Adik Adam sudah pamit pulang beberapa waktu yang lalu tanpa banyak bicara. Adam sendiri merasa aneh dengan tingkah laku adiknya yang pendiam. Menanyakan soal Ros saja, hanya dijawab sang adik seperlunya.
"Ros bilang, dia ingin berhenti bekerja karena ibunya di kampung sedang sakit. Dia juga bilang, minta maaf tidak bisa pamit sama Kak Adam dan juga Kak Maya."
Hanya itu yang diucapkan sang adik, lalu setelah itu pamit pulang.
Adam tidak mau ambil pusing soal kepulangan Ros. Lagi pula, Maya pasti bisa membujuk Ros untuk bekerja kembali. Jika Ros benar-benar ingin berhenti, itu adalah haknya.
Ponsel Adam ternyata tertinggal di mobil semalam. Adam baru mengingatnya dan mengambil ponsel itu. Namun ternyata daya baterainya habis. Dia pun mengisi ulang baterai ponselnya sambil ditinggal mandi.
Di tengah kucuran air shower yang membasahi tubuh Adam, tiba-tiba muncul bayangan yang memenuhi mimpinya semalam. Bayangan yang tak jelas namun membuatnya terdiam menyelami tentang mimpinya. Kenapa efek merindukan Maya sampai bermimpi segil* itu?
"Tolong jangan lakukan itu, Pak."
Sekelebat sebuah suara terngiang di telinganya. Suara yang terdengar samar-samar. Dia tidak menyangka akan terngiang-ngiang oleh mimpi itu. Adam pun dengan cepat menyudahi mandinya.
~
"Astaga ... Ternyata Maya beberapa kali menghubungiku," ucap Adam setelah menghidupkan ponselnya. Dia pun dengan cepat menghubungi Maya kembali. Namun ternyata, Maya tidak mengangkatnya sama sekali.
Kemarin Maya ijin pergi reuni dengan teman-teman SMA-nya. Sebenarnya Adam tidak mengijinkan karena Maya harus menginap. Bukan Maya saja, putra semata wayangnya yang baru berusia 5 tahun itu diajak olehnya karena teman-temannya pun membawa anak-anak mereka.
Ini adalah kali pertama bagi Adam ditinggal Maya beserta anaknya menginap. Biasanya Maya hanya menginap di rumah orangtuanya atau di rumah orangtua Maya.
Adam tidak bisa membayangkan, jika tidur tanpa Maya di pelukannya. Maya bagaikan sebuah guling hidup yang setiap malam dia peluk.
Hari ini Adam ijin libur tidak datang ke Kampus. Entah kenapa, badannya terasa kurang fit dan dia merasakan pegal-pegal.
~
Maya akhirnya pulang ke rumah ketika malam hari. Adam menyambutnya dengan gembira. Namun wajah Maya terlihat kesal dan marah, lalu pergi meninggalkan Adam yang tersenyum masam.
"Pasti soal telepon nggak diangkat itu," ucapnya pelan sambil memandang sang istri yang naik ke lantai atas. Dia pun memilih membawa sang putra ke kamarnya untuk membantunya bersih-bersih dan menidurkannya.
~
"Maafkan aku!" ucap Adam sambil memeluk Maya dari belakang yang sedang berdiri di balkon kamarnya.
"Ck ... ." Maya berusaha melepaskan pelukannya. Namun Adam malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang ... Please ... Aku nggak mau kamu marah kayak gini hanya karena aku nggak angkat telepon dari kamu." Adam membela diri.
"Hanya ... Kamu bilang? ... Ya ampun ... Kamu tahu nggak? Aku semalam sampai nggak bisa tidur karena khawatir sama kamu. Kenapa sampai nggak angkat telepon dari aku, sih?" Maya mengeluarkan uneg-unegnya.
Adam menghela nafas panjang. "Ponsel aku ketinggalan di mobil. Jadi aku nggak tahu kalau kamu telepon aku."
~~~
Flash back ~
Maya tidak bisa tidur. Dia teringat pada Adam, suaminya. Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam.
Semua temannya baru saja terlelap. Anak laki-lakinya pun sangat tertidur pulas berada di sampingnya.
Maya mengambil ponselnya dan menelepon nomor Adam. Namun sama sekali tidak diangkat walaupun berkali-kali.
"Mungkin Mas Adam sudah tidur," ucapnya dalam hati. Dia pun berusaha tidur walaupun sangat sulit. Entah kenapa, hatinya sangat gelisah.
~
Pagi pun tiba. Maya kembali menghubungi nomor Adam. Namun tetap tak diangkat. Dia pun mencoba menghubungi nomor asisten rumah tangganya yaitu Ros. Sama dengan Adam, Ros juga tidak mengangkatnya.
"Mungkin Ros sedang di dapur. Bukankah jam segini Ros sudah berada di dapur?" ucapnya bicara sendiri.
"Tapi kenapa hatiku sangat mengganjal, ya?" Maya memegang dad*nya.
Tidak tinggal diam. Maya menghubungi seseorang. "Hallo, Dek. Kakak boleh minta tolong ... ."
~
~
~
Rasa yang membuat Maya gundah itu ternyata memang fatal. Di rumahnya telah terjadi tragedi kelam bagi asisten rumah tangganya. Tragedi yang bisa saja membuat rumah tangganya hancur.
Flash back of ~
~~~
Maya terlihat menurunkan amarahnya. "Aku benar-benar khawatir banget sama kamu, sayang. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Ros juga nggak angkat-angkat telepon dariku. Malah hari ini, telepon Ros nggak aktif. Subuh tadi, aku menghubungi adikmu untuk melihat keadaan kamu. Tapi sampai sekarang, adikmu malah nggak ada kabar."
"Pantas saja, tadi adikku ada di sini."
Adam pun mengerutkan keningnya. Dia juga bingung kenapa Ros juga tidak mengangkatnya.
"Mungkin Ros lagi nggak pegang ponsel. Soalnya semalam hujan deras dan petir. Jadi kayaknya Ros nggak pegang ponsel."
Maya baru mengingat Ros. "Oh, ya ... Kok aku nggak lihat, Ros? Ke mana dia?"
"Ros pulang ke kampungnya. Katanya, ibunya sakit. Adikku yang anterin dia ke stasiun," jawab Adam.
"Apa? Kenapa Ros nggak ijin sama aku? Terus, kenapa adik kamu juga nggak cerita dan malah ikut-ikutan nggak aktif ponselnya. Ish ... Nyebelin."
"Mungkin Ros kehabisan kuota. Atau di kampungnya nggak ada signal. Nanti kamu coba telepon dia aja. Kalau soal adikku, aku juga kurang faham. Tadi aja sikapnya aneh setelah bilang sama aku kalau dia abis nganterin Ros ke stasiun."
Maya mengerutkan keningnya. Dia merasa ada hal aneh yang disembunyikan adik iparnya.
~~~
Ros tiba di kampungnya pada malam hari. Sebenarnya, Ros tidak langsung pulang ke kampung. Dia menghubungi adiknya yang juga sebagai ART di kota besar itu. Dia akhirnya menceritakan semua yang dia alami. Sang adik yang bernama Rodiah itu sangat marah dan ingin mendatangi majikan Ros untuk meminta pertanggungjawaban. Namun Ros melarangnya.
Rodiah tidak mengenal siapa majikan Ros. Tapi Rodiah tahu siapa majikannya. Yaitu, anak pemilik Kampus terbesar di kota besar itu.
~
Ros dan Rodiah kakak beradik. Mereka sama-sama bekerja di kota sebagai ART. Ros sudah 5 tahun bekerja di rumah Adam dan Maya. Usianya sekarang baru 20 tahun. Ya ... Ros bekerja di rumah mereka itu ketika berusia 15 tahun setelah lulus sekolah menengah pertama.
Sementara Rodiah, dia belum genap 1 tahun kerja di kota. Tempat mereka pun sangat berjauhan. Mereka mengadu nasib ke kota karena ingin membantu perekonomian keluarga.
~
Ros tiba di kampungnya pada malam hari. Dia sengaja tiba malam karena takut dan malu oleh tetangga dengan keadaannya. Namun, Ros terpaksa berbohong pada sang ibu, yaitu mengarang cerita bahwa dirinya diperk*sa ketika di perjalanan pulang oleh seorang preman. Ibunya marah dan menangis dengan nasib Ros. Apalagi ketika melihat pipi Ros yang memar dan juga sudut bibirnya yang sedikit sobek.
Ros pun menangis dan meminta maaf. Namun tangisannya melainkan karena kebohongannya.
"Ros minta maaf, tidak bisa menjaga diri."
"Ya Tuhan ... Kenapa Engkau memberikan cobaan berat itu pada putri hamba," lirih sang ibu yang bernama Rumana itu.
Ros bersimpuh di pangkuan sang ibu sambil menangis.
"Maafkan, Ros, Bu!"
°°° TBC