Nge- date

1063 Words
Selesai meeting, Riki melirik jam di tangannya. Sudah jam 4. Dia lalu bergegas keluar dari ruang meeting lalu berjalan ke parkiran mobil. Riki melajukan mobilnya dengan santai, karena sore ini jalanan nampak belum ramai. Tak lama kemudian dia sudah sampai di depan sebuah kantor. Setelah memarkirkan mobilnya, dia lalu mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan. "Aku di depan kantor kamu. Cepetan keluar." Ketik Rki lalu mengirim pada seseorang. Sasya sedang merapikan meja kerjanya, memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. Saat hendak berdiri, dia mengambil ponselnya yang ternyata ada sebuah pesan masuk. Sasya membuka pesan itu lalu terbelalak karena terkejut. Dia langsung bergegas lari keluar kantor. Sampai di luar, dia melihat Riki yang ternyata benar-benar sudah berada di luar kantornya, yang sedang berdiri menyandar pada mobilnya. Sasya melihat sekelilingnya, dimana orang-orang sedang menatap ke arah Riki. Bagaimana tidak, seorang laki-laki tampan yang bersandar di mobil mewah, jelas menarik perhatian semua orang, terutama para wanita. Sasya berlari ke arah Riki, tanpa menoleh pada Riki, dia langsung masuk ke dalam mobil Riki. Riki yang melihat Sasya sudah masuk ke dalam mobilnya, dia pun lalu ikut masuk. "Kamu ini benar-benar ya, ngapain coba di kantor aku?" Tanya Sasya kesal. "Jemput kamu." Jawab Riki. "Emang siapa yang minta dijemput?" Sasya menaikkan sedikit nadanya. "Nggak ada memang. Tapi aku mau ngajak kamu ke suatu tenpat, makanya aku jemput kamu?" Jawab Riki. "Kenapa ambil keputusan sendiri? Kenapa nggak tanya dulu?" Tanya Sasya semakin kesal. "Kalau aku tanya dulu, kamu pasti nggak mau." Jawab Riki. Sasya terdiam. Memang benar dia pasti akan langsung menolak kalau Riki mengajaknya. Tapi kenapa juga harus langsung datang ke kantor. Untung saja Hana lagi ada tugas di luar kantor sejak siang tadi, yang membuat dia tidak kembali lagi ke kantor, melainkan langsung pulang ke kosan. "Tapi tetap saja, harusnya kamu bilang dulu." Kata Sasya dengan nada yang sudah mulai normal. "Iya, maaf. Kita jalan ya." Kata Riki langsung melajukan mobilnya. Suasana hening sejenak. Riki beberapa kali melirik pada Sasya yang terus mengarahkan pandangannya ke samping jendela. "Kita nonton, yuk." Kata Riki tiba-tiba. Sasya langsung menoleh pada Riki. "Tiba-tiba banget. Kamu benar-benar nggak ada kerjaan ya?" Tanya Sasya sinis. "Justru aku seharian banyak kerjaan, makanya mau ngajak kamu refreshing." Jawab Riki. "Terserah deh." Jawab Sasya pasrah. Sudah terlanjur juga dia masuk mobil Riki. Riki tersenyum melihat Sasya yang mulai melunak. 20 menit kemudian mereka sampai di sebuah Mall. Riki memarkirkan mobilnya. Lalu dia dan Sasya turun dari mobil dan berjalan bersama memasuki Mall, dan langsung menuju bioskop. Sebelum masuk ke dalam bioskop, ponsel Riki berdering. Dia mengambil ponsel dari saku jasnya. "Kamu pilih dulu filmnya, nanti aku nyusul." Kata Riki pada Sasya. Tanpa menjawab Riki, Sasya langsung masuk ke dalam bioskop. Tak lama Riki masuk setelah selesai menerima telepon dari kantor. Dia lalu menghampiri Sasya yang sedang duduk di kursi tunggu "Sudah pilih filmnya?" Tanya Riki. Sasya lalu memperlihatkan dua tiket ditangannya. "Lho, kamu sudah beli? Kan aku suruh pilih dulu, nanti aku yang bayar." Kata Riki. "It's oke. Ini juga uang kamu kok." Jawab Sasya. "Apa?" Tanya Riki tidak paham dengan ucapan Sasya. "Aku kan masih pegang sisa uang kamu." "Uang apa?" Tanya Riki bingung. "Seratus juta. Aku bohong sama kamu, yang aku butuhin nggak sebanyak itu. Aku akan kembalikan sisanya, kamu kirim nomor rekening kamu ya." Jawab Sasya. "Aku kan sudah bilang, nggak usah dibalikin." Kata Riki. "Tapi tetap saja..." "Kalau kamu masih mau lanjutin pembicaraan ini, aku akan beritahu Juna tentang kita." Ancam Riki. Lalu sukses membuat Sasya diam seribu bahasa. Di dalam bioskop, Sasya tidak bicara sedikitpun pada Riki. Riki merasa bersalah sudah mengancam Sasya. Sesekali Riki melirik Sasya yang sedang fokus dengan film sambil memakan pop corn yang dibeli Riki tepat sebelum masuk ke dalam bioskop. Film berlangsung selama satu setengah jam, selama itu pula Sasya dan Riki terdiam tanpa saling bicara. Mereka berjalan keluar bioskop. Sasya masih saja terdiam. Membuat Riki merasa canggung. "Maafin aku ya." Kata Ríki memulai pembicaraan. Sasya menoleh pada Riki. "Kenapa minta maaf?" "Aku nggak bermaksud mengancam kamu." "Bagus lah kalau kamu merasa bersalah." Jawab Sasya acuh. "Ya sudah kamu boleh kembalikan uangnya. Tapi nggak usah di transfer." Kata Riki. "Oke, aku kasih cash ke kamu." "Aku nggak mau kamu kembalikan berupa uang." Kata Riki. Sasya berhenti berjalan. Lalu menghadap pada Riki. "Jangan coba-coba ya. Kamu mau bilang kalau aku harus bayar dengan tidur sama kamu lagi." Kata Sasya setengah berbisik. "Idih, Ge er. Siapa juga yang mau tidur sama kamu lagi." Jawab Riki. "Terus?". "Aku mau kamu temenin aku kalau aku lagi di Bandung, kamu bisa bisa kembalikan uangku dengan cara traktir aku makan, atau nonton kayak tadi." "Kenapa aku harus mau?" Tanya Sasya. "Karena kamu pasti mau. Aku cuma kenal sama kamu di Bandung, kamu tega?" Kata Riki sambil memelas. Alih-alih menjawab Riki, Sasya justru teralihkan pandangannya pada sebuah taman di luar gedung bioskop. "Wah, bagus banget. Sejak kapan ada taman disini?" Kata Sasya. Riki yang merasa diacuhkan lalu melihat ke arah yang Sasya lihat. Ada sebuah taman dengan lampu-lampu yang indah. Sasya lalu berjalan meninggalkan Riki. Riki menarik nafas panjang. Bisa-bisanya Sasya mengacuhkan dia hanya karena sebuah taman. Riki pun dengan terpaksa mengikuti Sasya menuju ke taman tersebut. Ternyata itu benar-benar taman yang indah. Yang dihasi dengan lampu berwarna-warni di pohon-pohon kecil yang tertata rapi di taman itu. Ada banyak sekali orang-orang yang berfoto disitu. Sasya tak kalah antusias, dia mengambil ponselnya dan mulai mengambil gambar lampu-lampu yang indah itu, sejenak dia lupa bahwa dia datang bersama Riki. Riki melihat Sasya tanpa berkedip. Dia terpesona melihat senyuman Sasya yang selama ini jarang sekali dia lihat, bahkan tidak pernah. Lalu Riki mengambil ponselnya dan mengabadikan pemandangan langka itu, yaitu Sasya yang sedang tersenyum lebar. Tiba-tiba saja jantung Riki berdegup kencang. Saat sedang asik memoto, tiba-tiba orang-orang pada berlarian meninggalkan taman. Sasya merasakan rintik hujan membasahi tangannya. Lalu dengan cepat Riki mengambil tangan Sasya dan menariknya. Sasya yang terkejut hanya bisa mengikuti langkah cepat Riki. Sasya dan Riki berteduh di sebuh pohon besar. Bersama beberapa orang yang juga terjebak disana karena hujan yang tiba-tiba. Riki melihat Sasya yang sudah basah kuyup. Lalu dia segera membuka jasnya. "Hujan kayak gini pasti lama. Ayo lari ke mobil." Kata Riki. Lalu dia membentangkan jasnya di atas kepalanya dan Sasya, membuatnya menjadi payung, Tanpa aba-aba Riki berlari dan tentu saja membuat Sasya mau tak mau mengikutinya. Mereka berlari di bawah hujan dengan jas sebagai pelindung mereka bagaikan di drama korea.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD