Jantung Ros berpacu dengan cepat, tatkala mendengar suara bel. Apa lagi, majikan perempuannya baru saja menghubungi dirinya. Ros merasa takut, jika yang membunyikan bel itu adalah majikan perempuannya. Sungguh, Ros ingin lari dan menghilang jika saja bisa. Dia takut kejadian pahit yang dia alami dengan cepat tercium oleh majikan perempuannya yang tiba-tiba pulang dari acara reuniannya.
"Apa Bu Maya pulang subuh-subuh?" Ros sangat takut namun berusaha tenang dan bergegas membukakan pintu. Dia juga menyembunyikan kopernya. Tidak lupa, dia memakai masker dahulu agar luka sobek di bibirnya, juga lebam di pipinya tertutupi.
~
Seorang gadis memencet bel rumah Adam subuh-subuh. Tak berapa lama, pintu pun terbuka dengan menampilkan seorang asisten rumah tangga, yaitu Ros. Gadis itu pun tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
"Hai, Ros," sapa gadis yang usianya sama dengan Ros.
"Eh, Non," ucap Ros pelan. Hatinya merasa tenang karena yang datang bukan Maya. Melainkan adik dari Adam, yaitu adik ipar Maya.
"Pasti kamu heran ya, aku datang subuh-subuh?" tanya gadis itu sambil terkekeh. Ros mengangguk kaku.
"Aku itu sedang menginap di rumah teman di daerah sini. Tadi aku dapat telepon dari Kak Maya. Katanya khawatir sama Kak Adam karena nggak angkat telepon dari semalam. Dari pada aku diomelin, jadi aku langsung ke sini aja. Lagi pula, aku 'kan bisa numpang tidur lagi di sini," ucap gadis itu panjang lebar sambil tersenyum manis dan melewati Ros yang berusaha tenang.
"Oh begitu rupanya. Saya kira ada apa, Non, subuh-subuh sudah datang ke mari." Ros mengangguk-anggukan kepalanya.
Gadis itu mengerutkan keningnya, ketika melihat keadaan Ros yang matanya sembab. Walaupun Ros memakai masker, tapi gadis itu bisa melihat mata Ros. Ros juga berusaha menutupi pipi kirinya dengan sebelah tangan karena tidak tertutup sempurna dengan masker.
"Kamu sakit, Ros?" tanya gadis itu.
Ros menggeleng dan berusaha menghindari tatapan gadis itu. "Tidak, Non."
Ros meninggalkan gadis itu dengan berjalan pelan karena sakit di bagian organ bawahnya. Hal itu tak luput dari perhatian sang gadis.
"Ros ... ." Gadis itu menarik tangan Ros dan membuatnya berbalik. Hal itu membuat sang gadis terkejut.
"Apa yang terjadi dengan kamu, Ros?" tanya sang gadis dan meneliti wajah Ros dengan kedua tangannya. Dia juga membuka masker yang menutupi sebagian wajah Ros.
"Awww ... ." Ros mengaduh.
"Ka-kamu kenapa, Ros?" tanya gadis itu dengan gugup.
"Tadi saya jatuh dari kamar mandi, Non," jawab Ros. Tapi air matanya membuat sang gadis tidak bisa percaya. Apalagi, pipi memar Ros dan juga sudut bibirnya yang sedikit sobek membuat gadis itu curiga.
Gadis itu menggeleng tidak percaya. "Siapa yang membuat kamu seperti ini, Ros? Apa ada orang jahat yang masuk ke rumah?"
"Bukan sama siapa-siapa, Non. Nggak ada orang jahat juga. Saya hanya terjatuh di kamar mandi," jawab Ros dengan berusaha menyakinkan.
"Aku nggak percaya kamu jatuh sampai kayak gini. Jika tidak ada orang jahat, apa Kak Adam yang membuat kamu seperti ini? Bukankah di rumah ini hanya ada kamu dan Kak Adam?" tanya sang gadis dengan hati-hati. Tanpa diduga, Ros merasa ketakutan ketika mendengar nama Adam. Kedua tangannya mengeratkan bajunya dengan gemetar.
"Sa-saya ... ." Ros tak kuasa menahan air matanya.
Gadis itu mulai curiga dengan keadaan Ros. Hal ini seperti keker*san seks*al yang sering dia tonton di televisi.
Gadis itu bukan menuduh yang bukan-bukan terhadap sang kakak. Hanya saja, keadaan Ros benar-benar membuatnya berpikir negatif. Lagi pula, pria dan wanita hanya berdua dalam satu rumah, pasti akan ada set*n di antara mereka.
Tanpa pikir panjang, gadis itu pun menaiki anak tangga menuju kamar Adam. Ros berusaha mengejarnya namun tidak bisa karena rasa sakit di organ bawahnya. "Aaawww ... ."
Suara Ros kesakitan membuat sang gadis menghentikan langkahnya dan menghampiri Ros. "Ros, kamu tidak apa-apa?"
Ros menggeleng. Gadis itu pun memapah Ros agar duduk di sofa terdekat.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya sang gadis sambil menggenggam tangan Ros.
Ros tidak menjawab. Dia hanya menangis dengan pilu sambil memegang baju bagian dadanya.
Sang gadis semakin curiga dengan apa yang Ros lakukan. "Apa yang dilakukan Kak Adam sama kamu, Ros?" tanyanya dengan tegas. Hal itu sukses membuat Ros terlihat takut dan semakin menangis.
"Ros, bilang sama aku, jangan diam saja!" teriak sang gadis dengan melepas paksa tangan Ros yang ada di dadanya itu dan membuat beberapa kancing baju Ros terlepas, lalu gadis itu membekap mulutnya dengan apa yang dia lihat di dad* Ros.
"Sa-saya ... Dinod*i Pak Adam."
Degh ... Jantung gadis itu terasa berhenti berdetak.
Suara Ros bergetar sambil terisak. Hal ini membuat si gadis merasa marah dan bergegas pergi meninggalkan Ros. Namun Ros lebih dulu menahan lengannya.
"To-tolong jangan ganggu Pak Adam!" pinta Ros.
"Apa maksud kamu, Ros? Kamu harus minta pertanggungjawaban dari Kak Adam!" Wajah gadis itu terlihat marah.
"Tidak, Non. Pak Adam tidak salah. Dia tidak sadar melakukan hal itu pada saya karena pengaruh obat. Jadi saya rasa, Pak Adam tidak harus bertanggungjawab. Ini salah saya karena tidak bisa menjaga diri."
"Kamu gil*, Ros. Di sini kamu korb*n. Kenapa kamu malah menyalahkan diri sendiri?"
"Saya hanya tidak ingin memperumit masalah. Apa lagi jika sampai Bu Maya tahu soal ini. Biar saya yang tanggung sendiri!"
Gadis itu baru ingat dengan Maya, yaitu istri kakaknya.
"Saya lebih baik pergi dari sini. Daripada harus membuat rumah tangga Bu Maya dan Pak Adam berantakan." Hati Ros sebenarnya nyeri mengatakan kalimat itu.
"Kenapa kamu malah memikirkan orang lain. Di luar sana banyak wanita yang sengaja ingin diperistri oleh pria kaya. Sementara kamu ... Kamu korb*n di sini tapi malah mengalah," ucap si gadis sambil memeluk Ros dan menangis.
~
~
~
Ros akhirnya diantarkan gadis itu ke stasiun kereta. Walaupun si gadis awalnya melarang Ros untuk pulang. Tapi Ros tetap memaksa. Gadis itu pun mengijinkan, dengan syarat, bahwa Ros boleh pulang asal mau menerima sejumlah uang darinya. Ros dengan berat hati menerimanya dan akan menggunakan uang itu sebaik mungkin. Jika Ros menolak pemberiannya, maka dia akan semakin sulit untuk pergi.
Sementara Adam masih terlelap ketika gadis itu kembali ke rumahnya. Gadis itu teringat dengan pesan terakhir Ros sebelum berangkat ...
"Jangan sampai Pak Adam tahu soal ini. Begitu juga dengan Bu Maya. Bilang pada mereka, kalau saya pulang karena ibu saya sakit di kampung."
Lamunan gadis itu buyar, ketika mendengar Adam turun dari lantai dua sambil menyapanya yang sedang duduk melamun di kursi ruang TV.
"Sejak kapan kamu datang?" tanya Adam dengan wajah lelah khas bangun tidur dan mengambil segelas air putih di galon yang tersedia di sana.
"Sejak subuh," jawab gadis itu pelan. Dia pun menyembunyikan wajah sembabnya.
Adam mendengkus dan meminum air putih itu. "Tumben?"
"Abis nganterin Ros ke stasiun buat pulang ke kampungnya."
Uhuk ...
Adam tersendak dengan minumannya. Dia pun mengelap mulutnya yang basah dengan tisu yang tersedia di sana. Jujur saja, semalam dia memimpikan hal yang aneh. Dia bermimpi melakukan hubungan suami istri dengan Maya. Tapi di telinganya terdengar suara tangisan Ros.
Ya ... Adam rasakan hanya mimpi. Mimpi yang nyata dia rasakan.
°°° TBC