Sasya dan Juna sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Setelah 1 jam Sasya menungu Juna sendirian karena Riki meninggalkannya begitu saja, Juna akhirnya datang menjemputnya.
"Apa? Jadi hotel itu punya Riki?" Pekik Sasya.
"Iya. Papanya minta dia yang bertanggung jawab atas hotel cabang Bandung, jadi setiap akhir pekan dia pasti di Bandung. Karena Abang ada meeting sama klien di Bandung, makanya Abang pilih tempat di hotel Riki." Kata Juna menjelaskan panjang lebar.
"Jadi hotel itu punya dia, setiap akhir pekan dia di Bandung." Ulang Sasya.
"Iya." Jawab Juna.
Pantas waktu itu Riki sudah bawa kunci kamar, padahal dia bilang baru reservasi. Dan itu juga menjelaskan bagaimana dia bisa masuk ke dapur restoran begitu saja dan mengambil minuman sendiri. Pikir Sasya dalam hati.
"Kenapa, Sya?" Tanya Juna meihat wajah Sasya yang kelihatan bingung.
"Eh, apa? Nggak papa, Bang." Jawab Sasya terbata.
Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama, dalam waktu 1 jam mereka sudah sampai Jakarta. Mobil Juna memasuki gerbang rumah mereka. Setelah itu Juna dan Sasya langsung masuk ke dalam rumah dimana Mamanya sudah menunggu mereka di ruang tamu.
"Syukurlah, kalian sampai dengan selamat." Kata Mama Sasya sambil memeluk Sasya.
"Iya, Mah. Tadi nungguin Bang Juna lama banget di restoran hotel." Sasya menceritakan kekesalannya pada Abangnya itu.
"Ya, Maaf. Juna nggak tau kalau meetingnya bakal molor." Juna berusaha membela diri.
"Makanya lain kali, selesaikan pekerjaan kamu dengan cepat, agar bisa jemput Sasya tepat waktu." Mama Sasya membela Sasya.
"Iya, Ma. Ya udah, Juna mau istirahat dulu." Pamit Juna.
"Abang, anterin Jen, yuk, ke toko buku." Teriak Jen yang tiba-tiba muncul dari belakang Juna.
"Jen, kamu nggak lihat Abang baru aja sampai rumah, Abang pasti capek, besok saja masih bisa kan?" Mama Sasya menjawab pertanyaan Jen karena tahu betul anak laki-lakinya itu sedang lelah karena baru aja pulang dari Bandung.
"Ya uda deh. Jen bilang Irene dulu." Jawab Jeni sambil memajukan mulutnya.
"Eh, Abang nggak capek kok. Ayo Abang anter." Kata Juna. Dengar nama Irene disebut, Juna tidak bisa menolak. Sasya yang mendengar Abangnya menyetujui Jeni, langsung tersenyum.
"Loh, tadi katanya mau istirahat? Kamu emang nggak capek habis nyetir dari Bandung?" Tanya Mama Sasya yang masih mengkhawatirkan Juna.
"Nggak cape lah, Mah. Abang malah seneng." Kata Sasya menyindir Abangnya.
"Beneran, Bang? Oke, Jen panggil Irene dulu." Kata Jeni langsung lari ke kamarnya.
"Juna ganti baju dulu sebentar, tolong bilangin Jen ya, Mah." Kata Juna yang juga langsung buru-buru masuk ke kamar.
Tak lama Jeni dan Irene keluar dari kamar langsung turun ke ruang keluarga, menunggu Juna bersama Sasya dan Mamanya.
"Sudah pada siap? Ayo berangkat." Ajak Juna dengan semangat.
"Sudah dari tadi nungguin Abang." Jawab Jeni.
"Eh, Kak Sya nggak ikut sekalian?" Tanya Irene.
"Iya, Kak. Ikut sekalian, yuk. Kita malem mingguan bareng." Jeni ikut memanas-manasi Sasya agar mau ikut.
"Iya, sudah ikut aja sana, daripada di rumah juga sendiri." Mama Sasya ikut membujuk Sasya.
"Hm. Bilang saja Mama sama Papa mau malem mingguan sendiri... Ya sudah deh, Sasya ikut mereka aja." Kata Sasya. Tanpa ganti baju dia langsung berangkat besama Abang dan adiknya.
"Bye semua, hati-hati, ya..." Teriak Mama Sasya saat mereka semua sudah masuk ke mobil. Juna lalu melajukan mobilnya menuju toko buku tempat yang Jeni dan Irene inginkan.
Beruntung jarak dari rumah ke toko buku tidak jauh, dan tidak melewati jalan rawan macet, jadi hanya memakan waktu 15 menit mereka sudah sampai. Jeni dan Irene berjalan sambil bergandengan, mereka langsung menuju tempat buku yang sedang mereka cari. Juna dan Sasya mengikuti mereka dari belakang.
"Ehem. Ada yang lagi seneng, nih." Sasya menggoda Abangnya yang tatapannya tidak lepas dari kedua gadis di depannya.
"Hm? Apa?" Tanya Juna yang tidak menyadari kalau Sasya sedang menggodanya.
"Abang kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"
"Berubah pikiran gimana?"
"Iya, awalnya Abang bilang mau istirahat, terus pas Jeni ajak ke toko buku, Abang langsung iya in. Pasti karena ada Irene kan?" Goda Sasya lagi. Tanpa sadar wajah Juna memerah.
"Apaan sih? Abang nggak mau aja mereka keluar malam-malam sendiri, kalau kenapa-kenapa gimana?" Kata Junà mencoba meyakinkan Sasya.
"Halah, nggak usah bohong sama Sasya. Tuh, muka Abang saja sudah merah."
"Kamu ini, ya. Sok tahu!" Kata Juna sambil menjitak kepala Sasya, lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Sasya.
"Aduh! Sakit, Abang!" Teriak Sasya sambil memegang kepalanya.
Juna sedang melihat-lihat buku di bagian bisnis. Dia membaca sekilas buku-buku yang nampak menarik baginya.
"Abang suka baca buku juga?" Tanya seseorang yang membuat Juna terkejut. Ternyata Irene sudah berada di sebelahnya.
"Hm, nggak juga. Kalau lagi iseng saja." Jawab Juna sok cool. Padahal dadanya sedang berdetak tak karuan karena Irene sedang berdiri tepat di depannya.
"Eh, Abang bisa tolongin Irene nggak?"
"Tolong apa?"
"Sini deh." Irene menggandeng tangan Juna lalu menariknya ke suatu tempat. Juna terkejut karena Irena tiba-tiba memegang tangannya. Diapun mengikuti langkah Irene dengan jantung yang semakin berdebar.
"Itu." Irene menunjuk buku yang berada di rak atas.
"Hm?" Juna tidak mengerti maksud Irene.
"Abang bisa tolong ambilin itu? Irene nggak sampai." Tanya Irene lalu diakhiri dengan senyuman yang membuat Juna semakin berdebar, entah kenapa malam ini jantungnya seperti akan melompat keluar.
"Hah?" Juna melihat buku yang ditunjuk Irene. "Ooh. Ini?" Tanya juna.
"Iya." Jawab Irene dengan sumringah. Juna lalu mengambil buku itu dengan mudah, karena tubuhnya yang menjulang tinggi.
"Makasih, Bang." Kata Irene sambil melepas genggamannya pada tangan Juna, lalu menerima buku dari Juna.
"Ehem, sama-sama." Jawab Juna salah tingkah. Irene membuka buku itu per halaman, lalu tersenyum.
"Oke. Bener ini bukunya." Kata Irene. Lalu menatap pada Juna.
"Itu buku yang kamu cari?" Tanya Juna. Irene mengangguk.
"Sudah itu aja?" Tanya Juna lagi Irene pun mengangguk lagi.
Mereka pun berjalan menuju kasir. Sampai di kasir mereka bertemu Jeni dan juga Sasya yang sudah lebih dulu sampai.
"Jen, sudah dapet bukunya?" Tanya Juna.
"Sudah, nih." Jawab Jeni sambil menunjukkan bukunya pada Abangnya.
"Ya sudah, sini Abang bayar." Kata Juna. Lalu mengambil buku yang dibawa Jeni dan juga Irene.
"Eh, punya Irene nggak usah, Bang. Irena bayar sendiri saja." Kata Irene. Tanpa menjawab Juna merebut buku dari tangan Irene, lalu dia mengeluarkan dompet dari saku celananya.
Irene tidak bisa berkata apa-apa. Jeni menggandeng Irene.
"Nggak papa, biar Abang saja, Ren." Kata Jeni pada sahabatnya.
Setelah selesai membayar, Juna mengajak ketiga gadis itu ke sebuah cafe. Sebelumnya Juna sempat ragu karena cafe itu terlihat ramai. Tapi dia melihat ada 1 meja kosong, lalu dia pun membawa ketiga gadis itu masuk.
"Ramai banget ya, Bang? Apa karena ini malam minggu?" Tanya Jeni.
"Iya, selain itu juga, setiap malam minggu disini ada akustik band nya juga, jadi ya ramai gini." Jawab Juna. Jeni hanya mengangguk.
"Abang sering kesini?" Tanya Sasya.
"Nggak juga, cafe ini punya temennya Gery. Disini makanannya enak, jadi Abang bawa kalian kesini." Jawab Juna. Lalu seorang pelayan datang membawa menu.
"Malam, Kak. Ini menunya." Kata pelayan itu sambil memberikan menu pada Juna.
"Malam, Cil." Jawab Juna pada pelayan yamg memakai name tag bertuliskan Cesil.
"Kak Gery nya nggak ikut, Kak?"
"Nggak. Malam ini aku bawa adek-adek aku."Jawab Juna.
Suara musik mulai terdengar. Seseorang pun mulai melantunkan sebuah lagu. Sasya terkejut mendengar suara lantunan lagu yang sangat dia kenal. Dia lalu menoleh ke arah panggung. Juna dan yang lainnya bingung melihat Sasya yang seperti mencari sesuatu. Lalu mereka mengikuti arah pandangan Sasya.