Kisah Irene

1056 Words
Juna, Irene dan pengacara Papanya Juna, Pak Erik keluar dari kantor polisi. Juna menepati janjinya untuk menemani Irene ke kantor polisi untuk memberikan pernyataan terkait kejadian kemarin. Sebenarnya Irene sudah lebih tenang sejak siang, karena Mama Jeni terus menemani dan memberi semangat pada Irene. Tapi Irene tetap menunggu Juna pulang kerja, karena tidak mau mengganggu pekerjaan Juna. Jeni juga sebenarnya ingin ikut menemani Irene, tapi Irene melarangnya karena Jeni harus les sore itu. Akhirnya, disini lah mereka, baru keluar dari kantor polisi pukul 10.00 malam. "Ren, kamu yakin nggak mau menuntut Digo?" Tanya Juna pada Irene di depan kantor polisi. "Iya, Bang. Irene mau memaafkan dia. Irene nggak mau masalah ini diperpanjang." Jawab Irene. "Tapi kamu sudah jelas-jelas dirugikan, Ren." Juna meyakinkan lagi. "Iya, Bang. Tapi Irene mau berusaha mengikhlaskan aja, karena awalnya juga ini salah Irene." Jawab Irene yakin. "Ya sudah, semua keputusan memang ditangan kamu." Juna akhirnya mengalah. "Juna, karena semua sudah selesai, saya pamit dulu" Pamit Pak Erik. "Iya, Pak. Terimakasih atas bantuannya, dan atas waktunya juga." Jawab Juna. "Sama-sama, Juna. Irene, semoga kamu benar dengan keputusan kamu." Kata Pak Erik pada Irene. "Iya, Pak. Saya yakin ini yang terbaik. Terimakasih banyak ya, Pak." Jawab Irene. "Sama-sama. Baiklah. Mari Juna, Irene." "Iya, hati-hati, Pak." Kata Juna. Pak Erik menjawab dengan anggukkan. Juna mengantar Irene pulang ke rumahnya. Irene sebenarnya tidak mau diantar oleh Juna, karena tidak mau merepotkan Juna. Tapi Juna bersikeras untuk mengantar karena tidak mungkin membiarkan Irene pulang sendiri di malam hari. Irene akhirnya mengalah, dan mau diantar oleh Juna sampai ke rumah. Dalam perjalanan, Juna berusaha menghilangkan kesunyian dengan mengajak ngobrol Irene. "Irene kamu beneran yakin sama keputusan kamu? Bukan karena orang tua Digo adalah pemilik Catering tempat Ibu kamu bekerja?" Tanya Juna lagi. "Iya, Bang. Irene cuma nggak mau memperpanjang masalah. Toh dia juga akan pindah ke luar negeri karena hukuman dari orang tuanya, jadi buat Irene dengan tidak melihat dia lagi sudah cukup." Juna tersenyum. "Kamu benar-benar punya hati yang baik." Puji Juna. Irene tersipu dengan pujian Juna, apalagi setelah Juna mengusap kepala Irene, wajahnya tambah merona. Sebenarnya Juna tanpa sadar saat mengusap rambut Irene, setelah melihat Irene yang terkejut karena kepalanya disentuh, Juna tersadar dia melakukan kesalahan. "Maaf. Aku terbiasa seperti itu pada Jeni dan Sasya saat melihat mereka melakukan sesuatu yang membuat aku bangga." Kata Juna membela diri. Irene menatap Juna lalu tersenyum. "Ibu kamu sudah tahu kan soal kejadian kemarin?" Tanya Juna berusaha menghilangkan debaran di jantungnya karena melihat senyuman Irene. Irene mengangguk. "Sebenarnya Irene kasihan sama Ibuk. Ibuk pasti nggak bisa bekerja lagi. Walaupun sebenarnya Irene juga nggak suka lihat Ibuk capek kerja. Irene sudah membuat Ibuk tidak bisa menjalani hidupnya sendiri, semua yang dilakukan Ibuk hanya untuk Irene." Irene mengutarakan isi hatinya. Juna mendengarkan dengan seksama. "Itu memang sudah kewajiban Ibu kamu sebagai orang tua, apalagi kamu sudah tidak punya Bapak, sudah pasti Ibu kamu berpikir kalau kamu sepenuhnya adalah tanggaung jawabnya." Juna berusaha memberi pengertian pada Irene. "Kadang Irene nggak tega, Bang. Ibuk nggak bisa dapatkan kebahagiaannya sendiri gara-gara Irene." Kata Irene lagi. "Kamu nggak boleh ngomong gitu, itu sudah keputusan Ibu kamu. Jadi mulai sekarang kamu harus fokus belajar, dan lulus sekolah dengan nilai yang sempurna, lalu masuk ke kampus terbaik, itu pasti membuat Ibu kamu bangga." Kata Juna meyakinkan Irene. "Irene memang sudah janji sama diri Irene sendiri, Bang. Bahwa Irene akan membahagiakan Ibuk suatu hari nanti, salah satunya dengan membuat Ibuk berhenti bekerja, dan Irene yang akan bekerja untuk menggantikan Ibuk." "Kamu pasti bisa wujudkan itu. Saat ini kamu harus fokus belajar biar bisa lulus sekolah dan bisa kuliah di kampus terbaik." "Irene sudah memutuskan untuk tidak akan melanjutkan kuliah, Bang. Irene mau langsung kerja setelah lulus sekolah nanti." Kata Irene sambil menunduk. "Apa? Kenapa gitu?" "Irene nggak mau lihat Ibuk capek kerja lagi, Irene mau menggantikan Ibuk bekerja, biar Ibuk bisa istirahat di rumah dengan tenang." Kata Irene. "Irene, niat kamu memang bagus, tapi jangan sampai kamu melepaskan impian kamu." "Impian Irene cuma satu, Bang. Membahagiakan Ibuk." "Apa kamu yakin Ibu kamu bahagia dengan melihat kamu tidak melanjutkan kuliah?" Tanya Juna. Irene langsung terdiam. Dia tidak bisa menjawab. "Kalau kamu ingin Ibu kamu bahagia, wujudkan apa impian Ibu kamu. Aku yakin impian Ibu kamu saat ini adalah agar kamu bisa kuliah dan setelah lulus kamu bisa bekerja di tempat yang kamu inginkan." Kata Juna lagi. Irene mulai terisak. Juna pun terdiam. Tak lama mereka sampai di rumah Irene. Juna sudah pernah beberapa kali mengantar dan menjemput Jeni di rumah Irene, jadi dia sudah sangat hafal jalan ke rumah Irene. "Sudah sampai, hapus air mata kamu. Nanti Ibu kamu sedih." Kata Juna. Irene pun menuruti kata-kata Juna. Dia buru-buru mengahapus air matanya di pipi. Lalu membuka pintu. Tapi sebelum Irene turun dari mobil, Juna menahan Irene dengan memegangi tangan Irene. Irene berbalik menghadap Juna, menatap Juna penuh tanda tanya. "Maaf, kalau kata-kata aku membuat kamu sedih." Kata Juna menyesal. Irene tersenyum. "Nggak papa, Bang. Justru Irene yang terimakasih, karena kata-kata Abang sudah bikin Irene sadar kalau selama ini Irene egois." Jawab Irene. Juna pun tersenyum. Lalu melepas tangan Irene agar Irene bisa turun dari mobil. Saat Irene turun dari mobil, Ibu Irene berlari menghampiri Irene dan langsung memeluk Irene. Juna turun dari mobil dan menyaksikan kedekatan Irene dan Ibunya. Nampak jelas bahwa Ibunya sangat mengkhawatirkan Irene. "Kamu nggak papa, Sayang?" Tanya Ibu Irene saat melepas pelukannya. Irene menggeleng dan memberikan senyuman pada Ibunya agar Ibunya tidak khawatir. Ibu Irene lalu menatap Juna yang masih berdiri di samping mobil. "Nak Juna. Terimakasih ya sudah mengantar Irene. Maaf Irene selalu merepotkan Nak Juna dan keluarga." Kata Ibu Irene. Juna menghampiri Ibu Irene lalu berdiri di samping Irene. "Tidak merepotkan sama sekali, Tante. Irene sudah saya anggap seperti Jeni, adik saya sendiri." Jawab Juna. "Tetap saja, anak ini sudah membuat Nak Juna mengantarnya sampai ke rumah larut malam begini." Kata Ibu Irene lagi. "Saya tidak keberatan sama sekali, Tante." Juna memberikan senyuman terbaiknya. Ibu Irene tersenyum. "Mampir dulu, Nak?" "Nggak usah, Tante. Saya mau langsung pamit aja. Irene juga harus istirahat." Kata Juna. "Sekali lagi terimakasih ya, Nak." "Sama-sama, Tante. Saya permisi dulu. Irene, Aku pulang dulu." Pamit Juna pada Irene. Dan sekali lagi Juna menyentuh kepala Irene, mengusap lagi rambut Irene. Tapi kali ini Juna melakukannya dengan sangat sadar. Dan sekali lagi Irene dibuat terkejut dengan sikap Juna yang satu ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD