Liburan yang Tertunda

1046 Words
Pagi hari di hotel, Juna dan adik-adiknya memilih untuk sarapan pagi di hotel sebelum melanjutkan kegiatan mereka hari ini di Bandung. Karena Riki ikut sarapan bersama mereka, Juna dan adik-adiknya ikut mendapat pelayan yang spesial juga dari restoran hotel. "Wah, jarang-jarang nih kita makan di hotel bareng sama yang punya hotelnya." Kata Juna sambil melahap sandwichnya. "Makanya, jangan ada yang sisa ya. Habiskan semuanya." Kata Riki. Lalu seorang pelayan datang membawakan coklat panas. "Ini coklat panas kesukaan kamu." Kata Riki menyerahkan coklat panas itu pada Sasya. "Terimakasih." Ucap Sasya. "Lho kok cuma Kak Sya yang dikasih, kan kita juga pesan coklat panas." Protes Jeni. "Oya? Kapan kalian pesan?" Tanya Riki. "Tadi waktu pesan makanan." Jawab Jeni. "Ooh, ya tunggu sebentar lagi." Kata Riki lagi. Padahal memang Riki sudah memesan coklat panas untuk Sasya sebelum mereka memesan makanan. "Lagian tahu darimana lo kalau Sasya suka coklat panas?" Tanya Juna. Riki terdiam. Dia melakukan kesalahan lagi yang mebuat Juna curiga. "Iya, padahal bukan cuma kak Sasya aja yang suka coklat panas. Jeni dan Bang Juna juga suka coklat panas kan?" Tambah Irene. Lagi-lagi kata-kata Irene yang tanpa sadar dia ucapkan membuat semua yang ada disana terdiam. Menambah kecurigaan Juna pada sahabat dan adiknya itu. "Hm, Ren. Katanya kamu mau langsung cari kerja ya setelah lulus?" Tanya Riki mengubah topik pembicaraan. "Iya, kok Kak Riki tahu?" Tanya Irene. "Juna yang bilang." Jawab Riki sambil melirik Juna. "Lho, katanya mau lanjut kuliah?" Tanya Sasya. "Iya, sambil kuliah, Kak. Irene nggak mau nambahin beban Ibuk." Jawab Irene lagi. "Kalau mau di hotel, nanti aku coba bantu carikan kalau ada yang kosong. Dengar-dengar sih yang di Jakarta butuh beberapa admin lagi." "Mau, mau, Kak." Jawab Irene dengan semangat. Semua yang ada disana tertawa melihat wajah Irene yang menggemaskan seperti anak kecil. "Iya, besok aku kabarin lagi ya. Oya, Sya. Sekalian Maura juga dikabarin, kan dia juga mau kerja di hotel." Kata Riki pada Sasya. "Ya, Kak." Jawab Sasya. "Maura siapa?" Tanya Juna. Riki melirik Sasya. Dia lupa kalau Juna tidak tahu. "Hm, teman Sya, Bang. Kemarin dia nyari lowongan di hotel, jadi Sya tanya sama Kak Riki." Jawab Sasya. Riki lalu menganggukan kepalanya. Sarapan selesai. Semua kembali ke kamar dan bersiap untuk petualangan berikutnya di kota Bandung. Sasya, Jeni dan Irene sedang berisap di kamar. Mereka berganti pakaian dan memulas sedikit wajah mereka dengan make up natural. Setelah selesai mereka pun turun ke lobi menemui Juna dan Riki yang sudah menunggu disana. "Sudah siap?" Tanya Juna pada ketiga adiknya yang baru saja sampai. "Siap!" Jawab mereka bertiga kompak. "Yuk berangkat." Kata Juna. Saat hendak berjalan tiba-tiba ponsel Irene berbunyi. Dia lalu mengambil ponsel dari tasnya dan menjawab panggilan telepon yang masuk. Via telepon. "Halo." Jawab Irene. Sementara Juna dan yang lainnya tetap berdiri menunggu Irene menjawab telepon. Wajah Irene berubah seketika setelah mendengar seseorang bicara dari ponselnya. "Apa? I...iya... Irene pulang sekarang." Kata Irene dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. "Kenapa, Ren?" Tanya Jeni yang panik melihat Irene tiba-tiba menangis. "Irene harus pulang sekarang." Jawab Irene. "Iya, tapi kenapa?" Tanya Sasya sambil memegang tangan Irene. "Ibuk. Ibuk jatuh terus tidak sadarkan diri, sekarang Ibuk di Rumah Sakit." Jawab Irene lalu menangis dengan kencang. Jeni memeluk Irene mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Tenang, Ren. Iya kita pulang sekarang." Kata Jeni lalu melirik Abangnya. "Iya, kita pulang ke Jakarta sekarang." Kata Juna. Juna merangkul Irene membawanya kembali ke kamar. Sedangkan Jeni menggandeng tangan Irene berjalan disebelahnya. Beberapa saat kemudian, Juna, Jeni dan Irene sudah berdiri di depan pintu hotel dengan membawa tas mereka, diantar oleh Sasya dan Riki. Mereka menunggu valet yang sedang mengambil mobil Juna. "Abang sama Jeni nggak perlu ikut pulang, Irene bisa sendiri kok." Kata Irene merasa tidak enak. "Apaan sih, ngak mungkin lah kita biarin kamu pulang sendiri." Kata Jeni. "Iya, Abang sama Jeni antar kamu pulang." Tambah Juna. "Maaf ya gara-gara Irene kalian nggak jadi liburan." Kata Irene lagi. "Irene, ini bukan masalah besar, liburan bisa diganti lain hari, sekarang yang penting Ibu kamu." Kata Sasya sambil merangkul Irene. "Sasya benar. Ayo, mobil sudah datang." Ajak Juna lalu memasukkan tasnya ke bagasi. Riki membantu memasukkan tas Jeni dan Irene juga ke bagasi. "Thanks ya, Rik. Gue titip Sasya. Tolong antar dia pulang." Kata Juna saat berpamitan. "Siap, Bro. Tenang aja. Hati-hati di jalan ya." Jawab Riki. "Thanks." Juna, Jeni dan Irene lalu masuk ke mobil setelah berpamitan pada Sasya dan Riki. Sasya melambaikan tangannya pada adik-adiknya hingga mobil Juna melaju keluar dari hotel. Riki menatap Sasya, hingga membuat Sasya melirik pada Riki. "Kenapa?" Tanya Sasya. "Mau pulang sekarang?" Tanya Riki. "Hm, bang Juna sudah terlanjur bayar kamar untuk tiga hari, sayang kalau nggak dipakai." Jawab Sasya. "Terus?" Tanya Riki lagi. "Aku mau lanjut tidur lagi, pulang besok aja boleh kan? Aku mau puas-puasin dulu disini." Kata Sasya "Ya sudah terserah kamu." Riki lalu berjalan memasuki hotel lagi. Sasya dan Riki menaiki lift menuju kamar mereka. Riki terlihat tidak seperti biasanya, hari ini dia lebih banyak diam, membuat Sasya penasaran. Sasya melirik ke arah Riki. Ada yang lain pada wajah Riki. "Uhuk-uhuk." Riki terbatuk sambil membelakangi Sasya. "Kamu kenapa?" Tanya Sasya. "Nggak papa, cuma sedíkit pusing." Jawab Riki. "Muka kamu pucat banget. Kamu sakit?" Tanya Sasya lagi. "Agak nggak enak badan." Kata Riki. Sasya lalu mengulurkan tangannya memegang dahi Rikidan membuat Riki langsung terkejut. Dan dia sadar, jantungnya pun seketika berdebar dengan kencang. "Badan kamu panas." Kata Sasya. Riki mengambil tangan Sasya dari dahinya. Sasya lalu tersadar. Dia menjauhkan tangannya dari wajah Riki. "Maaf." Ucap Sasya. Riki tersenyum. "Aku nggak papa, istirahat bentar juga sembuh." Kata Riki lagi. Sasya mengangguk. "Kamu khawatir ya?" Tanya Riki. Sasya terkejut dengan pertanyaan Riki. "Apa? Siapa?" Tanya Sasya gugup. "Kamu. Tuh kelihatan wajah kamu panik pas tahu badan aku panas." Goda Riki. "Idih, ge er." Kata Sasya lalu dia memalingkan wajahnya. "Hehe, kalau khawatir bilang saja." Kata Riki lagi. Dan sukses membuat wajah Sasya merona. Lift berhenti di lantai tujuan mereka dan pintu lift pun terbuka. Sasya buru-buru keluar dari lift untuk menuju kamarnya. Riki mengikuti dari belakang. "Sya." Panggil Riki. Sasya pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Riki. "Apa?" Tanya Sasya sewot. "Makasih ya sudah khawatirin aku." Kata Riki menggoda Sasya lagi. "Ish, pede banget sih." Kata Sasya lalu berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Riki hanya tersenyum melihat tingkah Sasya yang menggemaskan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD