Sasya menemukan sosok Dafa di atas panggung. Dia terlihat sangat kecewa. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya kekasihnya itu tidak memberitahunya tentang jadwal manggungnya.
"Kenapa, Kak?" Tanya Jeni. Sasya hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa kita perlu pindah cafe?" Tanya Juna.
"Nggak usah, Bang." Jawab Sasya. "Oya, habis ini Sasya ijin bicara sama dia ya, Bang, please." Kata Sasya memohon pada Juna. Karena dia tahu betul Juna tidak menyukai Dafa. Juna tidak pernah suka jika Sasya berpacaran dengan Dafa. Juna juga sudah beberapa kali melarang Sasya untuk berhubungan lagi dengan Dafa. Itulah sebabnya Sasya merahasiakan hubungannya dengan Dafa dari Juna.
"Mau apa lagi kamu sama dia?" Tanya Juna mulai kesal.
"Sebentar saja, Bang. Please.. yaa...?" Sasya memohon.
"Ya sudah, sebentar aja." Jawab Juna.
Jeni dan Irene yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam mendengar perdebatan Abangnya dengan Sasya.
Setelah selesai menyanyikan 2 lagu, Dafa turun dari panggung. Sasya berjalan menghampiri Dafa.
Dafa yang melihat Sasya terkejut lalu menghentikan langkahnya. Dafa menoleh pada seseorang di samping panggung, tempat dia hendak menuju. Sasya pun ikut menoleh ke arah pandang Dafa. Ternyata disitu ada Mira.
Dafa menghampiri Sasya.
"Sya. Kamu disini?" Tanya Dafa.
"Kenapa? Kaget, ya?" Tanya Sasya menyindir.
"Nggak. Tadi siang kamu bilang nggak pulang.ke Jakarta." Kata Dafa.
"Terus kalau aku nggak pulang, kamu bisa jalan sama cewek lain?" Tanya Sasya mulai kesal.
"Bukan gitu, sayang. Kita ngomong di belakang, yuk." Ajak Dafa karena tidak mau membuat orang-orang melihat pertengkaran mereka.
Dafa menarik tangan Sasya ke belakang cafe.
"Aku bisa jelasin, sayang." Kata Dafa.
"Mau jelasin apa? Kamu bilang nggak ada jadwal manggung, nyatanya, aku lihat kamu diatas panggung barusan."
"Iya, band aku memang nggak ada jadwal manggung, kamu lihat sendiri kan? Aku nggak sama anak-anak."
"Iya, memang. Tapi ada Mira." Sasya sudah sangat kesal, apalagi saat menyebut nama perempuan yang sangat dia benci.
"Dengerin aku dulu. Aku memang nggak ada jadwal manggung, Bagas juga pergi ke acara keluarnya sama Hana, kamu pasti tahu kan? Terus, karena aku nganggur di rumah, Kak Mira minta aku bantuin temannya yang vokalisnya berhalangan datang. Jadi, karena aku juga nggak ngapa-ngapain, ya sudah aku bantuin, itung-itung aku juga dapat bayaran kan." Dafa mencoba menjelaskan panjang lebar.
"Oke. Aku bisa terima penjelasan kamu. Yang bikin aku nggak bisa terima, kenapa kamu nggak kasih kabar aku? Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu pergi sama Mira." Tanya Sasya.
"Kalau aku bilang, kamu pasti marah." Jawab Dafa.
"Tapi kalau kamu nggak bilang, dan akhirnya aku tahu sendiri, aku lebih marah." Kata Sasya dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Maafin aku, Sya. Aku cuma nggak mau kamu..."
"Sudah, lanjutin aja sana kamu màu ngapain sama Mira. Aku udah nggak perduli." Kata Sasya lalu pergi meninggalkan Dafa.
"Sya... Tunggu, Sya..."
Sasya tidak menjawab, dia terus berjalan meninggalkan Dafa.
Sasya kembali ke meja. Jeni dan Irene melihat Sasya yang terlihat sangat sedih. Juna yang melihat Sasya akan nenangis, lalu tersulut emosi.
Dia beranjak dari kursi dan menghampiri Dafa. Dafa terkejut didatangi oleh Juna.
"Sekali lagi gue lihat elo deketin Sasya, gue nggak akan segan-segan hancurin hidup lo!" Kata Juna mengancam Dafa. Lalu pergi meninggalkan Dafa.
Juna membawa kedua adiknya dan juga Irene pergi meninggalkan cafe. Jeni berjalan merangkul Sasya. Lalu menuntun Sasya masuk ke mobil bagian penumpang belakang.
"Ren, kamu duduk di depan, ya. Aku mau nemenin Kak Sasya." Kata Jeni.
Irene pun mengikuti perintah Jeni. Dia masuk ke mobil dan duduk di sebelah Juna menyetir. Entah kenapa perjalanan pulang terasa sangat lama. Karena arah jalan pulang dari cafe melewati jalan rawan macet. Sesekali Juna melirik spion depan melihat keadaan Sasya yang tertidur di pelukan Jeni. Lalu dia melihat ke samping. Ternyata Irene juga sudah tertidur dengan kepala terjatuh ke samping. Juna mencoba menahan kepala Irene. Saat berhenti lampu merah, Juna mendekatkan wajahnya ke Irene, lalu perlahan tangannya menggapai tuas di samping kursi Irene untuk merebahkan kursi Irene, agar Irene nyaman. Juna menatap wajah Irene yang sedang tidur. Dia tersenyum sendiri.
"Bang, jalan kalik, sudah hijau tuh." Kata Jeni yang ternyata belum tidur. Juna terkejut, lalu dia mulai melajukan mobilnya lagi. Juna melirik spion depan, melihat Jeni. Tapi betapa terkejutnya Juna melihat Jeni yang sedang menatapnya dengan tajam. Juna lalu pura-pura fokus melihat jalan. Di belakang, Jeni masih menatap Juna dengan tajam, dengan tatapan penuh tanya.
Akhirnya mereka sampai di rumah. Sasya dan Jeni turun dari mobil setelah Jeni membangunkan Sasya lebih dulu.
"Bang, bangunin Irene pelan-pelan, Jen bawa Kak Sya masuk." Pesan Jeni pada Juna sebelum keluar dari mobil. Lalu jeni pun membawa Sasya masuk ke dalam rumah dengan memapahnya, karena kondisi Sasya yang sedang sedih dan mengantuk.
Setelah mereka berdua masuk, Juna perlahan membangunkan Irene, tapi Irene masih belum bergerak sama sekali. Juna mendekatkan kepalanya pada Irene, dia berniat membuka seat belt yang masih terpasang di tubuh Irene.
Sabuk pengaman terbuka. Saat Juna menarik sabuk pengaman itu ke atas, tak sengaja tatapannya bertabrakan dengan tatapan Irene, yang ternyata Irene sudah terbangun. Mereka terdiam beberapa detik. Lalu Juna tersadar dan langsung melepas genggamannya pada sabuk pengaman.
"Hm, aku bukakan sabuk pengaman kamu. Kamu dibangunin susah." Kata Juna dengan gugup.
"Maaf, Bang, Irene ketiduran." Kata Irene masih dengan wajah sayu.
"Nggak papa, ayo turun, Jeni sudah masuk duluan."
Mereka pun keluar dari mobil. Juna berjalan di belakang Irene yang sedang berjalan sambil menahan kantuknya. Juna tertawa sendiri melihat tingkah Irene yang lucu karena berjalan sempoyongan. Sampai akhirnya Irene tersandung kakinya sendiri lalu membuatnya terjungkal. Beruntung Juna dengan sigap langsung menangkap tangan Irene, dan tangan satunya menopang tubuh Irene. Seketika itu juga Irene kehilangan rasa kantuknya. Dia langsung berdiri tegak karena terkejut hampir saja dia terjatuh.
Irene melepaskan tubuhnya dari tangan Juna yang masih menopang tubuhnya. Lalu dia lari masuk ke dalam. Betapa malunya Irene hingga dia tidak sanggup melihat Juna, dan meninggalkan Juna begitu saja.
Lagi-lagi Juna tertawa sendiri sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Irene, yang menurutnya sangat lucu, dan wajah Irene sangat menggemaskan.
Dia melanjutkan langkahnya. Tapi seaat langkahnya terhenti ketika dia melihat Jeni yang sedang berdiri di bawah tangga. Juna terkejut melihat Jeni yang menatapnya dengan tajam lagi. Tanpa berkata apa-apa, Jeni langsung naik menyusul Irene yang sudah lari terlebih dahulu.
Juna bingung kenapa Jeni bertingkah seperti itu. Apa Jeni tahu perasaan dia pada Irene. Juna akhirnya mempercepat langkahnya masuk kamar, dan langsung menutup pintu kamarnya. Entah kenapa Jeni malam itu begitu menyeramkan.