Maura dan Raisa

1180 Words
Sasya yang merasa dipanggil lalu menoleh ke belakang. Terlihat seorang gadis sedang berlari ke arahnya. Sampai di depan Sasya gadis itu lalu memeluk Sasya. Sasya pun membalas pelukan gadis itu sambil tersenyum. Riki memandangi 2 gadis yang sedang berpelukan di sampingnya. "Raisa." Gadis bernama Raisa lalu mengurai pelukannya. "Kak Sasya di Jakarta?" Sasya mengangguk. "Raisa sama siapa?" Tanya Sasya. "Sama Bunda, sama Kak Maura. Tuh." Jawab Raisa sambil menunjuk 2 orang yang juga sedang berjalan ke arah mereka. Sasya mencium tangan perempuan yang terlihat seumuran dengan Mamanya dan mengenakan hijab. "Bunda." Sapa Sasya. Lalu gadis disebelah yang disapa Bunda juga mengulurkan tangannya pada Sasya, lalu mencium tangan Sasya. "Maura." Sasya tersenyum melihat ketiga perempuan yang kini sedang berdiri di hadapannya. "Kak Sasya nggak sama Kak Dafa?" Tanya Maura. Riki yang mendengar nama Dafa disebut, dia langsung menatap Sasya. Sasya pun sontak juga menatap Riki. "Nggak. Kak Dafa lagi latihan. Kan 2 hari ke depan Kak Dafa manggung di Ancol." Jawab Sasya. "Kak Sasya nggak ikut?" Tanya Raisa. Sasya menggeleng. "Bunda sehat?" Tanya Sasya pada Bunda. "Alhamdulillah. Sasya gimana kabarnya? Sudah lama nggak main ke rumah." Kata Bunda memegangi tangan Sasya. "Sasya baik, Bun. Maaf ya Sasya nggak pernah main lagi, karena nggak setiap Minggu bisa pulang ke Jakarta. "Iya, nggak papa, sayang. Kamu pasti capek juga pulang pergi Jakarta-Bandung." Sasya mengangguk. Lalu menggenggam tangan Bunda dengan erat. Nampak dia sangat merindukan orang yang dipanggilnya Bunda itu. "Eh, Sasya sama siapa? Habis belanja?" Tanya Bunda lalu melihat ke arah Riki. Iya, Bun. Sasya habis belanja, nanti malam Sasya ada acara di villa Puncak sama Bang Juna dan teman-temannya." "Oh gitu." "Iya, kenalin, Bun. Ini Kak Riki, temannya Bang Juna." Sasya mengenalkan Riki pada Bunda. Lalu Riki menyalami wanita itu. "Ini Maura, sama Raisa." Kata Sasya lalu menunjuk pada Maura dan Raisa bergantian. Maura dan Raisa lalu bergantian juga menyalami Riki. "Hmm... Ini Bunda sama adik-adiknya Dafa." Kata Sasya mengenalkan tiga perempuan di hadapannya pada Riki. "Ooohh.. apa kabar, Tante?" Sapa Riki. "Baik. Nak Riki kenal juga sama Dafa." Tanya Bunda. "Hmm, kebetulan iya, Tante." Jawab Riki sambil menggaruk tengkuknya. "Bunda sudah selesai belanja? Mau pulang?" Tanya Sasya mengalihkan pembicaraan. "Iya, kita sudah mau pulang." Jawab Bunda. "Bunda naik apa?" Tanya Sasya lagi. "Tadi kita naik taksi online, ini pulangnya juga mau pesan taksi online lagi." "Hm, gimana kalau bareng kita aja." Riki menawarkan tumpangan pada Bunda dan adik-adiknya Dafa. Sasya menatap Riki. Riki mengangguk menatap Sasya. "Iya, Bun. Bareng kita aja, Kak Riki bawa mobil. Lagian kita juga searah kan." Kata Sasya. Bunda menatap kedua putrinya. Maura dan Raisa mengangguk bersamaan. "Ya sudah, kalau nggak merepotkan." Jawab Bunda. "Nggak kok, Tante. Ayuk kita ke mobil." Ajak Riki. Riki berjalan menuju parkiran terlebih dahulu dengan mendorong troli berisi belanjaannya. Diikuti Sasya yang menggandeng lengan Bunda. Lalu dibelakang Maura dan Raisa mengikuti Sasya dengan membawa plastik berisi belanjaan. Setelah sampai di mobil, Riki membuka bagasi dan memindahkan barang belanjaannya ke dalam mobil. "Barangnya mau dimasukkin bagasi sekalian? Tanya Riki pada Maura dan Raisa. "Nggak usah, Kak. Cuma sedikit kok." Jawab Maura. Riki lalu menutup bagasinya. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Sasya duduk di kursi depan di sebelah Riki yang sedang menyupir. Bunda, Maura dan Raisa duduk di belakang berdampingan. Perjalanan dimulai dengan keheningan. Sampai akhirnya Raisa membuka suara. "Kak Sasya tau nggak?" Sasya yang diajak bicara menoleh ke belakang, kebetulan Raisa duduk di tengah, sehingga Sasya mudah melihatnya. "Kemarin Raisa habis kehilangan ponsel di bus." Cerita Raisa. "Oya, kok bisa?" Tanya Sasya. "Iya, Raisa habis ngirim pesan ke teman, terus ponselnya Raisa taruh saku rok, terus Raisa nggak sadar. Setelah sampai sekolah, Raisa mau ambil ponsel di saku udah nggak ada. Berarti ada yang ngambil kan ya di bus?" Cerita Raisa. "Mungkin jatuh di bus, atau kamu lupa, kamu taruh di tas." Sasya menanggapi cerita Raisa. "Nggak, Kak. Raisa ingat banget terakhir Raisa taruh di saku rok." Jawab Raisa. "Terus, hilang berarti ponsel kamu?" Tanya Sasya. "Iya. Tapi besok nya Kak Dafa belikan Raisa ponsel baru. Padahal Raisa nggak bilang lho sama Kak Dafa kalau ponsel Raisa hilang. Kak Maura tuh yang bilang." "Ya syukurlah, biar gimana kamu kan tetap butuh ponsel itu, makanya Kak Dafa belikan lagi buat kamu." Kata Sasya. "Tapi kan Raisa jadi kasihan sama Kak Dafa, sudah nabung capek-capek malah buat belikan ponsel baru buat Raisa." Kata Raisa terlihat menyesal. "Kalau Kak Dafa bisa beli, berarti Kak Dafa masih ada sisa tabungan, nggak mungkin semua tabungannya buat belikan ponsel kamu. Yang penting sekarang, kamu harus lebih hati-hati lagi, biar nggak hilang lagi, kan kamu tahu gimana Kak Dafa bekerja keras untuk kamu dan Maura." Kata Sasya menasehati Raisa. "Iya, Kak. Raisa sudah jaga baik-baik kok." Kata Raisa sambil menggenggam erat ponsel barunya. Bunda hanya tersenyum melihat Sasya yang menasehati Raisa seperti adiknya sendiri. "Nak Riki kerja dimana?" Tanya Bunda. "Saya kerja di Hotel, Tante." Jawab Riki. "Hotel, Kak? Hotel mana? Maura juga kalau sudah lulus mau langsung kerja di hotel." Kata Maura bersemangat. "Iya, memang kamu lulus kapan?" Tanya Riki. "Tahun ini, Kak." Jawab Maura lagi "Maura nggak mau lanjutin kuliah?" Tanya Sasya." "Nggak, Kak. Maura mau langsung kerja biar nggak bebanin Kak Dafa terus." Jawab Maura. "Memang boleh sama Kak Dafa?" Sasya bertanya lagi. "Boleh." Maura menjawab. "Ya tadinya sih nggak boleh, tahu sendiri Dafa kan pengen banget adik-adiknya bisa kuliah, karena dia sendiri nggak pernah merasakan kuliah. Tapi Maura terus merengek, akhirnya Dafa bolehin." Kata Bunda. Sasya tersenyum, tanpa dia sadari Riki melihatnya saat sedang tersenyum. "Kalau sudah lulus kamu kabarin aku saja, Maura. Aku coba bantu kamu biar bisa kerja di hotel tempat aku kerja." Kata Riki. "Serius, Kak? Aku mau banget." Jawab Maura semangat. "Iya, aku coba bantu sebisa aku. Kamu bisa kabarin lewat Sasya." "Asiiikk. Makasih, Kak." Teriak Maura. Riki tersenyum. Gantian Sasya tersenyum melihat Riki. Ternyata Riki punya sisi baik dan ramah dibalik sikap dinginnya. Riki menatap Sasya yang sedang melihatnya sambil tersenyum. Saat tatapan mereka bertemu, Sasya langsung memalingkan wajahnya ke depan. "Hm, depan itu belok kiri." Kata Sasya sambil menunjuk ke arah depan. Riki lalu membelokkan mobilnya ke kiri, memasuki sebuah perumahan yang bisa dibilang tidak terlalu elit, karena rumah-rumah yang berjejer adalah rumah-rumah dengan ukuran kecil dan sedarhana. "Gang depan ke kanan." Sasya mengarahkan jalan. Riki pun membelokkan mobilnya ke kanan. Rumah depem itu yang cat nya hijau." Tunjuk Sasya lagi. Lalu Riki menghentikan mobilnya di depan rumah warna hijau sesuai instruksi Sasya. Bunda, Maura dan Raisa bergantian turun dari mobil. Sasya dan Riki pun ikut turun dari mobil. "Mampir dulu?" Tawar Bunda. "Hmm, kayaknya nggak bisa deh, Bun. Kita harus berangkat ke Puncak." Jawab Sasya. "Iya, takutnya macet Tante. Lain kali aja kita mampir." Kata Riki memberi alasan. "Ya sudah, terimakasih atas tumpangannya ya, Nak. Hati-hati di jalan." Kata Bunda. Riki lalu pamit dan bersalaman dengan Bunda. Diikuti juga Sasya. Lalu Maura dan Raisa juga bergantian mencium tangan Sasya dan Riki. "Hati-hati ya, Kak." Kata Maura. Sasya tersenyum. "Dadaaahh..." Pamit Sasya sambil melambaikan tangannya pada Maura dan Raisa sebelum masuk ke mobil. Maura da Raisa pun membalas melambaikan tangan juga pada Sasya. "Dadaaaa, Kak." Ríki lalu melajukan mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD