Ice Skating

1047 Words
Jeni dan Irene baru saja keluar dari sekolahnya. Hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah mereka. "Akhirnya selesai juga. Kita main yuk, Ren, buat ngerayain selesainya ujian sekolah kita." Kata Jeni pada Irene. "Main kemana? Irene belum bilang Ibuk." Jawab Irene. "Kita ke rumahku dulu, ganti baju, nanti kamu bisa telepon Ibuk dari rumahku, sekalian ijin menginap." Kata Jeni dengan menggebu-gebu. "Nginap? Nggak ah, Irene nggak mau." "Lhoh, kenapa?" "Irene belum siap ketemu Bang Juna, Irene masih malu." Jawab Irene. "Hahaha..." Jeni tertawa. "Kok malah ketawa sih. Kejadian waktu itu bikin Irene masih malu tahu nggak. Irene takut Bang Juna mikir macam-macam sama Irene." Kata Irene " Kamu nih kenapa sih, kan cuma gelas. Kenapa mikir sampai kemana-mana." "Bukan cuma gelas, Jen. Itu ada kata-katanya." "Sudah deh, Bang Juna nggak akan mikir macam-macam. Percaya sama aku." Tiba_tiba terdengar suara klakson mobil dan membuat perdebatan mereka terhenti. "Bang Juna." Kata Jeni saat melihat mobil di belakang mereka. Seketika Irene juga melihat mobil dibelakangnya. Benar sekali, mobil Bang Juna. Jeni menarik tangan Irene menuju mobil Juna. Juna membuka kaca mobilnya. "Abang ngapain kesini?" Tanya Jeni saat sudah sampai di samping pintu mobil Juna. "Abang mau pulang, kebetulan lewat sini lihat kalian berdiri di depan sekolahan, mau pulang nggak? Ayo sekalian." Ajak Juna. "Ayo." Langkah jeni terhenti saat Irene menarik tangannya. "Apaan sih, Ren. Ayo naik." Dengan terpaksa akhirnya Irene mengikuti Jeni naik ke mobil Juna. Irene duduk di kursi belakang, sedangkan Jeni duduk di kursi samping Juna. "Abang jam segini kok sudah pulang?" Tanya Jeni. "Abang mau ke Bandung, tapi pulang dulu mau ambil baju ganti." Jawab Juna sambil menyetir mobilnya. "Bandung? Kita boleh ikut, Bang?" Tanya Jeni dengan semangat. "Abang kerja, Jen." Jawab Juna. "Abang kerja ya kerja saja. Kita kan bisa di tempat Kak Sasya. Ya Bang? Kita butuh mengistirahatkan otak kita setelah seminggu dipakai buat mengerjakan ujian, lelah, Bang." Jeni mencoba merayu Juna. "Memang ujian kalian sudah selesai?" Tanya Juna. "Sudah, Bang. Hari ini terakhir." Juna nampak berpikir. Jeni menengok ke belakang mengedipkan satu matanya pada Irene. Irene hanya mengelengkan kepalanya. "Gimana, Bang?" Boleh kan?" "Ya, sudah. Nanti kabarin Kak Sasya dulu." "Asiiiik, kita ke Bandung, Ren." Teriak Jeni. "Tapi Irene belum bilang Ibuk. Irene juga belum persiapan." Kata Irene. "Nanti sebelum berangkat ke Bandung kita ke rumah kamu dulu, ambil baju ganti sekalian pamit sama Ibu kamu." Kata Juna sambil menatap Irene dengan tersenyum dari kaca spion. Irena yang ditatap Juna seperti itu jantungnya langsung berdebar tak karuan. Apalagi ditambah senyum Juna yang sangat manis menurutnya. Sasya sampai di hotel Riki. Pulang kerja dia sudah diberi kabar oleh Juna bahwa Jeni dan Irene akan menginap di Bandung. Kebetulan juga besok adalah akhir pekan, Juna meminta Sasya untuk menemani Jeni dan Irene tidur di hotel dan jalan-jalan di Bandung. Karena Juna mengadakan pertemuan dengan rekannya di hotel Riki, maka itu dia sekalian dia dan adik-adiknya menginap disitu. Sasya sampai di kamar Jeni dan Irene yang sudah sampai terlebih dahulu. Jeni membukakan pintu untuk Sasya. "Kak Sya!" Jeni langsung memeluk kakak perempuannya itu. "Hai, Jen. Loh, Irene mana?" Tanya Sasya. "Halo, Kak." Sapa Irene yang sedang menonton televisi di atas kasur. Mereka lalu duduk di sofa bersama sambil membicarakan rencana mereka selama liburan di Bandung. Tentu saja Sasya yang akan menjadi pemandu wisata mereka. Hari sudah mulai gelap. Jeni, Irene dan Sasya sudah bersiap untuk mulai menjelajahi kota Bandung. Malam ini mereka memilih untuk bermain ice skating sebagai pemanasan. Mereka juga mengajak Juna, atau lebih tepatnya memaksa Juna untuk ikut karena sebenarnya Juna ingin beristirahat di hotel. Sampai di lobi, Juna mengirim pesan ada seseorang. "Bang, nungguin siapa?" Tanya Sasya saat melihat Juna celingukan mencari seseorang. Tak lama dia melihat seseorang yang ditunggunya. "Itu." Jawab Juna sambil menunjuk seseorang dihadapannya. "Riki." Sasya terkejut melihat Riki yang berjalan ke arah mereka. "Kak Riki? Kak Riki ikut?" Tanya Jeni sambil melonjak kegirangan melihat Riki yang akan ikut dengan mereka. Saat ini mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Jeni, Irene dan Sasya sudah siap dengan sepatu skate mereka dan bersiap memasuki arena skate. Irene nampak ragu untuk masuk. "Ayo, Ren. Aku pegangi kamu." Kata Jeni. "Irene takut, Jen. Irene nggak bisa." Kata Irene dengan wajah pucat. "Tenang saja, Ren. Kita bakal jagain kamu kok. Ayo coba jalan pelan-pelan. " Kata Sasya. Mereka bertiga berseluncur bersama. Jeni dan Sasya tidak melepaskan tangan mereka sedetikpun pada Irene. Irene perlahan sudah mulai menikmati permainan, wajah pucatnya saat ini sudah tergantikan dengan tawa riang. Sementara dari jauh nampak dua orang pria yang sedang duduk memandangi tiga orang gadis yang sedang bermain skate dengan ceria. "Mau kemana lo?" Tanya Riki pada Juna yang sudah berdiri dari kursinya. "Mau ikut senang-senang sama mereka." Jawab Juna. Riki kembali mengalihkan pandangannya ke arena skate. "Ayo ah." Kata Juna sambil menarik tangan Riki. "Eh, Jun. Gue nggak mau ikut." Kata Riki menahan tangannya yang ditarik Juna. Tapi Juna tidak mendengarkannya. Dia terus menarik tangan Riki. Juna dan Riki sudah memakai sepatu skate mereka. Juna sudah memasuk arena skate. Sedangkan Riki masih berdiri di dekat pintu masuk. "Ayo." Ajak Juna. "Lo duluan aja." Kata Riki. Juna lalu meninggalkan Riki dan berseluncur menghampiri adik-adiknya. Jeni dan Sasya berseluncur mundur. Jeni memegang tangan kanan Irene sedangkan Sasya memegang tangan kiri Irene. Mereka sedang mengajari Irene agar Irene bisa berseluncur sendiri. Jeni melihat Abangnya yang sedang berseluncur ke arah mereka. Terbesit sebuah ide di kepalanya. Dia melirik pada Sasya yang juga sedang melirik padanya. Dengan senyum jahil Jeni, Sasya pun mengerti maksud Jeni. "Satu... Dua..." Jeni dan Sasya mulai menghitung. Irene melihat Jeni dan Sasya dengan wajah bingung. Juna datang dari arah belakang Irene. "Tiga!" Teriak Jeni dan Sasya bersamaan. Lalu mereka melepas tangan mereka dari Irene, dan Jeni mendorong pelan tubuh Irene ke belakang. "Aaaaaa...!" Irene berteriak karena kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik tubuh Irene sudah ditangkap oleh Juna dari belakang. Irene terkejut. Wajahnya kembali pucat. Dia melihat ke belakang, dan nampaklah wajah Juna. Jantungnya mulai berdegup kencang lagi. "Kamu nggak papa?" Tanya Juna. Irene menggeleng pelan. Juna melihat kedua adiknya itu sedang cekikikan, lalu berseluncur jauh meninggalkan Juna dan Irene berdua. Juna membantu Irene berseluncur sambil memegang Irene. Sedangkan Irene sibuk menata degup jantungnya agar kembali normal seperti sedia kala. Tapi sepertinya tidak bisa. Jangankan kembali normal, jantungnya malah berdegup semakin kencang karena tangannya saat ini sedang digenggam oleh Juna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD