Permintaan Maaf Juna

1081 Words
Pagi harinya di depan kamar Jeni. "Jen, ini Abang." Kata Juna yang berdiri di depan pintu kamar Jeni. Dia sudah berjanji pada Sasya untuk meminta maaf pada Jeni soal semalam. Jeni membuka pintu lalu menampakkan wajahnya dari balik pintu. Dia menatap Juna tanpa berkata. "Abang mau bicara sebentar, bisa?" Tanya Juna. Jeni keluar dari kamar lalu menutup pintunya kembali. "Irene masih tidur, bicara di luar saja." Kata Jeni dengan ekspresi datar. Juna mengikuti Jeni yang berjalan ke teras atas. Jeni duduk di kursi teras. Juna ikut duduk disampingnya. "Abang mau bicara apa?" Tanya Jeni. "Abang mau minta maaf soal semalam." Jawab Juna. "Hm." Jawab Jeni datar. "Abang sadar sudah keterlaluan." "Hm." Jawab Jeni lagi. "Abang tahu kamu masih marah sama Abang. Abang minta maaf ya, Abang janji nggak akan ulangi lagi." Kata Juna dengan wajah memelas. "Hm." "Jen, bisa nggak jangan cuma jawab hm?" Jeni menatap Juna. Juna menampakkan wajah bersalah. Jeni tak kuasa menahan tawanya. Dia lalu tertawa dan membuat Juna bingung. "Hahahaaa...." "Jen, kok malah ketawa sih?" Tanya Juna. "Abang lucu, Jen tadinya mau marah, tapi lihat muka Abang, Jen jadi ketawa, hahaha..." Juna semakin bingung. Dia malah takut adiknya sedang kesambet setan. "Jen, kamu nggak papa?" Tanya Juna sambil memegang dahi Jeni "Apaan sih, Bang?" Jeni menyingkirkan tangan Juna dari dahinya. "Kamu sehat?" Tanya Juna. "Jen sehat, Bang. Abang itu yang nggak sehat." Jawab Jeni. "Kok Abang?" "Jen tahu, semalam Abang marah karena Abang cemburu sama Aldo kan?" Juna terkejut. Wajahnya langsung memerah karena malu. "Si... Siapa yang cemburu?" Juna terbata. "Abang lah. Abang cemburu karena Aldo deketin Irene terus kan? Makanya Abang tarik tangan Aldo saat dia merangkul Irene. Terus Abang suruh kita pulang. Iya kan?" Juna terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Jeni merangkul Juna. Lalu meletakkan kepalanya di bahu Juna. "Abang, kalau suka bilang. Jangan dipendam, nanti jadi jerawat." Kata Jeni menggoda Abangnya. "Sok tahu kamu." Juna melepas tangan Jeni yang melingkar di lehernya. "Bang, Jen kasih tahu ya. Irene itu banyak yang suka di sekolah, termasuk Aldo. Sekarang ini, Aldo lagi PDKT sama Irene, makanya dia ngajak Irene nonton kemarin. Tapi Irene nggak mau kalau berdua aja. Akhirnya kita jadi ramai-ramai deh nontonnya." Cerita Jeni. "Kenapa Irene nggak mau nonton berdua sama Aldo?" Tanya Juna. "Nah kan, kepo kan? Hahahaa..." "Siapa yang kepo? Sudah ah, Abang mau mandi." Kata Juna lalu berdiri. "Abang tanya sendiri saja sama Irene, kenapa dia nggak mau nonton berdua sama Aldo?" Goda Jeni. "Nggak, Abang nggak mau tahu kok." Jawab Juna lalu berjalan meninggalkan Jeni di teras. "Yakin? Abang rela kalau Irene jadian sama Aldo?" Jeni berlari mengejar Abangnya yang berjalan cepat karena malu. "Bang? Abang yakin nggak mau tahu?" Jeni menggandeng lengan Juna. "Tahu apa, Jen?" Tanya Sasya yang baru saja keluar dari kamar saat Juna dan Jeni melewati kamarnya. "Itu, Kak. Bang Juna semalam ternyata..." Pintu kamar Jeni terbuka. Juna langsung membungkam mulut Jeni hingga Jeni tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tak lama Irene keluar dari kamar Jeni yang memang terletak di sebelah kamar Sasya. Sasya, Juna dan Jeni terdiam. Irene yang baru saja bangun melihat mereka bertiga berdiri terdiam di depan kamar jadi bingung. "Pagi, Ren." Sapa Sasya memecah keheningan. "Pagi, Kak. Maaf Irene kesiangan." Kata Irene sambil tertunduk malu karena bangun lebih siang dibanding tuan rumah. "Nggak papa, santai saja, Ren." Jawab Sasya. Juna langsung berjalan cepat melewati Irene. Dia menuruni tangga, tapi sial saat hendak menuruni tangga dia tersandung kakinya sendiri, hingga dia terhuyung ke depan. Beruntung dia langsung meraih pegangan tangga sehingga tidak sempat terjatuh. "Hati-hati, Bang." Teriak Jeni cekikikan. Juna langsung melesat menuju kamarnya. "Bang Juna kenapa?" Tanya Sasya. "Nggak papa, Kak. Buru-buru mungkin mau kerja." Jawab Jeni. "Jen, kok nggak bangunin Irene sih? Irene kan jadi nggak enak." "Santai saja, Ren. Yuk kita ke bawah." Jeni merangkul sahabatnya itu. Sasya sedang memainkan ponselnya di kamar. Pesan masuk dari Dafa membuat Sasya langsung bangkit dari tidurnya. Dengan pelan dia membuka pesan itu. "Sya, kata Hana kamu di Jakarta ya? Hari ini ulang tahun Raisa. Bunda mau masak buat syukuran di rumah, aku bilang kamu di Jakarta. Raisa minta aku ajak kamu ke rumah." Sasya terdiam. Sebenarnya dia rindu pada bunda dan kedua adik Dafa, Raisa dan Maura. Tapi hati kecilnya belum siap untuk bertemu dengan Dafa. Ada pesan masuk lagi. "Mungkin Raisa akan telepon kamu sendiri. Kamu nggak mau balas pesan aku nggak papa, tapi tolong jawab telepon dari Raisa ya. Love you. Sasya meletakkan ponselnya di kasur. Dia berjalan hendak ke toilet, tapi sebelum langkahnya sampai di toilet, ponselnya berbunyi. Lalu dia mengambil ponselnya lagi, dan terlihat nama Raisa di layar ponselnya. Dia berpikir sejenak, lalu akhirnya dia memutuskan untuk menjawab telepon dari Raisa. Via telepon. "Ya, Raisa?" "Kak, Sya. Kata Kak Dafa kak Sasya di Jakarta ya?" "Iya." "Kalau gitu nanti sore Kak Sasya datang ya ke rumah dijemput Kak Dafa, bunda masak buat syukuran Raisa, Raisa ulang tahun lho." "Oya, selamat ulang tahun ya, sayang." "Makasih, Kak. Kak Sasya datang kan?" "Iya, Kak Sya usahakan ya. " "Janji ya, Kak. Raisa bakalan sedih kalau kakak nggak datang." "Iya, Raisa." "Oke, Kak. Sampai ketemu nanti sore, Kak. Bye Kak Sasya." "Bye, Raisa. Sasya menutup teleponnya. Dia memijat keningnya. Seaat kemudian dia membalas pesan dari Dafa tadi. "Aku akan ke rumah kamu jam 4 sore. Tidak usah dijemput." "Iya, hati-hati di jalan ya. Aku tunggu di rumah. Love you." Balas Dafa. Sasya meletakkan ponselnya. "Love you" Sasya juga biasanya menyematkan kalimat itu di setiap akhir pesan. Tapi entah kenapa saat ini begitu sulit untuknya mengetik kalimat itu untuk Dafa. "Kak, Sya." Panggil Jeni dari balik pintu. "Ya, Jen. Masuk." Jeni membuka pintu kamar Sasya. "Kak, kita ke Mall yuk." Ajak Jeni. "Sekarang?" "Iya, kan nanti sore Kak Sya sudah balik ke Bandung." Kata Jeni. Sasya langsung teringat bahwa besok dia sudah harus masuk kerja lagi. Hari libur cepat sekali berlalu. Batinnya. "Oke, Kak Sya siap-siap dulu." Kata Sasya. "Oke, Kak." Jeni lalu menutup pintu kamar Sasya. Sasya beranjak dari kasur lalu menuju lemari untuk mengganti pakaiannya. "Oya, sekalian aja aku cari kado buat Raisa." Batin Sasya lagi. Lalu dia mengambil satu pakaian yang akan dia pakai ke Mall bersama adiknya. Celana panjang jins, kaos warna kuning dan cardigan warna hijau muda. Setelah berganti pakaian dia berjalan menuju meja rias, memulas tipis wajahnya dengan bedak dan memakai lipstik warna pink tua di bibirnya. Tak lupa dia menyisir rambutnya. Dia juga menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya. Dia memastikan kembali penampilannya di depan cermin, setelah dirasa cukup dia mengambil tasnya dan keluar dari kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD