Kado untuk Raisa

1145 Words
Sasya, Jeni dan Irene masuk ke sebuah toko setelah satu jam mengelilingi Mall tersebut. Toko itu menjual berbagai macam barang dari Korea, mulai dari make up, hiasan rambut, tas, alat makan, aksesoris ponsel dan sebagainya yang sedang hits di kalangan remaja. Sasya mencari sesuatu yang cocok untuk Raisa. Raisa adalah anak perempuan yang tomboy, make up, tas dan aksesoris tidak cocok untuknya. Berbeda dengan Maura. Jika mencari kado untuk Maura sangat mudah, karena dia adalah remaja perempuan yang sangat menyukai aksesoris dan make up, sama seperti Jeni. Sasya berputar dari satu lorong ke lorong lain, dia belum juga menemukan kado yang cocok untuk Raisa. "Nah, ini dia yang aku cari." Kata Jeni yang berada di samping Sasya. Jeni mengambil satu buah headphone berwarna pink dari sebuah etalase yang di dalamnya berisi berbagai macam aksesoris ponsel termasuk headphone. "Bukannya kamu sudah punya ini, Jen?" Tanya Sasya. "Iya, Kak. Punya Jen yang kemarin rusak, makanya ini Jen mau beli lagi." Jawab Jeni. Sasya mengambil barang yang sama dengan yang diambil Jeni tapi dengan warna yang berbeda. "Benar juga, sepertinya ini cocok untuk Raisa yang suka mendengarkan musik dari ponselnya." Batin Sasya. "Kak Sya mau beli juga?" Tanya Jeni yang melihat Sasya memasukkan headphone itu ke dalam tas belanjanya. "Mau buat kado untuk teman Kak Sya."Jawab Sasya. "Ooh. Kalau sudah kita ke kasir yuk, Kak." "Oke. Eh, Irene mana?" Tanya Sasya. Jeni pun tersadar kalau dia tidak bersama Irene. Jeni dan Sasya memutari toko mencari keberadaan Irene. Irene sedang berdiri di depan etalase yang berisi berbagai macam bentuk cangkir. Dia memegangi dua cangkir dengan bentuk dan tulisan yang berbeda di dua tangganya. Dia mengamatinya bergantian. "Bagus yang hitam." Kata Sasya yang membuat Irene terkejut. "Eh, Kak Sya. Kaget Irene." Kata Irene. "Mau buat siapa?" Goda Sasya. "Buat Irene sendiri kok, Kak. Lucu-lucu aja tulisannya, hehe." Jawab Irene. "Kalian disini? Sudah selesai belum? Kita ke kasir kalau sudah." Ajak Jeni setelah menemukan Sasya dan Irene. Mereka berjalan ke kasir lalu membayar belanjaan mereka masing-masing. Setelah itu mereka keluar menuju pintu keluar Mall. "Kak Sya jadi mau langsung pulang ke Bandung?" Tanya Jeni. "Iya, Kak Sya tadi sekalian pamit sama Mama, jadi kita pisah disini ya, Kak Sya mau langsung ke terminal." Jawab Sasya. "Oke kalau gitu, Kak Sya hati-hati ya." Kata Jeni lalu memeluk Sasya dengan manja. "Iya, kamu sama Irene juga hati-hati ya pulang ke rumah." "Iya, Kak." Jawab Jeni dan Irene bersamaan. "Dadaaaa.." Sasya melambaikan tangannya pada kedua adiknya itu. Sementara Jeni dan Irene menunggu taksi online yang sudah mereka pesan. Sasya sampai di rumah Dafa dengan menggunakan taksi online. Dia berpura-pura jalan ke halte bus untuk membuat Jeni.dan Irene percaya kalau dia benar-benar pulang ke Bandung. Sampai di halte Sasya langsung memesan taksi online lalu menuju rumah Dafa. Dan disinilah dia sekarang. Sasya mengetuk pintu rumah sederhana bercat hijau itu. Tak lama seseorang membuka pintu dari dalam rumah. "Sasya, kamu sudah sampai? Naik apa?" Tanya Dafa yang berdiri di depan pintu sambil menengok keluar. "Taksi online." Jawab Sasya. "Sendiri?" Tanya Dafa lagi. Sasya mengangguk. Dafa tersenyum. Dia lalu menggandeng tangan Sasya dan membawanya masuk ke dalam. Tapi dengan cepat Sasya menarik tangannya hingga membuat Dafa menoleh padanya. Sasya lalu berjalan mendahului Dafa, dan masuk ke ruang keluarga. Dafa tersenyum tipis. Dia teringat kalau Sasya sedang marah padanya. Dia pun hanya diam saja. Lalu mengikuti Sasya dari belakang. "Kak Sasya!" Raisa langsung berlari ke arah Sasya dan memeluknya. "Selamat ulang tahun ya, Sa." Ucap Sasya. "Makasih ya, Kak " "Ini buat kamu." Sasya meneyerahkan satu tas kertas berisi headphone yang dia beli di Mall tadi. "Maaf ya, Kak Sya belum sempat membungkus kadonya." Kata Sasya lagi. Raisa membuka tas kertas itu. Matanya langsung berbinar setelah melihat isinya. "Waah, ini yang Raisa pengen udah lama." Kata Raisa mengeluarkan headphone dari tas kertas. "Makasih ya, Kak." Sasya tersenyum senang. Ternyata pilihannya tidak salah, dia memberikan kado yang memang sedang diinginkan Raisa. "Sasya, kamu datang kesini saja kita sudah senang, kok pakai repot-repot bawa kado." Kata Bunda Dafa yang baru saja keluar dari dapur. "Bunda." Sasya lalu menghampiri dan mencium tangan Bunda Dafa. "Gimana kabar kamu, sayang?" Tanya Bunda Dafa setelah mencium kedua pipi Sasya. "Baik, Bun. Bunda sehat?" "Alhamdulillah sehat, sayang." Jawab Bunda Dafa lalu merangkul Sasya mengajaknya duduk di sofa ruang keluarga. Tak lama Maura keluar dari kamarnya lalu menghampiri Sasya. "Kak Sya sudah datang?" Maura lalu mencium tangan Sasya. "Kamu baru selesai mandi?" Tanya Sasya melihat Maura yang sangat cerah dan segar. "Iya, Kak. Baru saja pulang soalnya." Jawab Maura. Sasya duduk dikelilingi Bunda dan dua adik Dafa. Mereka asik mengobrol dan bercanda. Maura dan Raisa saling bergantian bercerita pada Sasya. Kedua adik Dafa memang sangat dekat dengan Sasya. Begitu juga dengan Bunda Dafa yang sudah menganggap Sasya seperti anaknya sendiri. Sasya pun tak canggung memeluk Bunda Dafa seperti Ibunya sendiri dan merangkul Maura dan Raisa seperti adiknya sendiri. Dafa tersenyum melihat keempat wanita yang dia cintai duduk berkumpul dan tertawa bersama. Memang seperti inilah mereka sejak dulu. Semenjak Sasya pindah ke Bandung, mereka jadi jarang bertemu dan berkumpul seperti saat ini. Dafa lalu berinisiatif menyiapkan makanan di meja makan, dan sengaja membiarkan Bunda dan adik-adiknya mememani Sasya. "Pada asik ngobrol, nggak ada yang mau makan nih?" Tanya Dafa saat menghampiri mereka. "Oh iya, Bunda belum matikan kompor." Kata Bunda Dafa yang langsung berdiri. "Sudah aku matikan, Bun." Kata Dafa. "Oh syukurlah. Bunda lupa. Makasih ya, Nak." Ucap Bunda Dafa. "Ya sudah kita makan sekarang, sudah aku siapin semua di meja." Ajak Dafa. "Ayo, Kak." Raisa menarik tangan Sasya ke meja makan. Sasya duduk di sebelah Dafa di meja makan kecil dengan makanan sederhana di atas meja. Maura dan Raisa duduk berhadapan dengan Sasya dan Dafa, sedangkan Bunda Dafa duduk di sisi lain dengan kursi tambahan, karena meja makan Dafa hanya berisi empat kursi. "Karena hari ini hari ulang tahun Raisa, kita berdoa untuk Raisa ya." Bunda Dafa mengangkat kedua tangannya lalu berdoa. Diikuti dengan yang lainnya. "Semoga Raisa panjang umur, ditetapkan imannya, tambah rajin ibadanya, lancar sekolahnya, dan tetap menjadi anak cantik kebanggaan Bunda dan Kakak-kakak." Ucap Bunda Dafa. "Aamiin." Jawab semua bersamaan. "Sekarang kita makan ya." Bunda Dafa membagikan piring pada anak-anaknya. Dafa memulai mengisi nasi ke piring lalu memberikanya pada Bundanya. "Terimakasih, sayang." Kata bunda Dafa pada Dafa. Dafa lalu mengisi piring lagi, dan kali ini diberikannya pada Sasya. "Makasih." Kata Sasya. "Sya, ini Bunda masak telur balado kesukaan kamu." Kata Bunda Dafa lalu memasukkan satu butir telur ke piring Sasya. "Wah, makasih, Bunda." Kata Sasya sambil tersenyum senang. "Yang ulang tahun Raisa, yang dikasih Kak Sasya." Kata Raisa sambil cemberut. "Ini buat Raisa." Bunda Dafa lalu memasukan juga satu butir telur ke piring Raisa. "Hehe, makasih, Bunda." Mereka lalu makan bersama sambil mengobrol. Dafa sesekali melirik Sasya yang tersenyum lebar malam ini. Entah kenapa sepertinya sudah lama sekali dia tidak melihat senyum di wajah cantik Sasya. Tanpa sadar Dafa ikut tersenyum melihat Sasya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD