Sasya duduk di mobil Riki dengan gelisah. Dia terus membayangkan apa yang akan dilakukan Riki padanya nanti. Dia juga menyesali kenapa dia mesti membuat kesepakatan dengan Riki. Tapi kalau tidak begini, kemana lagi dia harus mencari uang untuk membayar butang-hutangnya. Sasya tidak tahu lagi harus bagaimana, semuanya sudah terlanjur, dan mungkin dia harus pasrah dengan takdirnya.
"Berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Riki membuyarkan lamunan Sasya.
"Hm, apa?" Tanya Sasya.
"Hutang kamu? Kirim nomor rekening kamu dan jumlah nominal yang kamu butuhkan." Titah Riki.
"100 juta. Apa kamu sanggup?" Jawab Sasya asal. Tentu saja hutangnya tidak sebanyak itu.
"Berapapun yang kamu butuhkan, uangku lebih dari cukup untuk membayar kamu." Jawab Riki dengan percaya diri.
"Cih, sombongnya." Cibir Sasya.
"Tulis saja berapa dan nomor rekening kamu." Kata Riki masih dengan gaya cool nya.
Sasya pun langsung mengetik sesuai yang diperintahkan Riki.
"Dia benar-benar memperlakukan aku seperti wanita murahan." Batin Sasya sambil melirik Riki dari samping.
"Kalau dilihat-lihat, Riki memang tampan, bentuk wajahnya sempurna, apalagi dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Menambah kadar ketampannya 10 kali lipat. Bibirnya seksi, kulitnya putih, tangannya bahkan lebih mulus dari tanganku." Batin Sasya sambil melihat tangannya sendiri, membandingkan dengan tangan Riki yang sedang sibuk di kemudi.
"Sudah puas perhatikan aku?" Tanya Riki tiba-tiba.
Sasya sangat terkejut.
"Waah, ternyata orang ini narsis juga." Masih dalam batin Sasya.
"Ehem. Siapa juga yang merhatikan kamu." Jawab Sasya langsung memalingkan wajahnya ke depan.
"Mungkin karena wajah tampanku, jadi banyak perempuan yang mendekati aku tanpa dipaksa. Makanya banyak orang bilang aku playboy." Kata Riki dengan penuh percaya diri.
"Astaga, aku tarik semua omonganku tadi yang bilang kalau dia tampan, dasar cowok m***m, narsis pula." Sasya mengumpat dalam hati.
Perjalanan Jakarta-Bandung terasa sangat lama, ditambah dengam kemacetan dimana-mana, membuat Sasya semakin gelisah.
"Kita mau kemana?" Tanya Sasya.
"Hotel." Jawab Riki singkat.
"Apa?"
Belum sempat Sasha protes, mobil Riki sudah memasuki sebuah hotel. Sasya semakin gelisah, jantungnya berpacu sangat kencang. Mobil Riki masuk ke gedung parkir. Riki memarkirkan mobilnya lalu melepas sabuk pengamannya. Saat hendak turun, dia melihat Sasya masih duduk terdiam.
"Kamu nggak turun?" Tanya Riki.
"Hmm, bisa nggak kita tunda dulu? Minggu depan gimana?" Sasya mencoba bernegosiasi.
"Nggak bisa. Aku sudah reservasi kamar." Jawab Riki. Sasya kembali terdiam.
"Tapi, Kak..."
"Apa perlu aku telepon Juna sekarang?" Riki mulai kesal dan mengancam Sasya.
Sasya melepas sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil Riki. Riki berjalan masuk, manaiki lift, dan sasya mengekor dibelakangnya.
Keluar dari lift, Riki langsung menuju kamar, dan membuka pintu kamarnya.
"Kamu sudah punya kuncinya?" Tanya sasya heran.
"Hm. Masuk." Riki menyuruh Sasya masuk setelah pintu terbuka. Sasya menuruti titah Riki. Dia masuk lalu berdiri diam di sudut kamar. Riki duduk di kasur, mangamati Sasya. Sasya yang merasa diperhatikan jadi salah tingkah dan jantungnya semakin berdetak kencang.
Riki mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu.
"Sudah. Kamu bisa cek, uangnya sudah masuk." Kata Riki, lalu dia meletakkan ponselnya.
Dengan cepat Sasya mengambil ponselnya dari tas, lalu mengecek rekeningnya. Benar saja, ada uang masuk sebesar 100 juta di rekeningnya, Sasya tidak menyangka riki benar-benar mentransfer uang yang Sasya bilang dengan asal.
"Kamu beneran transfer? Aku tadi cuma bercanda saat bilang 100 juta." Kata Sasya panik. "Aku akan kembalikan sisanya." Kata Sasya lagi.
"Tidak usah. Pakai saja, terserah mau kamu buat apa uang itu." Jawab Riki.
Dia lalu menghampiri Sasya. Sasya kembali merasa gelisah. Jantungnya sudah tidak bisa dikontrol lagi. Riki semakin mendekat. Dia mendekatkan wajah ya kehadapan Sasya.
"Lakukan saja apa yang sudah kita sepakati." Kata Riki tepat di telinga Sasya. Sasya mundur perlahan, tapi Riki menahan tangan Sasya.
"Sudah terlambat untuk menolak, Sya." Kata Riki. Lalu dia pun menarik pinggang Sasya. Dalam hitungan detik, tubuh Sasya sudah berada di pelukan Riki.
Tanpa aba-aba Riki mencium bibir Sasya. Sasya berusaha menolak, tapi Riki sangat kuat menahan tubuh Sasya, hingga Sasya tidak bisa mundur lagi.
Riki tidak menyerah, dia terus mencoba mencium bibir Sasya, akhirnya Sasya hanya bisa pasrah menerima ciuman dari Riki.
Riki berjalan menuntun Sasya ke kasur tanpa melepas tautan bibirnya. Dengan menahan tubuh Sasya sekuat tenaga, perlahan Riki meletakkan tubuh sasya di atas kasur, dan dia pun memposisikan tubuhnya di atas tubuh Sasya.
Riki melepas ciumannya. Nafas mereka beradu. Sasya mencoba mengambil nafas sebanyak mungkin setelah merasa kehabisan oksigen.
Riki memulai lagi aksinya. Kali ini dia menciumi leher Sasya. Lagi-lagi Sasya hanya bisa pasrah. Tangan Riki tidak tinggal diam. Dia mencoba membuka kancing baju Sasya. Sasya pun menahan tangan Riki.
"Kenapa?" Tanya Riki. "Aku yakin ini bukan yang pertama kalinya buat kamu." Tebak Riki.
"Tapi ini pertama kalinya buat aku melakukannya dengan orang lain selain pacar aku." Kata Sasya pelan.
"Anggap saja sama. Kamu bisa membayangan aku sebagai pacar kamu." Jawab Riki santai.
Riki lalu melanjutkan aksinya. Dia melepas baju Sasya lalu membuangnya ke lantai. Riki juga melepas kaosnya, dan membuangnya juga ke lantai. Sasya menatap tubuh riki dengan seksama. Dalam beberapa detik dia sempat terpesona dengan bentuk tubuh Riki yang begitu kekar.
"Malam ini kamu milikku." Kata Riki. Dan membuat d**a Sasya semakin sesak karena jantungnya terus berpacu.
Riki membuka kancing celana jins Sasya, dan dalam hitungan detik celana jins Sasya sudah bernasib sama dengan bajunya dan kaos Riki.
Riki menghentikan sejenak kesibukannya, dia memandangi tubuh Sasya tanpa berkedip. Sasya semakin malu dengan tatapan Riki yang terus melihat tubuhnya yang sudah tidak tertutup sehelai benangpun.
Selanjutnya Riki malakukan apa yang seharusnya dia lakukan sesuai kesepakatan mereka, karena Riki juga sudah membayar lunas perjanjian mereka.
Setelah mendapatkan haknya, Riki menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Sasya. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Sasya yang membuat Sasya tersipu malu.
"You are so great, baby."
Sasya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Riki yang melihat tingkah Sasya, lalu mencium punggung tangan Sasya. Sasya lalu menarik selimut dan menutup tubuhnya sampai ke kepala.
Riki tertawa melihat tingkah Sasya yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Dia lalu bangkit dan mengambil pakaiannya di lantai, lalu berjalan ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Riki keluat dari kamar mandi. Dia melihat Sasya yang sudah tetidur dengan selimut yang hanya menutupi tubuh polosnya.
Riki menghampiri Sasya, dan memandang wajah Sasya dari dekat. Wajah cantiknya tetap terlihat meski saat dia tertidur. Tanpa sadar Riki mengusap rambut Sasya dan mencium keningnya. Sasya tidak bergerak sama sekali, dia sudah masuk ke alam mimpinya. Riki pun merebahkan dirinya di samping Sasya. Dan dalam hitungan menit, diapun masuk ke alam mimpinya.