Basah

1132 Words
Sampai di mobil, Riki membuka pintu mobil dan memasukkan Sasya. Setelah itu dia berlari ke arah pintu sopir, lalu masuk ke mobil. Dia mengambil handuk kecil dari dashboard di depan Sasya, lalu memberikannya pada Sasya. "Keringakan rambut kamu." Titah Riki. Sasya lalu mengambil handuk dari tangan Riki, dan mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba saja Riki membuka kemejanya yang basah yang dia kenakan, hingga membuatnya telanjang d**a. Lalu mendekatkan tubuhnya pada Sasya. Sasya terkejut. "Kamu mau ngapain?" Tanya Sasya. Lalu tangan Riki terulur ke belakang, mengambil sesuatu di kursi belakang. "Mau ambil ini." Jawab Riki sambil menunjukkan sebuah kaos ke hadapan Sasya. Dalam hitungan detik, Riki berganti pakaian dengan kaos. Riki tersenyum melihat Sasya yang nampak malu. Dia lalu mengambil handuk dari tangan Sasya, lalu mengeringkan rambut Sasya. "Sebelah sini masih basah, nanti kamu bisa kena flu." Kata Riki sambil terus mengeringkan rambut Sasya. Setelah selseai, Sasya mengambil kembali handuk dari tangan Riki. Lalu dia menaruh handuk di kepala Riki dan gantian mengeringkan rambut Riki. "Rambut kamu juga basah " kata Sasya, sambil terus mengeringkan rambut Riki. Wajah Sasya tepat berada di depan Riki. Membuat jantung Riki tidak berhenti berdebar. Dia melihat bibir Sasya, membuatnya teringat di malam saat pertama kali dia mencium Sasya. Riki memegang tangan Sasya yang sedang sibuk mengusap rambutnya. Membuat Sasya sontak berhenti. Mereka saling menatap. Riki tak kuasa menahan hasratnya untuk mencium bibir Sasya saat itu juga. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir Sasya. Sasya masih terdiam. Saat jarak antara bibir mereka tinggal beberapa centimeter lagi, tangan Riki terulur ke belakang mengambil kaos di kursi belakang. Dengan cepat lalu memberikannya pada Sasya. Sasya terkejut, lalu dia tersadar bahwa sesaat tadi merasa seperti tersihir oleh wajah tampan Riki. Tak bisa dipungkiri, rambut Riki yang berantakan setelah dikeringkan membuatnya tampak 10 kali lebih tampan dari biasanya. Sasya memgambil kaos yang diberikan oleh Riki. Riki bersyukur karena dia berhasil mengalahkan setan yang terus berbisik menyuruhnya mencium bibir Sasya. "Ganti baju kamu, kalau kamu nggak mau bikin aku tegoda dengan sesuatu di balik baju kamu yang menerawang itu" Kata Riki sambil melihat bagian d**a Sasya yang menampakkan dengan jelas pakaian dalamnya karena bajunya yang berwarna putih itu menerawang karena basah. Sasya melihat ke arah yang sedang dilihat oleh Riki. Lalu dengan cepat dia menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Kamu!" Teriak Sasya. Riki tertawa, lalu memalingkan wajahnya ke depan. "Cepat ganti, nanti masuk angin." "Ganti disini? Di depan kamu?" Tanya Sasya. "Aku tadi juga ganti di depan kamu." Jawab Riki. "Yang benar saja." "Emang kenapa? Aku juga sudah pernah liat semuanya." Kata Riki dengan tetap memandang ke depan. Sasya terdiam. "Hadap sana, jangan ngintip." Kata Sasya lalu membuka bajunya yang basah dengan cepat dan menggantinya dengan kaos yang diberikan Riki. "Bahkan aku masih hafal setiap lekuk tubuh kamu." Kata Riki pelan tapi masih bisa di dengar Sasya. Sasya memukul kepala Riki. "Auw!" Teriak Riki. Lalu berbalik melihat Sasya. "Sakit tauk!" "Salah siapa masih ingat-ingat tubuh aku." Kata Sasya. Riki tersenyum. "Emang kamu nggak ingat? Kamu bisa lupain gitu aja?" Riki menggoda Sasya. Nampak wajah Sasya yang sudah merona. "Iya, aku sudah lupa. Dan aku nggak mau ingat-ingat lagi." Jawab Sasya. "Tapi aku nggak bisa lupa tuh, sekeras apapun aku coba untuk lupa, tapi nggak bisa." Kata Riki. "Emang kamu nya yang mesum." Jawab Sasya kesal. Tidak tahu apa jantungnya sudah berdebar kalau ingat kejadian malam itu bersama Riki. "Entah aku yang m***m, atau kamu yang memang susah dilupakan." Kata Riki lagi. Jantung Sasya tiba-tiba berdebar dengan kencang mendengar ucapan Riki. Lalu dia menoleh pada Riki. Dilihatnya Riki yang sedang menatapnya dengan serius, membuat Sasya hampir tak bisa mengendalikan jantungnya karena Riki yang terlihat sangat tampan dengan tatapan serius. Sasya menjadi salah tingkah. "Ehem. Sudah malam, ayo pulang." Sasya mencoba mengalihkan pembicaraan. Riki kembali tersenyum. Dia pun akhirnya berhenti menggoda Sasya karena wajah Sasya terlihat sudah sangat merah. "Kaos nya cocok dipakai kamu." Kata Riki, lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya. Dalam perjalanan Sasya hanya melihat ke samping jendela, dia tidak sanggup lagi menatap Riki. Sampai di depan kosan, Sasya membuka sabuk pengamannya, dan bersiap untuk turun. Tangan Riki menahan tangan Sasya. Sasya yang merasa ditahan untuk turun lalu menatap Riki. "Hm?" Tanya Sasya. "Makasih ya, sudah mau menemani aku." Kata Riki. "Iya, sama-sama." Jawab Sasya dengan lembut, berbeda seperti biasanya. Lalu Riki melepaskan tangannya, Sasya pun turun dari mobil. Riki pergi setelah melihat Sasya masuk. Sasya berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang tidak dia mengerti. Hingga dia tidak menyadari bahwa Hana sudah berdiri di depan kamarnya. "Dari mana, Neng?" Tanya Hana membuat Sasya terkejut. "Han? Lo sudah pulang?" Tanya Sasya. "Gue yang harusnya nanya, jam berapa ini baru sampai kos?" Tanya Hana layaknya ibu kos yang mendapati anak kos nya pulang melebihi jam malam. "Habis jalan." Jawab Sasya sambil membuka kunci kamarnya, lalu masuk. Hana mengekor di belakang Sasya. "Sama siapa?" Tanya Hana kepo. "Sama teman." "Teman mana? Emang lo punya teman yang gue nggak kenal?" "Ya ada, teman pokoknya." Sasya mulai gugup. "Sama Kak Riki kan?" Sasya terkejut Hana bisa menebak dengan benar. "Tahu dari mana lo?" "Gue lihat lo turun dari mobil Kak Riki." Jawab Hana. Terjawab sudah Hana bisa tahu. Kenapa juga mesti nanya, batin Sasya. "Oh, itu. Gue cuma... nemenin dia saja kok." Jawab Sasya terbata. "Hahaha... Santai aja kalik, Sya. Gue nggak akan bilang sama Dafa." Kata Hana yang ternyata hanya menggoda Sasya. "Hehe... Siapa juga yang takut kalau lo bilang sama Dafa." Jawab Sasya dengan senyum terpaksa. "Terus ini apa?" Tanya Hana sambil menunjuk kaos yang dipakai Sasya. "Ini? tadi kita kehujanan, terus Kak Riki minjemin kaosnya karena baju gue basah kuyup." Jawab Sasya. "Ooo..." Hana ber ooh ria. "Ya sudah gue mau mandi dulu." Kata Sasya. "Ya sudah mandi, gue mau disini." Kata Hana langsung merebahkan tubuhnya di kasur Sasya. Sasya menggelengkan kepalanya. "Terserah lo." Kata Sasya lalu langsung masuk ke kamar mandi. Tak lama setelah Sasya masuk ke kamar mandi, ponsel Sasya berdering. Hana melirik ponsel Sasya yang Sasya letakkan di nakas sebelum masuk ke kamar mandi. Hana melihat nama Riki disana. Lalu Hana mengambil ponsel itu dan mengangkatnya. Via telepon. "Halo." Jawab Hana. "Hai, sudah mandi?" Tanya Riki. "Ini lagi mandi." Jawab Hana. Riki sadar bahwa yang menjawab bukan suara dari Sasya. "Ini siapa?" Tanya Riki. "Hehe, ketahuan ya. Ini Hana, Kak. Sasya lagi mandi." Jawab Hana yang akhirnya mengaku. "Ooh. Ya sudah kalau gitu. Nanti aku telpon lagi." Kata Riki. "Siap, Kak. Nanti aku sampaikan ke Sasya." Setelah Hana menutup teleponnya, Sasya keluar dari kamar mandi. "Siapa?" Tanya Sasya "Cowok lo." Jawab Hana. "Siapa?" Tanya Sasya lagi. "Memang cowok lo ada berapa?" Goda Hana. Sasya lalu merebut ponselnya dari Hana. Dan melihat riwayat panggilan. "Ciee yang punya cowok baru." Kata Hana sambil berlari keluar dari kamar Sasya. Sasya melihat nama Riki di riwayat panggilannya. Dia hendak mengklarifikasi, tapi Hana sudah menghilang dari balik pintu kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD