Riki berjalan ke arah belakang panggung. Dia melihat Dafa sedang berdiri di depan seorang wanita yang datang bersamanya tadi, yang tak lain adalah Mira. Mira sedang merapikan pakaian Dafa, lalu tangannya menyentuh rambut Dafa untuk merapikannya juga. Entah kenapa Riki sangat kesal melihat pemandangan itu. Apa karena dia baru saja mendengar cerita Juna tentang Sasya yang semalam dibuat nangis oleh laki-laki itu. Riki merasa emosi melihat kedekatan dua orang itu, bahkan mereka tertawa bersama saling berhadapan sangat dekat hingga bisa saja membuat orang-orang berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Dengan emosi Riki berjalan menghampiri mereka. Lalu setelah berada tepat di belakang Dafa, dia menyenggol Dafa dengan kasar hingga membuat Dafa terhuyung dan menabrak tubuh Mira yang berada tepat didepannya.
"Sory." Ucap Riki tanpa menoleh pada mereka, dan terus berjalan.
"Hei! Udah nabrak main pergi gitu saja!" Teriak Mira kesal pada Riki.
Riki yang merasa orang yang dimaksud Mira adalah dia, lalu berhenti dan menoleh pada Mira, yang sedang dipegangi Dafa karena Mira terlihat sangat emosi.
"Gue kan sudah bilang sory." Kata Riki dengan santai.
"Sory? Lo baru saja nabrak dia sampai hampir jatuh tahu nggak!" Mira tambah kesal melihat Riki yang bersikap seakan tidak merasa bersalah.
"Sudah nggak papa, Kak." Kata Rafa menenangkan Mira.
"Tuh, dia saja nggak papa, emang situ siapa, ceweknya? Kok sewot banget." Kata Riki yang semakin membuat Mira naik pitam.
"Nggak bisa gitu dong, dia nabrak kamu kasar banget tadi, terus langsung jalan gitu saja." Mira masih tidak mau kalah. Sedangkan Rafa terus memegangi lengan Mira sambil mengelus dengan pelan.
"Aku nggak papa kok. Nggak papa kok, Bang. Santai saja." Ucap Dafa pada Riki sambil tersenyum. Lalu Riki pergi meninggalkan mereka berdua. Ada rasa puas dalam hatinya. Tanpa rasa bersalah, dia kembali duduk bersama Juna dan yang lainnya.
Senin siang Riki sudah berada di Bandung lagi. Hari ini ada meeting penting yang harus dia datangi di hotel, yang mengharuskan dia menginap beberapa hari di Bandung. Jadwalnya ternyata sudah padat untuk 3 hari ke depan.
"Oke, kita sudahi meeting hari ini, untuk pembahasan lebih lanjut kita bisa lanjutkan besok, karena ini sudah sore." Kata Riki pada para karyawannya di meeting room.
Mereka pun bubar dan satu per satu keluar dari ruangan. Riki kembali ke kamarnya. Suite room yang biasa dia pakai jika harus menginap di Bandung. Yang tak lain adalah kamar yang dia pakai bersama Sasya untuk hubungan 1 malam mereka. Yang membuatnya selalu mengingat Sasya saat berada di kamar itu
Riki melepas jasnya, lalu masuk ke kamar mandi. Dia melepas satu per satu pakaiannya, lalu menghidupkan shower. Dia pun mandi di bawah shower itu. Entah kenapa pikiran Riki terus tertuju pada Sasya setelah kejadian semalam. Setelah dia tahu bahwa hubungan Sasya dan pacarnya sedang tidak baík, dan itu membuat Sasya sedih. Setelah mendengar cerita dari Juna, Sasya terus saja mengganggu pikirannya.
Selesai mandi Riki berpakaian dengan santai, tidak seperti tadi dengan celana dan jas formal. Kali ini dia hanya memakai celana Jins dan kaos santai warna hitam, yang dibalut dengan sweater warna abu-abu. Dia mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya dari nakas. Lalu keluar dari kamar.
Setelah 30 menit berkendara, dia berhenti di depan sebuah bangunan yang sudah pernah dia datangi. Tapi Riki tidak langsung turun. Dia berpikir sejenak karena ragu. Saat sedang dilanda keraguan itu, Riki melihat 2 orang wanita keluar dari bangunan itu, Sasya dan Hana. Setelah berpikir dengan matang, akhirnya Riki memutuskan untuk turun dan menemui Sasya.
Sasya terkejut melihat Riki turun dari mobil di depan kost nya. Dia berhenti berjalan dengan tiba-tiba hingga membuat Hana yang sedang digandenganya ikut berhenti. Melihat Sasya yang kaget melihat laki-laki di depannya, Hana pun ikut menatap Riki dan memperhatikan Riki dari atas sampai bawah.
"Lo kenal dia?" Tanya Hana pada Sasya.
"Hah? Iya. Eh, nggak." Sasya terlihat salah tingkah.
"Hai." Sapa Riki sambil berjalan menghampiri Sasya dan Hana.
"Ngapain kesini?" Tanya Sasya sewot.
"Katanya lo nggak kenal?" Hana terlihat bingung.
"Kenapa emang? Nggak boleh?" Tanya Riki dengan santai.
"Sya, siapa dia?" Tanya Hana mulai kepo.
"Aku Riki. Teman Abangnya Sasya." Riki mengulurkan tangannya pada Hana. Hana lalu menyambut ularan tanga Riki.
"Oh, temen Bang Juna. Aku Hana." Jawab Hana memperkenalkan diri.
"Kalian mau kemana?" Tanya Riki.
"Kita mau..." Belum sempat Hana menjawab, Sasya menarik tangan Riki ke arah mobil Riki, meninggalkan Hana begitu saja.
"Kenapa sih, kok tarik-tarik?" Tanya Riki. Sasya melepaskan tangannya dari tangan Riki.
"Kamu ngapain kesini? Kan aku sudah bilang, kita nggak usah ketemu lagi. Urusan kita sudah selesai." Kata Sasya setengah berbisik. Dari kejauhan Hana merasa curiga pada sahabatnya itu. Apalagi saat melihat mereka bicara berbisik.
"Tenang saja, aku nggak mau ngapa-ngapain kok. Aku nggak punya teman di Bandung, yang aku kenal cuma kamu." Jawab Riki.
"Apa urusannya sama aku?" Lagian kita bukan teman ya!" Kata Sasya sambil menunjuk wajah Riki. Riki mengambil telunjuk Sasya yang tepat berada di depan hidungnya. Lalu menurunkannya, sambil mendekatkan wajahnya ke samping Sasya, lalu berbisik tepat di telinga Sasya.
"Kita teman satu malam, kalau kamu lupa." Kata Riki sambil menyeringai.
Sasya spontan memukul lengan Riki dengan keras. Riki yang merasa kesakitan memegangi lengannya.
"Auw! Sakit tauk!" Kata Riki.
"Jangan macam-macam ya!" Ancam Sasya.
"Aku cuma bercanda."
"Sya, lo nggak papa?" Tanya Hana dari kejauhan.
"Nggak papa, Han." Jawab Sasya lalu kembali ke Hana.
"Kalian mau kemana? Aku antar." Kata Riki.
"Nggak usah!" Jawab Sasya cepat.
"Mau ke depan cari makan? Kakak mau ikut makan sekalian?" Tanya Hana tanpa memperdulikan Sasya yang sedang melotot padanya.
"Boleh, kebetulan aku belum makan." Jawab Riki. Lalu membuka pintu mobil.
"Jalan aja, Kak. Cuma di depan situ doang kok." Kata Hana. Riki lalu menutup pintu mobilnya lagi. Dia berjalan di belakang Sasya dan Hana. Sesekali Sasya menengok pada Riki sambil memasang wajah jutek. Riki hanya tersenyum melihat Sasya yang terlihat kesal padanya.
"Kakak temennya Bang Juna dari Jakarta?" Tanya Hana pada Riki.
"Hm. Iya." Jawab Riki.
"Ooh. Terus kesini mau ketemu Sasya?" Tanya Hana lagi. Sasya ikut menunggu jawaban Riki.
"Hm, Iya sih." Jawab Riki ragu.
"Sudah sampai, kita makan disini, Kak." Kata Hana.
Mereka lalu masuk ke sebuah warung pecel lele. Lalu duduk di satu meja. Riki duduk beehadapan dengan Sasya.
"Mau pesen apa, Kak? Tanya Hana sambil menyodorkan menu ke Riki.
"Ayam goreng saja, sama Es teh manis."
"Lo, Sya? Hana bertanya pada Sasya.
"Sama." Jawab Sasya.
Lalu Hana berjalan ke penjualnya untuk memesan makanan. Tinggalah Riki berdua dengan Sasya.
"Sebenarnya ngapain sih kesini?" Tanya Sasya masih bingung karena kedatangan Riki yang tiba-tiba.
Riki menatap wajah Sasya, lalu tersenyum.
"Kangen." Jawab Riki tanpa dosa.