Kasus Irene dan Digo

1032 Words
Arjuna membawa Irene pulang ke rumah. Sementara Jeni ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas kejadian yang menimpa Irene. Sebelumnya Juna menelepon Gery untuk menemani Jeni selama di kantor polisi, karena kondisi Irene yang tidak mungkin dia tinggalkan. Jeni sendiri meminta Juna untuk membawanya pulang ke rumah mereka, dan menemaninya, karena Jeni yakin Irene sedang sangat syok dengan kejadian tadi, dia tidak ingin Irene sendiri. Jeni juga tidak ingin orang tua Irene melihat keadaan Irene saat ini. Sampai di rumah, Juna membawa Irene ke kamar Jeni dengan menggendongnya, karena Irene tertidur selama di perjalanan, dan Juna tidak tega untuk membangunkannya. Juna meletakkan Irene di kasur Jeni dengan pelan, lalu menarik selimut menutupi tubuh Irene sampai ke d**a. Irene masih mengenakan jaket Juna. Juna sendiri membiarkan Irene tetap memakainya. "Apa yang kamu lakukan Irene, sampai membahayakan diri kamu sendiri." Juna meratapi Irene yang tertidur sambil masih meneteskan air mata. Juna mengusap air mata yang membasahi pipi Irene. "Jangan... Jangan... Aku mohon..." Irene mengigau. Saat ini kening Irene sedang dipenuhi peluh. Juna mengusap peluh di kening Irene. Irene menangkap tangan Juna, memegangnya dengan sangat erat. "Jangan tinggalkan aku..." Irene berbicara masih dengan mata tertutup. Juna mengambil tangan Irene yang sedang menggenggam tangannya. Lalu Juna gantian menggenggam tangan Irene. "Aku disini, aku tidak akan tinggalin kamu." Bisik Juna. Perlahan Irene mulai tenang. Irene tertidur tanpa melepaskan tangan Juna. Jeni sampai di rumah diantar oleh Gery. Atas permintaan Juna tadi, Gery menemani Irene selama di kantor polisi. "Sudah sampai, aku langsung pulang, ya." Pamit Gery. "Nggak mampir dulu, Kak?" Tanya Jeni sambil melepas sabuk pengamannya. Gery melirik jam tangannya. "Kayaknya nggak usah deh, Jen. Udah jam dua pagi, kamu juga harus istirahat." Jawab Gery. Jeni pun ikut melirik jam tangannya. Benar, sudah jam 2 pagi. "Ya sudah kalau gitu, makasih banyak ya, Kak, udah nemenin Jen." Kata jeni. "Sama-sama, salam buat Juna ya, tolong bilangin aku nggak bisa mampir." "Siap, Kak. Hati-hati ya, Kak." Gery mengangguk. Jeni lalu turun dari mobil dan segera masuk ke rumah. Jeni membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Saat pintu terbuka, yang pertama kali dia lihat adalah pemandangan di kasur yang memperlihatkan Abangnya sedang tertidur di samping Irene, dengan kepala di kasur. Jeni melangkah maju mendekati mereka. Lalu Jeni melihat satu pemandangan lagi, yaitu tangan Juna yang menggenggam tangan Irene. Jeni mencoba membangunkan Abangnya. "Bang." Bisik Jeni sambil menggoyangkan tubuh Juna. Juna langsung terbangun. "Jen, sudah selesai urusannya di kantor polisi." Tanya Juna sambil mengucek matanya. "Sudah, Bang. Tinggal besok kalau Irene sudah tenang, Irene diminta juga datang ke kantor polisi." Kata Jeni sambil menatap iba sahabatnya yang sedang tertidur itu. Lalu Jeni menatap tangan Irene yang masih digenggam oleh Juna. Juna tersadar, lalu melepas genggamannya dari tangan Irene. "Irene terus mengigau, Abang cuma berusaha membuat dia tenang." Juna mencoba memberi penjelasan. Jeni tersenyum. "Makasih ya, Bang. Sudah jagain Irene. Jen takut banget kalau Irene kenapa-napa." Kata Jeni dengan lirih, lalu mengusap kepala Irene. "Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa laki-laki itu?" Tanya juna. Jeni terdiam sesaat. Lalu dia mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya. "Laki-laki itu namanya Digo, dia anak dari yang punya rumah catering tempat ibunya Irene bekerja." Jeni bercerita mulai dari siapa laki-laki itu. Juna mendengarkan dengan seksama. "Awalnya, Mamanya Digo bertanya pada Irene tentang keberadaan Digo, karena Mamanya tahu Digo dan Irene satu sekolahan. Sudah beberapa hari Digo tidak pulang, dan pihak sekolah juga memberi tahu kalau Digo juga tidak masuk sekolah selama dia tidak pulang kerumah. Lalu Irene memberitahukan yang sebenarnya." "Irene tahu Digo dimana?" "Iya, Jen dan Irene pernah bertemu Digo secara tidak sengaja saat dia sedang bermain balapan liar di jalanan." "Terus Irene bilang itu ke Mamanya Digo? Lalu Digo marah sampai menculik Irene?" Jeni mengangguk. "Karena Irene bilang sama Mamanya Digo, akhirnya orang tua Digo memaksa Digo pindah dan tinggal di rumah neneknya di luar negeri dan sekolah disana. Itu yang membuat Digo marah sama Irene." Juna menarik nafas panjang. Lalu melihat ke arah Irene yang masih tertidur. "Kejadian ini pasti membuat Irene trauma." Kata Juna pelan. Mendengar perkataan Juna, Jeni mulai menitikkan air mata. "Ya sudah, kamu istirahat. Temani Irene. Besok kalau Irene sudah tenang, kamu bilang sama Abang, biar Abang yang menemani Irene ke kantor polisi." "Iya, Bang." Juna mengusap kepala Jeni. "Sana tidur." Jeni menuruti perintah Abangnya. Lalu merebahkan dirinya di sebelah Irene. Dia tidur sambil memegangi tangan Irene. Pagi hari di rumah Juna. Juna, Jeni dan kedua orang tuanya sedang sarapan di meja makan. "Jeni, Irene masih tidur?" Tanya Mama Jeni. "Masih, Mah." Jawab Jeni yang sudah rapi dengan seragamnya. "Ya sudah biarkan dia istirahat dulu." Kata Papa Jeni. "Iya, Pa." Jawab Jeni lalu melanjutkan sarapannya. "Jen, nanti kabarin Abang kapan Irene siap ke kantor polisi, biar Abang yang antar. Jam berapa pun itu, kamu telepon Abang aja, nggak perlu nunggu Abang pulang kerja." Kata Juna. "Iya, Bang." "Kalau perlu, kamu hubungi Pak Erik, pengacara kita, untuk menemani kalian nanti." Kata papa Jeni lagi. "Iya, Pa. Abang akan hubungi Pak Erik pagi ini." Juna lalu meminum susunya, dan beranjak dari meja makan. "Jen, mau bareng Abang atau berangkat sama supir?" Tanya Juna sebelum meninggalkan meja makan. "Jen sama supir aja, Bang." Jawab Jeni. "Oke, kalau gitu Abang berangkat duluan." Kata Juna. Juna berpamitan pada orangtuanya, lalu berangkat ke kantor. "Maafin Mama kemarin nggak bisa nemenin kamu di kantor polisi ya, Jen. Papa sama Mama masih di Surabaya, coba aja kalau pesawatnya nggak delay." Kata Mama Jeni menyesal. "Nggak papa, Ma. Jen ditemani Kak Gery. Dan untungnya polisi yang menangani kasus ini adalah kenalan dari Papanya Kak Gery, jadi semoga aja kasus ini cepat selesai." Kata Jeni. "Syukurlah." "Jen berangkat ya, Ma, Pa. Oya, Jen titip Irene ya, Ma." Pamit Jeni. "Iya, sayang. Mama akan jaga Irene." Jawab Mama jeni. "Oya, Jen. Kamu sudah bilang Ibunya Irene kalau Irene menginap disini?" Tanya Papa Jeni. "Sudah, Pa. Tapi Ibunya Irene belum tahu masalah ini. Mungkin nanti sebelum ke kantor polisi Jen akan suruh Irene bilang sama Ibunya. Biar gimanapun, pasti Ibunya Irene akan segera tahu karena Digo adalah anak dari pemilik Catering tempat Ibunya Irene bekerja. "Iya, Jen. Ya sudah kamu nggak usah khawatir soal Irene. Biar Mama yang jaga Irene." "Makasih, Ma." Jeni lalu berangkat ke sekolah setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD