Pertemuan Kedua

1060 Words
Tak terasa sudah akhir pekan lagi. Ini seharusnya jadwal Sasya pulang ke Jakarta, untuk berkumpul dengan keluarga. "Sya, nanti balik Jakarta nggak? Bareng ya, gue mau ke rumah Bagas." Hana menghampiri meja kerja Sasya yang sedang serius mengerjakan laporan mingguan. Sasya berpikir sejenak. "Hm, kayaknya nggak deh, Han. Gue mau di kosan aja." Jawab Sasya. Entah kenapa, hatinya merasa tidak ingin pulang. "Loh, tumben? Tar dicariin Mama lo gimana?" "Tar gue telepeon Mama, gue lagi nggak enak badan nih, pengen istirahat aja di kosan." Jawab Sasya sambil merenggangkan bahunya. "Yaaah, gue naik bus sendiri deh." Kata Hana. Lalu kembali ke meja kerjanya dengan memelas. Sasya tersenyum geli melihat sahabatnya manyun. Tak lama ada pesan masuk di ponsel Sasya. Sasya melirik ponselnya, melihat nama Abang Juna di layar ponselnya. Sasya membaca pesan dari abangnya itu. "Sya, Abang lagi di Bandung, nanti pulang kerja Abang jemput, kita pulang Jakarta sama-sama." Sasya mengerucutkan bibirnya. Baru saja dia berpikir mau istirahat di kosan, tapi malah mau dijemput sama Abangnya. Tapi kalau ditolak, pasti Abangnya mikir yang macem-macem, secara Abangnya possessive banget sama dia. Akhirnya dengan sangat terpaksa dia mengiyakan ajakan Abangnya. "Iya, Bang. Sasya tunggu. Jawab Sasya membalas pesan Juna. "Tunggu di kosan aja, ya. Takutnya Abang meeting sampai sore." Juna membalas pesan Sasya. "Oke, Bang. Lagi-lagi Sasya hanya bisa pasrah. Gantian Sasya menghampiri meja kerja Hana. "Gue jadi pulang, Han. Mau di jemput Bang Juna, lo mau bareng?" Tawar Sasya. "Mau lah, nggak usah ditanya, lumayan ngirit Ongkos." Jawab Hana secepat kilat. Pukul 4 sore, Sasya dan Hana sudah sampai kost, mereka siap-siap untuk pulang ke Jakarta sambil menungu Juna menjemput mereka. Tidak sampai 30 menit mereka sudah siap di teras kosan mereka. Lalu tiba-tiba Sasya mendapat pesan dari Juna. "Sya, maaf Abang telat, ini meeting nya belum selesai. Tunggu sebentar lagi ya." Pesan dari Juna Sasya menghembuskan nafasnya. "Kenapa, Sya? Tanya Hana. Karena malas menjawab, Sasya memberikan ponselnya pada Hana. Hana membaca pesan dari Juna. "Ya sudah, kalau gitu gue berangkat duluan aja, ya. Bagas mau ngajakin ke rumah tantenya, takutnya sampai sana kemaleman." Kata Hana, yang memang sudah siap untuk berangkat. Sama seperti Sasya. "Nggak papa lo naik bus sendiri?" Tanya Sasya. "Ya elah, sudah biasa kalik." Jawab Hana santai. "Ya sudah kalau gitu, sory ya, Han. Lo jadi nggak bisa ngirit ongkos deh." Kata sasya tidak enak hati. "Biasa aja kalik. Tar gue minta ganti Bagas ongkosnya." Kata Hana sambil mengedipkan matanya. "Hahahaha, dasar lo, nggak mau rugi. "Ya harus dong." Hana membela diri. "Oke deh, hati-hati, ya. Kabarin kalau uda sampai." Kata Sasya. "Oke. Bye. Gue jalan dulu ya." Pamit Hana. "Ya, sana, hati-hati." Jawab Sasya. Akhirnya Sasya hanya bisa menunggu dengan pasrah. Dia membuka kembali jaket yang sudah dikenakannya. Dia mengambil ponselnya. Membuka aplikasi game, untuk menghilangkan kejenuhannya. Satu jam sudah Sasya terus bermain game di ponselnya. Tiba-tiba ada suara klakson mobil di depan kostnya. Sasya mencoba melihat siapa yang datang. Karena tidak terlihat dari tempatnya duduk, dia pun berjalan menuju gerbang kostnya. Sasya melihat mobil yang sangat familiar. Dia tambah terkejut melihat siapa yang baru saja keluar dari mobil itu. "Kak Riki, mau ngapain kamu disini?" Tanya Sasya sewot. "Jemput kamu, buruan naik."Kata Riki yang langsung masuk lagi ke dalam mobilnya. "Apa, tunggu." Sasya menyusul Riki, manahan Riki yang akan masuk ke dalam mobilnya. "Jemput aku?" Tanya Sasya. "Iya, buruan naik." Jawab Riki dengan nada meninggi. "Nggak. Bang Juna mau jemput aku, kamu pulang saja gih." Kata Sasya mengusir Riki. Riki menutup pintu mobilnya, lalu mendorong tubuh Sasya ke pintu penumpang depan, agar Sasya masuk ke mobil. "Apaan sih, Kak, Kok maksa?" Sasya memberontak. Riki melepas dorongannya. Sasya membalikkan tubuhnya menghadap Riki. "Juna nggak bisa jemput, dia nyuruh aku jemput kamu, dan bawa lo ke tempat dia?" Kata Riki kesal. "Bohong kan kamu?" Sasya tidak percaya. "Napain juga aku bohong. Kalau nggak percaya telepon saja Juna." Kata Riki. Sasya mengambil ponselnya, belum sempat dia menghubungi Juna, ternyata Juna lebih dulu mengirimnya pesan padanya. "Riki sudah sampai? Kamu ikut Riki dulu ya ke tempat Abang, soalnya ini meeting nya belum selesai." Pesan dari Juna. Sasya menatap Riki. Ternyata Riki benar. "Masih nggak percaya?" Tanya Riki. Tanpa menjawab Sasya berjalan menuju pintu pintu penumpang depan, lalu masuk ke mobil. Riki menggelengkan kepalanya. Lalu masuk ke dalam mobil juga. Dalam perjalanan, keduanya diam. Ini yang membuat Sasya malas pulang ke jakarta, dia tidak mau bertemu dengan Riki. Karena dari dulu Riki dan teman-teman Juna lainnya selalu nongkrong di rumahnya setiap akhir pekan. Perjalanan lumayan padat, maklum karena bertepatan dengan akhir pekan. Riki menyalakan lampu sen, lalu belok memasuki area parkir sebuah tempat yang sangat Sasya kenal. "Tunggu, ngapain kita kesini? Kamu mau melanggar perjanjian kita? Berhenti nggak, turunin aku!" Teriak Sasya. Riki sama sekali tidak menghiraukan Sasya. Dia terus manjalankan mobilnya masuk ke area parkir hotel dimana tempat mereka melakukan hubungan 1 malam. "Berhenti nggak, atau aku teriak nih, aku loncat nih." Ancam Sasya. Riki berhenti di sebuah tempat parkir kosong. Lalu menghentikan mobilnya. "Kamu bisa nggak sih nggak heboh. Aku nganter kamu ke tempat Juna, dia lagi meeting disini." Kata Riki sambil membuka sabuk pengamannya. "Atas dasar apa aku bisa percaya sama kamu?" Tanya Sasya masih tidak percaya. "Ya terserah kamu, mau tunggu di mobil juga boleh, tapi jangan kesal kalau digigitin nyamuk. Kalau tadi Juna pesennya sih suruh bawa kamu ke restoran, kamu disuruh tunggu dia disana." Sasya tampak berpikir. "Ya sudah kalau kamu mau digigitin nyamuk." Kata Riki sambil melangkah keluar dari mobil. Saya membuka sabuk pengamannya lalu turun. Dia berjalan mengikuti Riki. Mereka masuk ke dalam lift. Riki tersenyum membelakangi Sasya, dia senang melihat Sasya yang berjalan dengan malas mengikutinya. Gemas sekali, batinnya. Mereka sampai di restoran. Benar ternyata, Riki tidak bohong. Riki menarik kursi di salah satu meja restoran. Lalu meyuruh Sasya duduk. Setelah Sasya duduk, Riki berjalan meninggalkan Sasya, lalu masuk ke dalam dapur restoran. Sasya heran, kenapa Riki bisa masuk ke sana. Yang dia lebih heran, bagaimana bisa Riki meninggalkannya begitu saja. Tak lama Riki keluar dari dapur restoran sambil membawa 1 gelas jus jeruk. Lalu menghidangkannya di hadapan Sasya. Sasya masih terlihat bingung. Kenapa Riki bisa mengambil minuman langsung dari dapur tanpa memesan dulu. "Minum dulu sambil nunggu Juna, bentar lagi dia juga selseai." Kata Riki. Lalu dia berjalan keluar restoran dengan kedua tangan masuk ke saku celananya. Tanpa rasa bersalah, lagi-lagi dia meninggalkan Sasya terbengong sendirian tanpa bisa mengatakan sepatah katapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD