Kembali Bekerja

1155 Words
"Kamu lagi dikejar hutang?" Tanya seseorang dari belakang hingga membuat Sasya terlonjak karena terkejut. "Kak Riki." Pekik Sasya. Riki berjalan mendekati Sasya. "Kak Riki ngapain disini?" Tanya Sasya cemas, karena Riki pasti mendengar percakapannya di telepon. Tanpa menjawab, Riki hanya menyalakan rokok yang sudah menempel di bibirnya. "Masalah uang, kenapa nggak minta sama Juna?" Tanyanya lagi sembari menghisap rokoknya. "Maaf ya, Kak. Sepertinya ini bukan urusan Kakak." Kata Sasya pelan. "Kalau kamu ngomong sama Juna, dia pasti kasih kamu uang, berapa pun itu." Tambah Riki. Sasya menatap Riki. "Aku peringatkan kamu ya, jangan ikut campur urusan aku." Kata Sasya yang tanpa sadar menggunakan kata "kamu" pada Riki. "Aku bingung, seorang anak Brawijaya terlilit hutang. Atau jangan-jangan, keluarga kamu tidak ada yang tahu?" Riki semakin membuat Sasya meradang. "Tolong jangan ikut campur, dan anggap kamu nggak pernah mendengar apapun. Aku tidak mau merepotkan keluargaku, khususnya Bang Juna." "Kenapa?" Tanya Riki penasaran. "Bukan urusan kamu." Jawab Sasya acuh. Lalu berjalan meninggalkan Riki. "Aku bisa bantu kamu." Kata Riki dengan santai sambil menghisap rokoknya lagi. Sasya menghentikan langkahnya, lalu berbalik lagi menghampiri Riki. "Aku nggak minta bantuan kamu, dan aku ingatkan sekali lagi ya, jangan ikut campur." Kata Sasya sambil menunjuk wajah Riki. "Mungkin Juna harus tahu." Kata Riki lagi. Sasya menghembuskan nafas panjang. "Kamu ini kenapa sih? Mau kamu apa?" Tanya Sasya memcoba mengalah. Riki berjalan mendekati Sasya, lalu dia membungkukkan tubuhnya, membuat wajahnya dekat dengan wajah Sasya. "Mau bikin penawaran sama kamu." Jawab Riki dengan seringai licik di wajahnya. Sasya terkejut. "Penawaran apa?" Sasya penasaran. "Aku bisa melunasi hutang kamu, dan Juna juga tidak akan tahu masalah ini. Tapi dengan satu syarat." "Syarat apa?" "Temani aku tidur satu malam." Sasya sangat terkejut mendengar ucapan Riki. "Apa? Kamu gila ya? Ternyata benar ya yang aku dengar, kamu itu play boy!" Riki tertawa mendengar kata-kara Sasya. "Hahaha... Terserah kamu, tapi aku pastikan Juna akan segera tahu masalah ini." "Kamu ngancam aku?" Sasya mulai geram. Riki hanya mengangkat kedua bahunya, lalu berjalan masuk setelah membuang rokoknya di tanah. "Ini akan jadi berita besar untuk Juna." Kata Riki sambil terus berjalan meninggalkan Sasya. Sasya panik, dia tidak mau keluarganya tahu masalah hutangnya. Dia benar-benar harus merahasiakan ini dari keluarganya. "Tunggu..." Akhirnya Sasya menyerah. Riki menghentikan langkahnya, lalu menyeringai. Sasya menghampiri Riki, lalu menarik tangan Riki, membawa Riki kembali keluar. "Hanya satu malam." Kata Sasya. Riki tersenyum penuh kemenangan. Lalu mengulurkan tangannya pada Sasya. Dengan terpaksa Sasya menjabat tangan Riki. "Deal." Jawab Riki puas. Keesokan harinya. Sasya terbangun dari tidurnya. Dia mencoba membuka matanya yang masih berat. Sasya mengambil ponsel dari nakas. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Dia lalu bangkit dan suduk di kasur dengan kaki turun di lantai. Tiba-tiba dia teringat perjanjiannya dengan Riki tadi malam. "Astaga, aku benar-benar akan jadi w************n demi membayar hutang." Bisiknya pelan. Lalu mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. "Kenapa juga dia mesti ada disitu dan mendengar pembicaraanku di telepon." Sasya merutuki dirinya sendiri. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Ah. Sudahlah, terlambat untuk menyesal." Katanya lagi. Lalu bangun dan berjalan keluar kamar. Sasya berjalan ke arah dapur. Dia melihat Irene yang sedang membuat minuman di dapur. Sasya berjalan menghampiri Irene. Tapi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya lalu bersembunyi di balik dinding. Sasya melihat Abangnya terlebih dahulu menghampiri Irene. Juna sendiri terlihat terkejut melihat Irene ada di dapur. Tapi dia pura-pura santai. Sasya bisa melihat Abangnya yang salah tingkah di dekat Irene. Membuat Sasya tersenyum sendiri. "Ehem." Juna berdehem. Irene yang sedang sibuk membuat minum dengan cepat membalikkan tubuhnya. "Eh, Bang Juna. Pagi, Bang." Sapa Irene. "Pagi. Kamu bikin apa?" Tanya Juna sambil mengintip gelas yang dipegang Irene. "Coklat panas, Bang. Abang mau?" "Terimakasih." Jawab Juna sambil mengambil gelas dari tangan Irene. "Tapi itu punya Jeni. Irene bikinkan lagi ya buat Abang." Kata Irene. "Suruh Jeni bikin sendiri." Jawab Juna tanpa rasa bersalah. Lalu pergi meninggalkan Irene. Irene tidak bisa berkata apa-apa. Setelah Abangnya pergi, Sasya perlahan menghampiri Irene. "Pagi, Ren." Sapa Sasya. "Pagi, Kak sya." Jawab Irene. "Kamu semalam tidur disini?" "Iya, Kak. Jeni yang paksa aku menginap disini." "Ya baguslah. Jeni juga pasti khawatir kalau kamu pulang sendiri malam-malam, makanya dia suruh kamu menginap." "Iya, kak. Irene jadi nggak enak, keluarga Kak Sya baik banget sama Irene. Irene jadi bingung mau membalasnya gimana." Curhat Irene. "Itu karena Jeni menganggap kamu seperti saudara perempuannya sendiri, makanya Papa sama Mama juga menganggap kamu seperti anak mereka sendiri." Kata Sasya sambil mengusap kepala Irene. "Terimakasih ya, Kak." "Jangan sungkan." "Ya sudah, Irene naik dulu ya, Kak. Jeni pasti udah nungguin coklat panasnya." Pamit Irene. "Lain kali suruh Jeni bikin sendiri." "Nggak papa, Kak. Cuma coklat panas aja kok." Jawab Irene sambil tersenyum. Manis sekali, batin Sasya. Pantas saja Abangnya selalu salah tingkah kalau ada di dekat Irene. Sasya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sendiri mengingat tingkah Abangnya. Sasya duduk di meja makan sambil meminum coklat panas yang baru saja dibuatnya. Ponselnya bergetar, ada pesan masuk. Dia melirik ponselnya, tertera nama Riki di layar ponselnya. Dia teringat semalam Riki meminta nomor ponselnya, dan Sasya pun dengan terpaksa memberikannya. Sasya membaca pesan dari Riki. "Aku tunggu di halte bus dekat rumah kamu jam 5 sore, sekalian antar kamu pulang ke Bandung." Sasya menghembuskan nafas panjang, lalu meletakkan kembali ponselnya. Beberpa detik kemudian ponselnya bergetar lagi, pesan masuk dari Riki lagi. "Kamu mengabaikan aku? Jadi tidak masalah kalau Juna tahu?" Sasya membelalakkan matanya membaca pesan dari Riki. Secepat kilat dia membalas pesan Riki tersebut. "Iya aku datang. Jangan sampai Bang Juna tahu." Ketiknya. Sorenya. Sasya berpamitan pada keluarganya. "Aku balik ke Bandung dulu ya, Pa, Ma." Pamit Sasya. "Kamu yakin nggak mau Abang antar?" Tanya Juna. "Iya, Sya. Biar diantar Abang ya." Tambah Mama Sasya yang sangat mengkhawatirkannya. Padahal Ini bukan pertama kalinya Sasya naik bus sendiri pulang pergi Jakarta-Bandung. Tapi Mamanya masih saja khawatir. "Nggak usah, Ma. Kasihan Abang capek nanti." Jawab Sasya. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Langsung kabarin kalau sudah sampai Bandung." Kata Danu, Papa Sasya. "Siap, Pa." Jawab Sasya. "Hati-hati ya, nak. Baik-baik disana." Kata Papa Sasya sambil mengusap kepala Sasya. Sasya mencium tangan Papanya. Lalu dia mencium tangannya Mamanya. "Padahal Mama masih kangen." Kata Mama Sasya lagi sambil memeluk Sasya. "Kak sya minggu depan pulang lagi kan? Jen belum puas curhat sama Kak Sya." Kata Jeni. "Iya, Jen." Jawab sasya sambil mengusap kepala Jeni. Setelah berpamitan penuh drama, Sasya keluar dari rumah menuju halte bus yang berada di dekat rumah nya sesuai yang telah disepakatinya dengan Riki. Tak perlu waktu lama untuk sampai di halte. Sasya duduk di halte yang kebetulan sepi sore itu. Dia melirik jam di tangannya. Masih jan 5 kurang. Lalu dia mengedarkan pandangannya ke arah jalanan. Beberapa saat kemudian, datanglah mobil sport warna merah berhenti tepat di depan tempat Sasya duduk. Sasya menatap mobil itu dengan heran. Lalu perlahan kaca mobil turun, nampal seorang pria dengan wajah cool sedang melepas kacamata hitamnya dan menatap ke arah Sasya yang sedang terheran. "Naik." Kata pria cool itu. "Kak Riki." Sasya melongo dibuatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD