Drama Sebelum Perjalanan

1042 Words
Riki melajukan mobilnya. Dia melihat Sasya yang duduk melamun ke arah depan. "Yang habis ketemu calon mertua..." Goda Riki. Sasya terkejut dengan perkataan Riki. "Apaan sih." Jawab Sasya malas. "By the way, kamu dekat banget ya sama keluarganya Dafa." Tanya Riki. "Iyalah, secara kita udah 5 tahun pacaran." "Oooh... Berarti 5 tahun juga backstreet dari Juna?" Tanya Riki lagi. Sasya menatap Riki. Lalu terdiam. "Bang Juna cuma belum kenal Dafa saja." Kata Sasya dengan lirih. "Kenapa nggak dikenalkan?" "Belum sempat, sudah terlanjur Bang Juna lihat aku nangis duluan gara-gara Dafa, jadi dia langsung nggak suka sama Dafa, hehe." Saya terkekeh. "Kata Juna kamu memang sering dibikin nangis sama dia." Sasya diam dan berpikir sejenak. "Hmm... Dafa sebenarnya laki-laki yang baik, pekerja keras, tanggung jawab, sayang sama keluarga... mungkin karena dulu ayahnya ninggalin dia sama Bunda dan adik-adiknya, makanya dia jadi berpikir bahwa dia adalah pengganti Ayah mereka. Jadi dia yang mengurus dan membiayai semua kebutuhan keluarganya." Sasya mulai bercerita. Riki mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terus, apa yang bikin kamu nangis gara-gara dia?" "Dia itu orangnya terlalu baik, baik sama semua orang, susah untuk menolak, jadi pada saat dia baik sama perempuan, perempuan-perempuan itu pada salah sangka. Tahu sendiri perempuan nggak bisa dibaikin dikit, pasti langsung baper." Jawab Sasya. "Masak sih? Aku baikin kamu, kamu baper nggak?" Riki kembali bertanya. "Emang kamu baik sama aku?" "Masak nggak ngerasa?" "Nggak. Kamu tuh lebih ke nyebelin." "Hahaha. Kalau gitu aku harus lebih baik lagi ke kamu biar kamu bisa baper sama aku." Kata Riki sambil tertawa. Sasya hanya tersenyum sinis. Akhirnya mereka sampai di rumah. Disana, Juna, Jeni dan juga Irene sudah bersiap. Sasya dan Juna turun dari mobil. "Sya, barang kamu uda disiapin? Langsung masukin mobil aja " kata Juna sambil memasukkan beberapa tas ke dalam bagasi mobilnya. "Udah, Bang. Bentar aku ambil dulu." Kata Sasya lalu masuk ke dalam rumah. Riki menghampiri Juna. "Jun, gue ikut mobil lo aja ya, daripada bawa mobil sendiri-sendiri. Nanti Brian juga bareng Gery bawa mobil." "Ya sudah, terserah lo aja." Jawab Juna. Riki lalu membuka bagasi mobilnya, lalu memindahkan barang-barang belanjaan dari mobilnya ke dalam mobil Juna. Tak lama Gery dan Brian datang, mobil mereka memasuki halaman rumah Juna, lalu berhenti di samping mobil Riki. Gery dan Brian turun dari mobil. Lalu ada seorang gadis yang keluar dari pintu belakang mobil Gery. Riki terkejut melihat gadis itu. "Sheila!" Gadis itu pun lalu lari menghampiri dan memeluk Riki. Disaat yang bersamaan, Sasya, Jeni dan Irene keluar dari rumah dan melihat adegan itu. "Sayang, kamu kok nggak bilang kalau mau liburan ke Puncak?" Kata Sheila dengan manja. Riki menatap Gery dan Brian seolah meminta pertanggung-jawaban kenapa gadis ini bisa sampai disini. Gery dan brian mengangkat bahu mereka secara bersamaan. Riki lalu membuang nafas dengan kasar. "Sudah kalik dramanya." Kata Jeni saat sampai di dekat mereka. Gadis itu lalu melepas pelukannya. Menatap Jeni dengan sinis. "Siapa dia?" Tanya gadis itu pada Riki sambil menunjuk Jeni yang sudah masuk ke dalam mobil diikuti oleh Irene. "Kamu ngapain disini?" Tanya Riki alih-alih menjawab pertanyaan Sheila. "Kata mereka kamu ngajakin mereka nginap di villa kamu, ya aku ikutlah." Jawab Sheila dengan percaya diri. Ríki menatap kembali kedua sahabatnya itu. "Brian yang bilang." Kata Gery sambil menunjuk Brian. "Enak aja, lo kalik yang ngajakin dia." Kata Brian membela diri "Idih, siapa yang ngajakin dia. Dia nya aja yang ngikut sendiri." Gery juga ikut membela diri. "Udah, nggak usah ribut. Rik, lo mending bareng mereka aja ya naik mobil Gery, mobil gue nggak cukup kalau ketambahan lo sama Sheila." Kata Juna. "Gue aja yang ikut, Sheila biar naik bareng Gery sama Brian." Kata Riki. "Nggak mau, aku maunya sama kamu." Kata Sheila lagi dengan manja sambil menarik-narik tangan Riki. Sasya yang melihatnya menggelengkan kepala. Lalu masuk ke mobil Juna. "Ya sudahlah, Rik. Biar cepet, sudah keburu sore nih, nanti kemalaman sampai sana." Kata Juna. Dengan malas Riki menaiki mobil Gery dan duduk di belakang bersama Sheila. Gery melempar kunci mobil ke arah Brian. "Lo gang nyetir." Kata Gery lalu duduk di depan sebelah supir. "Kebiasaan." Gumam Brian. Lalu dengan terpaksa dia duduk di kursi supir. Mereka lalu memulai perjalanan mereka. Sesuai dugaan, jalan menuju Puncak macet parah, dikarenakan long weekend. Mereka pun dengan terpaksa melewati kemacetan itu. Perjalanan mereka tentu saja memakan waktu lama. Dari Jakarta mereka harus menempuh waktu 6 jam untuk sampai ke Puncak. Tepat jam 00.30 mereka sampai di villa Ríki. Semua orang turun dari mobil. Brian menarik kedua tangannya keatas merenggangkan otot-ototnya. Gery turun dari mobil sambil menguap. "Sudah sampai ya?" Tanya Gery. "Sampai pala lo. Iyalah dah sampai, bisa-bisanya pada tidur bukannya nemenin gue nyupir, mana macet parah pula." Gerutu Brian. "Kalau capek langsung istirahat aja." Kata Riki sambil menepuk bahu Brian. Brian hanya bisa menggelengkan kepala. Juna menurunkan tas satu per satu, lalu diberikan pada adik-adiknya. Mereka lalu masuk ke dalam villa yang dari luar nampak sedarhana itu. Riki menghampiri seorang laki-laki yang menyambut mereka di pintu. "Kang Burhan, maaf ya kemaleman." Kata Riki pada laki-laki itu yang ternyata adalah orang yang mengurus villa barunya. "Nggak papa, Den. Langsung istirahat aja atuh, kamar semua sudah rapih." Kata Kang Burhan dengan logat sundanya "Oke, makasih, Kang." Jawab Riki. "Sama-sama, Den. Saya langsung pamit pulang aja kalau gitu." Pamit Kang Burhan. "Iya, Kang. Hati-hati, gelap jalannya." Kata Riki. "Sudah biasa akang mah, hehe." Jawab Kang Burhan sambil terkekeh. Riki masuk ke ruang tamu dengan Sheila yang masih menggandengnya dengan wajah ngantuknya. "Disini ada 6 kamar, 3 diatas, 3 di bawah. Cewek-cewek bisa di bawah, biar cowok yang diatas. Silahkan pilih sendiri kamar kalian." Kata Riki memberi petunjuk. "Kita nggak sekamar aja, sayang?" Tanya Sheila pada Riki. Sasya, jeni dan juga Irene sontak terkejut dan menatap ke arah Riki dan Sheila. "Cewek di bawah." Kata Riki dengan tegas. Sheila langsung cemberut. Lalu dengan langkah terpaksa memasuki 1 kamar yang terletak paling depan. "Kita bertiga aja ya tidurnya. Kata Jeni pada Sasya dan Irene. "Kamar tengah ada 2 kasur, kalian bisa pakai kamar itu. Kata Riki yang mendengar perkataan Jeni. Jeni, Irene dan juga Sasya langsung menuju kamar yang ditunjuk Riki, lalu memasukinya. Lalu ke 4 cowok-cowok yang tersisa, berjalan menaiki tangga menuju lantai 2. Riki memilih tidur dengan Juna. Sedangkan Gery dan Brian di kamar sebelah Riki dan Juna. Mereka memang tidak bisa dipisahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD