Minggu pagi, hari tampak cerah, tapi entah kenapa Sasya merasa sangat malas untuk sekedar keluar dari kamar. Dia memutuskan menarik kembali selimutnya dan memejamkan mata lagi. Tapi sesaat kemudian dia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Sya. Abang boleh masuk?"
Terdengar suara Abangnya dari luar pintu kamar Sasya.
"Ya, Bang. Masuk saja." Jawab Sasya. Dia lalu bangun dan mengganti posisi tidurnya menjadi duduk bersandar. Juna membuka pintu, mengintip sebentar ke arah Sasya. Lalu membuka pintu lebar dan berjalan masuk.
"Kamu baru bangun?" Tanya Juna melihat adiknya yang masih bermalas-malasan di kasur.
"Iya, Bang." Jawab Sasya
"Abang boleh ngomong sebentar?" Tanya Juna dengan lembut.
Sasya hanya menjawab dengan mengangguk.
"Abang cuma mau bilang, kalau Abang nggak suka lihat adik Abang nangis, apalagi nangis gara-gara disakiti laki-laki." Kata Juna masih dengan nada lembut. Sasya yang tadinya menatap Juna, perlahan menundukkan kepalanya.
"Kamu tahu sendiri kan, Abang selalu menjaga kalian, adik-adik Abang, berusaha membuat kalian selalu bahagia. Jadi Abang nggak rela kalau ada orang lain yang menyakiti kalian, apalagi sampai buat kalian nangis."
Sasya berusaha membendung air matanya yang akan tumpah di pelupuk matanya.
"Jadi Abang minta, jauhi orang yang bikin kamu sedih, kalau kalian tersakiti, segera pergi, jangan lagi diteruskan. Abang sedih kalau lihat kalian disakiti, Abang benar-benar nggak rela."
Kali ini Sasya tidak bisa lagi membendung air matanya.
"Asal kamu tahu, Abang nggak akan tinggal diam kalau kalian disakiti, Abang sudah bilang dari dulu, Abang nggak suka sama dia, karena dia selalu bikin kamu nangis, itu kenapa dari dulu Abang selalu minta kamu tinggalkan dia."
Air mata Sasya terus mengalir. Juna mengusap kepala Sasya, lalu membawanya ke pelukanya.
"Jadi, sebelum Abang melakukan hal yang lebih jauh lagi terhadap dia, Abang minta kamu tinggalkan dia, ya." Kata Juna sambil menepuk-nepuk punggung Sasya. Sasya hanya mengangguk dengan pelan.
Juna membiarkan Sasya mengeluarkan semua kesedihannya. Dengan sabar dia menenangkan Sasya saat menangis, dan terus mengusap kepala Sasya. Hingga dirasa Sasya sudah cukup tenang, Juna meninggalkan Sasya, dan tak lupa sebelum keluar, Juna mengecup kening Sasya. Lalu dia berjalan keluar dari kamar Sasya, dan menutup pintu kamar.
Saat sampai diluar, Juna dikejutkan oleh Mamanya yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Bang, Sasya kenapa? Jeni cerita kalau semalam Sasya nangis setelah bicara dengan seorang laki-laki." Tanya Mama Sasya dengan sedikit panik.
"Iya, Mah. Sasya ketemu sama pacarnya waktu SMA dulu." Jawab Juna.
"Laki-laki yang selalu bikin Sasya nangis? Emang Sasya masih berhubungan sama dia?"
"Iya, Mah. Sepertinya sih gitu. Kalau Abang lihat, mereka sepertinya masih pacaran sampai sekarang." Jawab Juna.
"Astaga, Sasya. Apa sih yang membuat dia bertahan dengan laki-laki itu?" Mama Sasya sangat terkejut
"Abang juga nggak tahu, Mah.
"Mama mau ngomong sama Sasya." Kata Mama Sasya sambil berjalan ke kamar Sasya. Saat hendak membuka pintu kamar Sasya, Juna mencegahnya.
"Nggak usah, Mah. Sasya masih sedih, lagian Abang sudah ngomong kok sama Sasya. Biar ini jadi urusan Abang aja." Kata Juna.
"Abang yakin?"
"Iya, Mah. Mama pura-pura nggak tahu saja soal masalah ini. Biar Abang yang urus."
"Ya sudah kalau gitu, Mama serahkan urusan Sasya sama Abang, ya." Kata Mama Sasya sambil mengusap lengan Juna.
"Siap, Mah." Merekapun berjalan menuruni tangga. Membiarkan Sasya untuk lebih tenang di kamarnya.
30 menit kemudian, saat dirasa Sasya sudah cukup tenang. Jeni dan Irene mencoba menemui Sasya.
"Kak Sya, Jen boleh masuk?" Tanya Jeni dari luar kamar Sasya.
"Hm, masuk, Jen." Jawab Sasya dari dalam kamar.
Jeni membuka pintu, lalu masuk disusul dengan Irene.
Sasya .melihat dandanan Jeni dan Irene yang sudah menggunakan kaos dan celana training, serta sepatu kets, dan tak lupa rambut mereka yang panjang dikuncir tinggi ke atas.
"Kalian mau kemana?" Tanya Sasya.
"Joging lah, kan udah dandan kayak gini, masak mau kondangan." Jawab Jeni. Seketika membuat Sasya tertawa.
"Ayuk, Kak. Ikut kita joging." Ajak Irene.
"Nggak usah deh, kalian saja. Kak Sya masih ngantuk." Jawab Sasya. Jeni langsung mendekati Sasya, merangkul lengan Sasya dengan manja.
"Ayolah, Kak. Kita olah raga biar sehat. Biar Kak Sya nggak sedih terus." Ucap Jeni mencoba membujuk Sasya.
"Iya, Kak. Olah raga juga bisa bikin pikiran kita tenang." Tambah Irene.
Sasya terdiam sejenak, dia berpikir kalau yang dikatakan Jeni dan Irene ada benarnya juga, daripada mengurung diri di kamar.
"Oke, Kak Sya ikut. Kak Sya ganti baju dulu." Jawab Sasya.
"Yeeeay!" Teriak Jeni dan Irene bersamaan.
Sasya tersenyum melihat tingkah adik-adiknya. Tanpa membuang waktu lama, Sasya sudah siap dengan pakaian olah raganya dan juga sepatu ketsnya.
Mereka bertiga keluar dari rumah, lalu bepamitan dengan Mamanya yang sedang duduk di teras bersama Juna.
"Mah, Bang, kita olah raga dulu, ya." Pamit Jeni sambil berlari bersama Irene dan Sasya.
Mama Sasya belum sempat menjawab, karena mereka sudah jauh berlari.
"Tumben mereka olah raga?" Mama Sasya heran.
"Syukurlah, setidaknya Sasya mau keluar kamar, Mah.." Jawab Juna.
"Iya. Pintar juga Jeni membujuk Sasya." Mama Sasya dan juna tertawa bersama. Ada perasaan lega dari hati Juna melihat Sasya yang sudah mulai bisa mengatasi kesedihannya.
Malam harinya. Juna datang lagi ke cafe tempat dia datang semalam bersama adik-adiknya. Kali ini dia datang karena sudah ada janji bersama teman-temannya, Gery, Brian dan juga Riki. Gery, Brian dan Riki sudah lebih dulu sampai di cafe itu
"Sory, Bro. Gue telat." Sapa Juna pada ketiga sahabatnya.
"Dari mana lo, bro? Kita udah dari tadi disini?" Tanya Gery.
"Abis anter Sasya balik." Jawab Juna. Riki yang mendengar nama Sasya langsung menatap Juna dengan serius.
"Jadi lo dari Bandung?" Tanya Brian.
"Yok i." Jawab Juna. Lalu dia memesan kopi pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Tumben, biasanya dia nggak mau diantar, maunya naik bus." Kata Riki mulai kepo.
Mereka lalu mengobrol sambil minum minuman pesanan mereka.
Tak lama seorang laki-laki masuk ke cafe bersama dengan seorang wanita. Juna yang melihatnya langsung menampakkan wajah tidak senang. Laki-laki dan wanita itu berjalan ke arah panggung, yang mengharuskan mereka melewati meja yang Juna dan teman-temannya duduki.
"Malam, Bang." Sapa laki-laki itu. Juna hanya mengangguk tanpa memandang wajah laki-laki itu. Yang ternyata adalah Dafa, bersama perempuan yang diduga Juna adalah penyebab pertengkaran antara Sasya dan Dafa.
Karena merasa dicuekin, Dafa melanjutkan langkahnya menuju panggung.
"Lo kenal sama dia? Vocalis band yang main di cafe ini kan? Oya, kata temen gue semalam lo berantem ya sama dia?" Tanya Gery. Gery baru ingat kalau temannya pemilik cafe itu bercerita bahwa semalam Juna dan Dafa bertengkar di belakang panggung.
"Hm. Nggak berantem, gue cuma kasih peringatan saja ke dia." Jawab Juna.
"Peringatan apaan? Emang siapa dia? Kok lo bisa kenal?" Tanya Brian tak kalah kepo.
"Dia cowoknya Sasya, yang semalam sudah bikin Sasya nangis." Jawab Juna.
"Oooh, jadi itu cowoknya Sasya." Kali ini Riki berkomentar.
Riki tak melepaskan pandangannya pada Dafa. Dia tak habis pikir apa yang membuat Sasya tak bisa berpaling dari laki-laki itu. Tanpa dia sadari, bahwa dia terus mengamati setiap gerak gerik Dafa.