Lo kenal dia, Ren?" Tanya Aldo pada Irene.
"Dia..." Irene hendak menjawab
"Abang, apa-apaan sih?" Bentak Jeni yang ikut berdiri.
"Sudah malam, ayo pulang." Juna lalu menarik tangan Jeni dan Irene menjauh dari teman-temannya.
"Abang kenapa sih?" Tanya Jeni kesal sambil melepaskan tangannya dari genggaman Juna.
"Sudah kan nontonnya? Sekarang pulang." Kata Juna dengan tegas.
"Abang kan tadi bilangnya cuma mau antar, nggak ikut ngatur-ngatur." Kata Jeni lagi.
"Abang bilang pulang, ya pulang." Kata Juna berusaha meredam emosinya. Tanpa sadar dia meremas tangan Irene yang masih digenggamnya, hingga Irene meringis kesakitan.
"Sudah, ayo. Malu dilihat banyak orang." Kata Riki berusaha menengahi. Dia lalu merangkul Jeni membawanya keluar dari Cafe.
Irene berusaha melepaskan tangannya dari Juna. Juna tersadar kalau dia mengenggam tangan Irene sangat kuat. Juna lalu melepaskan tangan Irene.
"Maaf." Kata Juna dengan lirih.
Irene tersenyum. Lalu Juna dan Irene berjalan berdampingan di belakang Jeni dan Riki.
Sasya memijat keningnya melihat kelakuan Abang dan adiknya dan menarik nafas panjang. Lalu dia berjalan di belakang Juna dan Irene.
Sampai di rumah, Jeni langsung keluar dari mobil dan berlari ke kamarnya. Irene mengikutinya setelah berpamitan pada Sasya. Sedangkan Juna masuk, lalu duduk di teras samping. Dia mengambil rokok dari sakunya. Riki yang melihat Juna sedang tidak dalam mood baik, dia mengambil korek dari sakunya dan menyalakan rokok Juna. Kemudian dia menyalakan rokok untuknya sendiri.
"Lo boleh posesif, tapi ada batasnya." Kata Riki yang duduk disebelah Juna. Mereka merokok sambil memandangi taman.
"Gue tahu, gue sudah keterlaluan." Kata Juna lirih.
"Kasihan Jeni. Lo minta maaf sama dia besok." Titah Riki.
"Iya, gue tahu "
Tak lama Saaya menghampiri kedua pria itu dengan membawa dua cangkir kopi.
"Abang harus minta maaf sama Jeni besok. Karena kecemburuan Abang sudah membuat Jeni malu sama teman-temannya." Kata Sasya sambil meletakkan cangkir di meja di hadapan Riki dan Juna.
Juna menatap Sasya dengan tajam. Sasya tersadar lalu menutup mulutnya dengan tangannya.
"Cemburu?" Tanya Riki bingung.
"Maksud aku nggak suka Jeni dan Irene berdekatan dengan teman laki-laki mereka." Kata Sasya lalu pergi meninggalkan Juna dan Riki.
"Ooh, gue ngerti sekarang. Lo bukan nggak suka Jeni dekat dengan teman laki-lakinya, tapi lo cemburu sama Irene kan?" Tebak Riki.
"Uhuk-uhuk."
Juna yang sedang meminum kopinya tiba-tiba tersedak.
"Astaga, Juna. Jadi semua ini karena Irene?" Riki mematikan rokoknya lalu menghadap Juna.
Juna tetap bersikap tenang.
" Dari tadi lo merhatiin Irene yang duduk deketan sama cowoknya kan?" Riki akhirnya menebak dengan benar.
"Ehem. Lo sendiri?" Tanya Juna yang juga menghadap Riki setelah mematikan rokoknya. "Memangnya lo nggak cemburu lihat Sasya didekati cowok lain?" Tanya Juna.
Riki langsung membatu.
"Ehem." Riki mencoba menormalkan suaranya. "Apa hubungannya sama gue?" Tanya Riki dengan salah tingkah. Dia memalingkan wajahnya dengan memandang bunga-bunga di taman.
"Awas aja lo berani main-main sama adik gue." Ancam Juna.
Kali ini kata-kata Juna benar-benar membuat Riki merinding.
Dari balik dinding, terlihat Sasya yang juga sedang merinding dan ketakutan mendengar ancaman Juna pada Riki. Dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana kalau Abangnya tahu bahwa dia pernah tidur dengan sahabatnya itu.