Sasya terkejut mendengar jawaban Riki. Dia langsung melihat ke arah Hana. Ternyata Hana sedang sibuk bicara pada si penjual untuk memesan makanan. Sasya beharap Hana tidak mendengar ucapan Riki barusan.
"Kamu gila, ya?" Ucap Sasya kembali berbisik.
"Iya, aku gila karena nggak bisa melupakan kejadian malam itu di hot..." Sasya langsung membekap mulut Riki sebelum Riki sempat menyelesaikan perkataannya.
"Ssssstt...!"
Hana berjalan ke arah mereka. Sasya dengan cepat melepaskan tangannya dari mulut Riki.
"Kenapa kalian?" Tanya Hana.
"Nggak papa." Jawab Sasya sambil tersenyum.
Hana lalu duduk di sebelah Sasya.
"Kakak biasa makan di tempat kayak gini juga?" Tanya Hana.
"Iya. Kenapa memang?" Tanya Riki bingung dengan pertanyaan Hana.
"Nggak papa sih, nanya saja. Soalnya kalau dilihat dari mobil Kakak, kayaknya Kakak nggak kayak orang yang biasa makan di pinggir jalan kayak gini." Kata Hana .
"Aku orangnya fleksibel kok, bisa makan dimana saja." Jawab Riki.
Lalu minuman mereka pun datang. Hana membagi minuman sesuai pesanan mereka.
"Kakak kerja di Bandung juga? Apa memang tinggal di Bandung?" Tanya Hana lagi. Dia penasaran pada Riki hingga terus mengorek informasi tentang Riki.
"Aku tinggal di Jakarta, ada urusan kerjaan di Bandung, jadi ya sekalian saja mampir nengok Sasya." Jawab Riki. Sasya menatap Riki dengan sinis.
"Oooh." Jawab Hana.
"By the way. Aku ketemu Dafa kemarin." Ucap Riki tiba-tiba.
"Uhuk-uhuk!" Sasya terkejut mendengar Riki menyebut nama Dafa hingga membuatnya tersedak. Hana spontan mengelus punggung Sasya.
"Lo nggak papa, Sya?" Tanya Hana sambil terus mengelus punggung Sasya.
"Nggak papa." Jawab Sasya. Sasya merasa bingung, dari mana Riki tahu tentang Dafa. Bahkan dia tidak pernah memberitahu Riki nama pacarnya itu.
"Kakak kenal Dafa juga? Ketemu dimana, Kak?" Tanya Hana.
"Di cafe, lagi manggung." Jawab Riki santai.
"Manggung? Perasaan semalam Bagas dirumah saja telponan sama gue." Kata Hana menatap Sasya.
"Bukan sama anak-anak." Jawab Sasya.
"Oh! Mira!" Kata Hana dengan kencang membuat Sasya dan Riki terkejut.
"Sssttt..." Sasya memperingatkan Hana.
"Benar-benar ya Dafa. Dia bilang nggak sama lo?" Tanya Hana. Sasya menggelengkan kepalanya.
"Dasar tu anak." Sasya memukul paha Hana dibawah meja. Hana tersadar. Dia lalu menatap Riki, lalu tersenyum.
"Hehe, maaf, Kak." Kata Hana dengan senyum terpaksa.
"Mira? Kemarin dia sih di belakang panggung sama cewek, Mira itu kali ya?" Tanya Riki sengaja membuat Sasya panas.
Wajah Sasya sudah nampak merah, Riki yang melihatnya tertawa dalam hati, entah kenapa ada perasaan puas di hatinya karena sudah memberitahu Sasya tentang kelakuan buruk kekasihnya saat dibelakangnya.
Tak lama makanan pun datang. Mereka lalu menyantapnya.
"Sory ya, kalau omonganku buat kamu jadi kepikiran, aku nggak bermaksud." Kata Riki tiba-tiba.
Sasya dan Hana langsung menoleh pada Riki.
"Hm, nggak papa." Jawab Sasya lirih.
"Aku tahu dari Juna, kalau kalian malam sebelumnya sudah bertemu, dan semalam saat Juna bertemu lagi dengan Dafa, Juna nampak kesal, lalu dia bilang kalau laki-laki itu adalah pacar kamu, yang nggak pernah disukain Juna." Cerita Riki panjang lebar.
"Emang kenapa, Kak, Bang Juna nggak pernah suka sama Dafa? Bang Juna cerita nggak?" Tanya Hana penasaran, walaupun sebenarnya dia sudah tahu, karena Sasya tidak pernah menutupi satu rahasia pun dari Hana, kecuali malam pertamanya dengan Riki di hotel.
"Entah." Jawab Riki sambil menaikkan kedua pundaknya.
Sasya merasa lega, karena Abangnya nggak cerita banyak soal Dafa pada Riki. Padahal sebenarnya, Riki sudah tahu semuanya dari cerita Juna.
"Kadang gue nggak habis pikir deh sama Dafa, kenapa dia tega sama elo sih, Sya? Setelah banyak yang udah lo lakuin buat dia." Hana terlihat nampak kesal. Lagi-lagi Sasya memukul paha Hana.
"Emang pantas kalau Bang Juna nggak suka sama dia." Kata Hana lagi dengan lirih, tapi Riki masih tetap mendengar. Kali ini Sasya mencubit paha Sasya.
"Aduh!" Hana melotot pada Sasya, tapi Sasya tak kalah besar memelototkan matanya, hingga membuat Hana akhirnya diam.
Acara makan selesai, Riki beranjak untuk membayar semua makanan mereka. Sasya dan Hana menunggu di luar. Tak lama Riki keluar sambil memasukkan dompetnya ke saku jaketnya.
"Makasih, ya, Kak. Jadi enak kita makan gratis." Kata Hana tanpa malu-malu.
"Santai saja." Jawab Riki. Mereka lalu berjalan kaki lagi kembali ke kosan Sasya dan Hana. Riki berjalan di belakang mereka..
"Oya, jadi Kakak malam ini masih nginap di Bandung?" Tanya Hana.
"Masih."
"Nginapnya dimana, Kak?" Tanya Hana lagi.
"Hotel."
"Ooo..."
Mereka pun sampai, karena memang jarak rumah mereka yang tak jauh dari warung pecel lele tempat mereka makan tadi.
"Sya, gue masuk duluan ya, Bagas telepeon." Kata Hana pada Sasya sambil menunjukkan ponselnya, benar ada panggilan masuk dari Bagas. Sasya lalu mengangguk.
"Kak, makasih ya makan malamnya. Aku masuk duluan ya, Kak." Kata Hana pada Riki, belum sempat Riki menjawab, Hana sudah berlari masuk ke dalam. Tinggalah Riki dan Sasya berdua.
"Ehem. Makasih, ya uda traktir kita makan malam." Kata Sasya .
"Sama-sama." Jawab Riki.
"Ya sudah, kamu pulang gih, aku mau masuk." Kata Sasya.
"Kamu ngusir?" Tanya Riki. Dia tidak menyangka bahwa Sasya akan mengusirnya setelah dia membayar makan malamnya dengan Hana.
"Ya habis, mau ngapain lagi kamu disini?" Tanya Sasya.
"Aku kan sudah bilang, aku nggak punya temen di Bandung, yang aku kenal cuma kamu." Jawab Riki
"Tapi kenapa? Kita kan sudah janji kalau nggak usah ketemu lagi setelah.." Sasya menggantungkan kalimatnya.
"Setelah malam pertama kita?" Kata Riki dengan santai meneruskan kalimat Sasya. Sontak Sasya langsung membekap lagi mulut Riki.
"Gila kamu, ya? Kalau ada yang dengar gimana?" Sasya berbisik tepat di depan wajah Riki. Riki tertawa, lalu melepaskan tangan Sasya dari mulutnya.
"Siapa yang dengar? Sepi gini kok. Liat aja nggak ada orang kan?" Kata Riki.
Sasya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menengok ke belakang. Benar, untung saja tidak ada orang.
"Ya sudah, aku pulang. Tapi besok aku kesini lagi, ya." Kata Riki sambil berjalan ke arah mobil.
"Apa? Ngapain kesini lagi? Awas aja ya kalau kamu berani kesini lagi." Ancam Sasya. Tapi Riki mengabaikannya, dia melambaikan tangannya pada Sasya sebelum masuk ke mobil. Sasya terlihat sangat geram.
Riki menurunkan kaca mobilnya untuk melihat Sasya sebelum benar-benar pergi.
"Jangan kangen ya!" Teriak Riki dari dalam mobil. Sasya membelalakkan matanya. Tapi Riki sudah melajukan mobilnya dengan kencang.
"Astaga, itu anak kenapa ya. Tiba-tiba muncul, terus ngomong nggak jelas." Sasya bicara sendiri sambil memegang keningnya.
Di dalam mobil Riki tersenyum sendiri. Dia merasa senang sekali malam ini. Entah karena dia bisa menjahili Sasya, atau karena dia sudah melihat wajah Sasya yang selama ini selalu ada dipikirannya.