Alasan Sasya dan Riki

1041 Words
Jeni dan Sasya asik berseluncur dan menari dia atas arena skate. Mereka terbilang sangat ahli bermain skate karena Papa dan Mama mereka sering mengajak mereka bermain permainan ini sejak dulu. Sedangkan Irene terus berseluncur bersama Juna karena dia belum bisa dilepas sendiri. Juna dengan sabar mengajari Irene. Tidak sedetikpun Juna melepaskan tangannya dari Irene. Irene yang tadinya canggung, lama kelamaan dia jadi merasa nyaman bermain dan belajar bersama Juna. Jeni dan Irene sesekali melirik mereka dan berseluncur di dekat mereka sambil menggoda mereka. "Irene, muka kamu kok merah sih? Kedinginan ya?" Goda Jeni. "Eh, nggak kok." Irene langsung memegang pipinya dengan tangan satunya yang sedang tidak dipegang Juna. "Kamu kedinginan? Mau istirahat dulu?" Tanya Juna dengan sedikit panik. "Hm, nggak kok, Bang." Jawab Irene. Jeni tertawa puas setelah menggoda sahabatnya itu. Lalu dia menghampiri Sasya lagi setelah mendapat pelototan dari mata Irene. Sasya menatap Riki yang hanya terdiam di pinggir arena skate. "Kenapa Kak?" Tanya Jeni. "Itu, Kak Riki. Dari tadi kenapa diam saja disitu?" Kata Sasya sambil menunjuk Riki. "Kita samperin yuk." Kata Jeni lalu melesat menghampiri Riki. "Eh, tunggu, Jen." Sasya akhirnya menyusul Jeni. Jeni sampai di depan Riki. Tanpa aba-aba dia langsung menarik tangan Riki dan mengajaknya berseluncur bersama. "Jen, tunggu. Mau kemana?" Tanya Riki yang berusaha mengikuti langkah Jeni. "Seluncur lah." Jawab Jeni yang terus menarik tangan Riki "Jeni, stop! Tunggu... Aku..." Jeni berhenti tiba-tiba lalu melepas tangan Riki. Riki terkejut. Dia terus berseluncur melewati Jeni. Dia mencoba menyeimbangkan tubuhnya karena dia tidak bisa menghentikan kakinya yang terus saja berseluncur ke depan. "Jeni...! Toloooong...!" Riki terus saja berseluncur tak tentu arah. Jeni yang tersadar ada yang aneh pada Riki lalu berlari mengejar Riki. "Aaaaa... Tolooooong...!" Teriak Ríki. Riki sampai di depan Sasya yang juga sedang berusaha menghentikan Riki, tapi karena Riki berseluncur terlalu kencang dan tubuh Sasya yang kecil tidak bisa menahan tubuh Riki yang berat, alhasil Riki menabrak Sasya hingga mereka berdua terjatuh dengan posisi tubuh Riki diatas tubuh Sasya. Sasya dan Riki membuka mata mereka perlahan bersamaan. "Kak... Ka...mu... Berat..." Kata Sasya terbata sambil mencoba menyingkirkan tubuh Riki darinya. Riki mencoba untuk berdiri tapi tidak bisa. "A...aku nggak bisa berdiri." Kata Riki. Lalu datanglah Jeni, Juna dan juga Irene. Juna dan Jeni membantu Riki berdiri. Riki berhasil berdiri dengan dipegangi oleh Juna. Sedangkan Jeni lalu membantu Sasya berdiri. "Kamu nggak bisa main skate?" "Lo nggak bisa main skate?" "Kak Riki nggak bisa maim skate?" Sasya, Juna dan Jeni meneriaki Riki bersamaan. Riki menggeleng pelan sambil menahan malu. Juna, Jeni dan Sasya terkejut. Begitu juga Irene yang sudah bisa berdiri sendiri. Acara bermain skate selesai. Sekarang mereka menuju acara selanjutnya, yaitu makan malam. Mereka makan di salah satu Cafe yang berada diantara hotel Riki dan arena skate, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan mereka juga sudah sangat kelaparan akhirnya mereka memilih tempat makan yang terdekat. Mereka berlima telah memilih menu masing-masing. Tak sampai tiga puluh menit pesanan mereka datang satu per satu. "Selamat makan semua." Kata Jeni. Mereka pun mulai menyantap makanan mereka masing-masing. Sasya dan Jeni memesan spageti yang tak lain adalah makanan kesukaan mereka, sedangkan Riki dan Irene memesan steak. Juna sendiri memesan sup iga untuk menghangatkan tubuhnya. "Spagetinya masih enak yang di hotel Kak Riki." Kata Sasya yang duduk di sebelah Riki. "Masak? Cobain." Riki lalu mencoba spageti milik Sasya dengan garpu milik Sasya pula. "Iya, steaknya masih enak yang di Cafe waktu itu, yang diatas bukit." Kata Riki. "Iya kah? Coba juga dong." Pinta Sasya. Riki lalu menyuapi Sasya sepotong steak dengan garpu milik Riki. Tanpa mereka sadari, ada tiga pasang mata yang sedang menatap pada mereka dengan curiga. "Kalian sering makan bareng ya?" Tanya Juna. "Uhuk-uhuk!" Sasya dan Riki sama-sama terkejut dan tersedak makanan mereka mendengar pertanyaan Juna. "Ehem. Nggak kok, kata siapa?" Sasya melakukan pembelaan. "Terus sejak kapan kalian dekat sampai saling suap-suapan segala?" Tanya Juna lagi. "Masak sih? Dia bilang mau coba ya gue spontan suapin dia." Riki juga melakukan pembelaan. "Kalau Jen mau coba juga, Kak Riki mau suapin Jen juga?" Tanya Jeni. "Kamu mau coba juga?" Tanya Riki. Dia lalu memotong steaknya. "Ini." Riki menyuapi Jeni yang duduk di depannya. Jeni dengan senang hati nenerima suapan dari Riki. "Ngomong-ngomong, Cafe atas bukit mana, kak? Ada ya disini?" Tanya Irene dengan polosnya. Sasya dan Riki sontak langsung saling menatap. Juna pun menatap mereka dengan curiga. "Cafe atas bukit itu Cafe yang direkomendasikan Sasya ke aku waktu itu." Jawab Riki sekenanya. "Iya, jadi waktu itu Kak Riki tanya ke Kak Sya, Cafe yang bagus untuk dinner romantis dimana. Kak Sya kasih tahu Cafe itu." Tambah Sasya. "Iya. Itu." Kata Riki sambil cengengesan. "Ooh, jadi Kak Sasya pernah dinner romantis juga disitu sama pacarnya?" Tanya Irene lagi. Pertanyaan Irene memang selalu menjebak padahal dia sendiri tidak menyadarinya. "Hehe, ya gitu deh." Jawab Sasya sambil menggaruk tengkuknya. "Kamu masih berhubungan sama dia?" Tanya Juna yang mengejutkan semua orang yang ada di meja itu. "Eh, nggak. Maksud Sya Hana. Hana yang pernah dinner disana. Sya dikasih tahu Hana." Jawab Sasya panik. Riki menahan tawanya. Tapi suara cekikikan Riki masih terdengar oleh Sasya. Sasya lalu menendang kaki Riki. "Aduh!" Teriak Riki. "Kenapa, Kak?" Tanya Jeni. "Nggak papa, kayaknya ada semut gigit kaki aku." Kata Riki sambil mengusap kakinya yang baru saja ditendang Sasya. Makan malam selesai, mereka lalu kembali ke hotel. Mereka naik lift bersama. Kebetulan kamar mereka satu lantai dengan kamar Riki. Setelah pintu lift terbuka Riki langsung keluar terlebih dahulu lalu berbelok ke kanan menuju kamarnya. Di belakang Riki ada Sasya yang berjalan mengikutinya. "Kak Sya mau kemana?" Tanya Jeni. Sasya dan Riki menghentikan langkah mereka bersamaan. "Kamar kamu kan disana." Kata Juna sambil menunjuk arah yang berlawanan. Sasya tersadar, lalu tiba-tiba saja dia merasa panik. "Eh, iya..." "Kak Sya ngantuk ya? Ayo kita ke kamar." Kata Irene lalu menggandeng Sasya menuju kamar mereka. Diikuti Jeni dan Juna yang berjalan di belakang mereka. Juna semakin merasa curiga pada Riki dan adiknya. Juna menatap tajam pada Riki sebelum berjalan ke kamarnya yang berada di sebelah kamar adik-adiknya. Riki tersenyum pada Juna. Juna lalu meninggalkan Riki. Setelah Juna pergi, Riki lalu langsung memasuki kamarnya dan dengan cepat menutup pintu. Dia berdiri di belakang pintu sambil mengusap dadanya. "Astaga, Juna begitu menakutkan, rasanya kayak dia bakal makan gue hidup-hidup." Kata Riki ketakutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD