Sasya benar-benar menghabiskan harinya di kamar Hotel. Dia tidak mau menyia-nyiakan kamar yang sudah terlanjur di bayar oleh Abangnya. Dari pagi dia menonton sederetan film yang di putar di televisi hotel sambil menghabiskan cemilan yang dia beli bersama Jeni dan Irene kemarin. Sampai akhirnya dia tersadar bahwa perutnya memberi tanda ingin segera diisi. Sasya melirik jam di kamar, pukul 13.30. Ternyata sudah siang. Tiba-tiba Sasya teringat Riki. Tadi Riki sempat bilang bahwa dia sedang tidak enak badan.
Sasya mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Riki.
"Mau makan siang bareng?"
Sasya meletakkan ponselnya lalu merapikan kasur yang penuh dengan bungkus camilan. Setelah membuang semua bungkus camilan itu ke sampah. Dia mengambil ponselnya lagi.
"Nggak dibalas. Apa tidur ya?" Tanya Sasya pada dirinya sendiri. Dia lalu menelepon Riki. Ada nada tersambung.
"Nggak diangkat. Tidur kali ya." Sasya mencoba berpikir positif. "Ya sudahlah, makan sendiri saja." Sasya lalu berjalan keluar dari kamar.
Sampai di depan lift, Sasya memencet tombol turun, dia ingin mencari makan di luar hotel. Sambil menunggu lift, Sasya melirik kamar Riki yang tertutup.
Pintu lift akhirnya terbuka, Sasya melangkah untuk masuk ke lift, tapi lagi-lagi dia melirik kamar Riki. Akhirnya setelah berpikir beberapa detik, Sasya memutuskan untuk berjalan keluar lift menuju kamar Riki. Pintu lift pun tertutup kembali.
Sasya menekan bel kamar Riki. Dia menekan berkali-kali tapi Riki belum juga membuka pintu kamarnya. Sasya mulai khawatir. Dia lalu menelepon lagi ponsel Riki, tapi tidak juga diangkat. Sasya menggedor kamar Riki dengan kencang sambil memanggil namanya.
"Kak...Kak Riki...!" Sasya terus menggedor dan memencet bel.
Tak berapa lama kamar Riki terbuka. Riki menampakkan wajahnya yang begitu pucat.
"Astaga, kamu nggak papa?" Tanya Sasya.
"Aku kira kamu polisi mau menggrebek kamar aku tahu nggak! Bikin kaget saja." Kata Riki dengan suara serak.
"Habisnya dipanggil nggak keluar-keluar. Di telepon juga diangkat. Bikin panik orang aja." Kata Sasya.
Riki lalu berjalan ke kasur dan merebahkan dirinya lagi.
Sasya memegang dahi Riki.
"Masih panas, lebih panas dari tadi pagi. Kamu sudah makan?" Tanya Sasya.
Riki menggelengkan kepalanya.
"Aku pesankan makan ya, sama obat sekalian." Tanya Sasya. Riki hanya diam tidak menjawab. Matanya terasa berat, dia pun memejamkan matanya lagi.
Sasya mengambil air hangat dan handuk kecil dari toilet. Dia lalu duduk di samping Riki. Sasya mulai memgompres dahi Riki. Riki terkejut, tapi dia tidak sanggup membuka matanya karena kepalanya sangat pusing. Sasya merawat Riki dengan penuh kesabaran. Riki mengeluarkan banyak keringat. Dengan pelan Sasya mengusap keringat di dahi Riki.
Bel berbunyi. Sasya membuka pintu. Seorang pelayan datang membawa pesanan makanan Sasya dan obat penurun panas.
"Terimakasih." Kata Sasya setelah memerima makanan dari pelayan hotel.
"Sama-sama. Saya permisi." Pamit pelayan itu.
Sasya segera membawa makanan ke kasur. Dia lalu membangunkan Riki.
"Bangun dulu. Makan dulu." Kata Sasya.
Riki membuka matanya. Perlahan dia mencoba bangun dan duduk dengan dibantu oleh Sasya.
"Makan dulu ya. Terus minum obat." Kata Sasya lagi.
Riki yang merasa sangat lemas tidak bisa membantah sedikitpun. Dia hanya bisa mengikuti semua yang dikatakan Sasya.
Sasya menyuapi Riki dengan sabar, seperti sedang menyuapi anak kecil.
"Sudah." Kata Riki.
"Kok sudah? Baru juga dua suap." Bantah Sasya. Dia lalu menyuapi Riki lagi. Dengan terpaksa Riki pun kembali membuka mulutnya.
Akhirnya Riki berhasil menghabiskan setengah mangkok bubur yang Sasya pesan dari kamar hotel. Sasya lalu memberi Riki minum. Dan lagi-lagi Riki hanya meminumnya sedikit.
"Lagi, yang banyak. Biar cepat turun panasnya." Kata Sasya. Riki pun menurut lagi pada Sasya.
Setelah selesai makan dan minum obat, Sasya membantu Riki untuk kembali tidur. Riki langsung memejamkan matanya lagi. Sasya merapikan selimut Riki, dan memastikan Riki tidur dengan nyaman.
Sasya duduk di sofa. Dia baru merasakan bahwa tubuhnya merasa lelah.
"Ternyata ngurus orang sakit itu capek ya." Kata Sasya pelan. "O iya, gue kan belum makan. Kenapa tadi gue nggak sekalian pesan makan ya. Gara-gara mikirin Riki sampai lupa sama perut sendiri." Sasya masih berkata dengan dirinya sendiri.
Sasya menyalakan televisi, lalu merebahkan dirinya di sofa. Tanpa terasa matanya sangat berat, dan akhirnya dia memejamkan matanya.
Beberapa jam kemudian. Riki membuka matanya. Dia merasakan tubuhnya masih lemas. Dengan pelan dia mencoba untuk duduk. Dia melihat ada baskom dan handuk kecil di samping kasur. Lalu dia teringat pada Sasya. Riki melihat televisi yang masih menyala di depan sofa. Dia pun lalu berjalan ke sofa. Riki tersenyum melihat Sasya yang tertidur di sofa. Riki mendekati Sasya. Dia berjongkok dan menatap wajah Sasya dari dekat. Tanpa sadar tangannya mulai menyentuh pipi Sasya dan merapikan rambut Sasya yang berada dipipinya.
Sasya mengerjapkan mata, dia membuka mata dan melihat Riki yang sudah berada di depannya.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Sasya.
Riki mengangguk.
Sasya mengulurkan tangannya untuk memeriksa dahi Riki lagi.
"Sudah dingin." Sasya lalu tersenyum.
Riki mengambil tangan Sasya, lalu menggenggamnya. Sasya terkejut. Sasya mulai panik karena wajah Riki hanya berada beberapa centimeter dari wajahnya.
"Makasih ya." Ucap Riki.
"Makasih kenapa?" Tanya Sasya.
"Karena sudah merawat aku." Jawab Riki dengan mengeluarkan senyuman manisnya.
Sasya lalu melepaskan tangan Riki dan bangkit dari tidurnya. Dia takut ada adegan lain yang akan dilakukan Riki kalau dia tetap berada di posisi itu.
Riki duduk di sebelah Sasya.
"Kamu sudah sembuh kan? Aku balik ke kamar ya." Tanya Sasya sambil berdiri dan buru-buru melangkah.
Tapi dengan cepat Riki mengambil tangan Sasya hingga Sasya menghentikan langkahnya.
"Sini dulu aku masih sakit." Kata Riki dengan manja. Riki lalu menarik tangan Sasya hingga Sasya terduduk kembali di sofa.
Riki meletakkan kepalanya di pangkuan Sasya. Sasya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Riki.
"Kamu ngapain?" Tanya Sasya.
"Kepala aku masih pusing. Bisa tolong pijitin?" Pinta Riki.
Sasya sedang berusaha menormalkan jantungnya yang berlarian entah kemana. Perlahan dia mulai memijit kepala Riki seperti yang diminta Riki. Riki tersenyum sambil tetap memejamkan matanya.
Tiba-tiba cacing di perut Sasya mulai berdemo karena sudah hampir malam mereka belum dikasih makan, hingga menimbulkan suara yang membuat keduanya terkejut.
"Kamu lapar?" Tanya Riki.
Sasya memelingkan wajahnya.
"Aku belum makan siang." Jawab Sasya.
"Kok bisa?" Tanya Riki lagi hingga membuat Sasya emosi dan menatap Riki dengan tajam.
"Kok bisa? Menurut kamu? Aku sibuk ngurusin kamu yang sakit sampai lupa makan siang." Jawab Sasya setengah berteriak.
"Iya, iya. Oke. Nggak usah pakai teriak juga kalik. Ya sudah sekarang kamu mau pesan apa, aku pesankan." Kata Riki.
"Pizza!" Jawab Sasya dengan cepat.