Dijemput Dafa

1063 Words
Sasya tertidur di kasur Dafa yang belum sadarkan diri. Tangannya terus menggenggam tangan Dafa. Sasya merasakan tangan Dafa bergerak, Sasya langsung bangun, dilihatnya Dafa yang sedang mencoba membuka mata. "Sasya." Dafa akhirnya sadar. Sasya berlari keluar memanggil dokter. Beberapa saat kemudian dokter datang memeriksa Dafa. Tidak hanya tangannya yang mengalami patah tulang, tapi kepala Dafa juga harus dijahit karena sobek yang sangat dalam. Tapi beruntungnya tidak sampai membuatnya gegar otak. Sasya duduk di samping kasur Dafa, mengusap pipi Dafa. "Sya, maafin aku, ya. Makan malam kita jadi gagal." Kata Dafa dengan wajah pucatnya. "Ssstt, udah, nggak usah dipikirin, sayang. Aku bersyukur kamu selamat dari kecelakaan, aku takut banget tau nggak?" Jawab Sasya. "Terus, biaya Rumah Sakit gimana?" "Kamu nggak usah pikirin, biar aku yang urus." "Tapi kan..." "Sudah, kamu fokus buat sembuh saja, ya." Kata sasya menenangkan Dafa. Sasya merahasiakan dari mana dia mendapat uang untuk biaya operasi dan Rumah Sakit Dafa. Dafa hanya anak band yang manggung dari cafe ke cafe, dan penghasilannya belum sebesar band yang sudah terkenal di televisi. Terlebih dia hanya anak yatim yang tinggal dengan Ibu dan 2 adiknya. Dan dialah tulang punggung keluarganya. Dia bahkan masih harus menyekolahkan kedua adiknya itu. Flashback off. Ponsel Sasya bergetar lagi. Dia membaca pesan masuk dari Dafa. "Maaf, Sya. Aku sengaja nggak bilang karena mau jemput kamu di kantor, dan langsung ngajak kamu ke Cafe." Sasya tersenyum sendiri. Ternyata Dafa punya niat baik untuk tetap mempertahankan hubungan mereka. Sementara di kantor Riki. Dia tidak bisa fokus bekerja. Dia terus memikirkan Sasya. Bahkan dia tidak bisa melupakan malam panasnya bersama Sasya semalam. "Apa gue udah gila, ya? Kok bisa otak gue terus mikirin Sasya." Kata Riki bicara sendiri di dalam ruangannya. Dia berdiri dari kursinya. Lalu berjalan mondar mandir di depan meja kerjanya sambil terus melihat ke layar ponselnya. "Bisa-bisanya dia bilang cuma hubungan satu malam. Apa dia bisa lupain gitu aja?" Riki masih bicara sendiri. "Lagian lo ya, Rik. Sasya tu ga ada istimewanya dibandingkan cewek-cewek lain yang udah pernah lo pacarin, badannya juga nggak seseksi mereka yang udah pernah lo tidurin. Terus kenapa cuma Sasya yang masih nyantol di otak lo? Ada yang salah kayaknya sama otak lo, Rik." Riki mulai merutuki diri sendiri. Sore hari, Sasya dan Hana berjalan bersama keluar kantor. "Jadi, Dafa mau jemput lo?" Tanya Hana. "Hm." Jawab Sasya singkat. "Syukur deh hubungan kalian baik-baik aja." Kata Hana. Sasya tersenyum. "Ya, sampai saat ini kita masih baik-baik saja." Kata Sasya. "Sebagai pacar anak band, kita harus punya hati yang besar. Karena di panggung, mereka bukan hanya milik kita. Terutama Dafa, dia vokalis, suaranya bagus, ganteng pula, sudah pasti dia punya lebih banyak fans dibanding yang lain." "Iya, gue tahu." "Gue aja ni, ya. Cowok gue, Bagas, yang mukanya nggak ganteng-ganteng amat aja pernah dikejar-kejar sama fans, apalagi Dafa yang ganteng." Kata Hana mencoba menenangkan Sasya. Sasya tertawa mendengar kata-kata Hana. Mereka akhirnya tertawa bersama. "Sya." Panggil seseorang dari belakang Sasya dan Hana. "Dafa." Sasya terkejut melihat Dafa sudah sampai di depan kantornya. "Hai, Han." Sapa Dafa pada Hana. "Hai. Ya sudah kalian duluan deh, gue mau balik kost dulu." Kata Hana. "Nggak bareng saja, Han? Gue bawa mobil crew." Dafa menawarkan tumpangan pada Hana. "Nggak usah, kalian duluan aja, gue gerah pengen mandi dulu." Jawab Hana mencoba memberikan waktu berdua pada Sasya dan Rafa. "Tapi Bagas udah tahu kan kalau lo nyusul?" Tanya Sasya. "Sudah, kalian tenang aja." Jawab Hana. "Oke kalau gitu kita duluan ya." Kata Dafa lalu menggandeng Sasya menuju mobil yang diparkir di sebelah kantor Sasya. Di dalam mobil, suasana masih hening. Dafa membuka pembicaraan. "Sya... Aku minta maaf ya soal kemarin. Aku yang salah. Aku nggak mikirin perasaan kamu." Kata Dafa sambil mengemudikan mobil. Sasya memutar tubuhnya menghadap Dafa. Dia tersenyum. "Aku tahu, mungkin kamu pikir aku berlebihan. Tapi kamu harus tahu, perempuan mana yang nggak marah saat tahu pacarnya berduaan di toilet dengan perempuan lain?" "Iya, maafin aku. Aku yang salah." Dafa akhirnya mengalah. "Ya sudah, aku maafin. Kamu boleh menghargai usaha orang lain untuk memberikan kamu yang terbaik, tapi kamu juga harus tetap menjaga perasaan aku sebagai pacar kamu." "Iya, sayang. Aku minta maaf sekali lagi. Aku janji akan lebih menjaga perasaan kamu." Kata Dafa lalu mengambil tangan Sasya dan menciumnya. Sasya tersenyum, hatinya terasa lega. "By the way, parfum kamu baru ya, sayang? Kok wanginya beda?" Tanya Sasya sambil mengendus leher Dafa. "Hm, iya. Ini parfum dari Kak Mira." Jawab Dafa. Sasya langsung mundur mendengar nama Mira. "Jangan marah dulu, sayang. Nggak cuma aku kok yang dikasih parfum, semua dikasih kok, kalau nggak percaya tanya saja yang lain, kamu bisa tanya Hana juga, Bagas pasti cerita sama Hana kalau kita dikasih parfum." Kata Dafa mencoba membela diri. Sasya menghembuskan nafasnya. "Oke. Aku bisa terima kalau itu. Tapi awas aja ya kalau sampai kamu terima pemberian dari dia yang hanya dia beri ke kamu tanpa sepengetahuan teman-teman kamu yang lain. Aku nggak mau ada kesalahpahaman yang membuat mereka iri sama kamu." Sasya memberi peringatan pada Dafa. "Iya, sayang. Kamu tenang saja." Dafa mencium tangan Sasya lagi. Sampai di cafe, Dafa mengajak Sasya bergabung dengan teman-temannya di salah satu meja yang ada di cafe itu. Satu per satu teman-teman band Dafa menyambut Sasya dengan bersalaman. Sasya sudah mengenal mereka selama hampir 2 tahun sejak Dafa bergabung dalam band ini. Jadi dia sudah dianggap menjadi bagian dari mereka. Dan sejak saat itulah dia mengenal Hana. Hana juga yang mengajak Sasya kerja di kantornya karena saat itu kebetulan kantornya sedang mencari pegawai yang baru saja lulus kuliah. Mereka juga tinggal di kost yang sama agar bisa berangkat dan pulang kantor bersama, dan juga sebagai teman karena mereka sama-sama perantauan dari Jakarta. Mereka berbincang bersama, sampai beberapa saat kemudian Hana datang. Tak lama band mereka dipanggil untuk naik ke atas panggung. Dafa duduk sambil bernyanyi diiringi musik yang dimainkan oleh teman-temannya. Sesekali matanya menatap Sasya sambil tersenyum. Saat seperti inilah yang paling disukai Sasya. Di saat semua perempuan menatap takjub pada Dafa, tapi tatapan Dafa hanya tertuju padanya. Itu yang membuatnya bangga. "By the way, si Mira mana? Kok ngga kelihatan dari tadi?" Tanya Hana sambil menyenggol lengan Sasya. "Bodo amat, katanya sih dia ada kerjaan, jadi nggak bisa nemenin mereka." Jawab Sasya sewot. "Biasa aja kalik, gue kan nanya baik-baik." Goda Hana yang tahu kalau sahabatnya sangat membenci menejer baru mereka. Sasya tidak menggubris Hana. Dia hanya fokus pada kekasihnya yang sedang bernyanyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD