4. Hamil Tanpa Suami

1139 Words
Keesokan harinya, Maya menghubungi Ros. Dia benar-benar khawatir pada asisten rumah tangannya itu. Dia sudah menganggap Ros seperti adiknya sendiri karena dia anak tunggal. "Hallo, Ros," sapanya langsung ketika sambungan telepon itu tersambung karena sangat tidak sabar. "Ha-halo, Bu," jawab Ros dengan gugup di seberang sana. "Kenapa kamu nggak bilang-bilang, kalau kamu pulang ke kampung karena ibumu sakit?" "Maaf, Bu, soalnya saya buru-buru dan panik setelah dengar kabar Ibu sakit. Sampai-sampai nggak kepikiran minta ijin dulu sama Ibu. Lagi pula, kebetulan ada adiknya Bapak datang ke rumah. Jadi, saya titip ijin buat disampaikan ke Ibu sama Bapak. Sekalian dianterin ke stasiun." "Baiklah, saya maafkan. Tapi, kenapa ponsel kamu baru bisa dihubungi?" "Saya kehabisan kuota, Bu." "Ya, ampun, kamu ada-ada saja deh. Kamu tahu nggak, saya khawatir banget sama kamu." Ros terenyuh. Matanya mulai berkaca-kaca. Jujur saja, dia sangat menyayangi majikannya itu. Sama dengan Maya, Ros pun sudah menganggap Maya seperti kakaknya sendiri. "Ros ... Kenapa kamu diam saja?" Suara majikannya membuat Ros tersadar. Dia pun berusaha menahan kesedihannya. "Iya, Bu. Ros hanya terharu sama perhatian ibu yang mengkhawatirkan saya." Terdengar kekehan majikannya dari sambungan telepon itu. Ros pun tersenyum samar. "Oh, ya. Gimana kabar Ibu kamu sekarang?" "Alhamdulillah, sudah baikan, Bu." "Syukurlah ... Salam sama Ibu kamu, ya!" "Iya, Bu, terimakasih." "Terus ... Kapan kamu akan kembali ke sini?" "Sepertinya, saya mau berhenti kerja, Bu." "Apa? ... Kenapa, Ros? ... Apa kamu nggak betah kerja sama saya?" "Betah, kok, Bu. Hanya saja, saya khawatir sama Ibu di kampung yang tinggal sendiri. Jadi, saya ingin selalu ada di dekat Ibu saya." "Ros, saya mohon kamu jangan sampai berhenti kerja!" mohon Maya. "Maaf, Bu. Tapi kasihan Ibu saya. Dia sudah lama ditinggal kerja sama saya. Lagi pula, umur saya sudah cukup untuk menikah. Ibu pengen, saya menikah di kampung," jawab Ros. "Astaga ... Mungkin itu alasan Ibu kamu sakit. Beliau pengen kamu cepat-cepat nikah. Padahal, usia kamu masih muda." Maya terkekeh dengan ucapan Ros. Padahal hati Ros sedang nyeri dan merasa bersalah sudah berbohong pada majikan yang sudah dia anggap kakak itu. Lama mereka berbincang. Sambungan telepon pun berakhir. Maya akhirnya merelakan Ros untuk berhenti kerja. Adam melihat Maya bersedih dan merasa tidak rela karena Ros harus berhenti kerja. Namun, yang Adam rasakan lebih dari kata tidak rela. Entahlah, Adam pun tidak bisa menebaknya. ~~~ Beberapa Minggu kemudian. Maya benar-benar merindukan sosok Ros di rumahnya. Namun dia tidak bisa mencegah Ros untuk berhenti bekerja. Dia sangat berharap, Ros kembali kerja padanya karena mencari asisten rumah tangga yang baru dan cocok itu susah. Putra kecilnya yang baru berusia 5 tahun itu juga merasa kehilangan sosok Ros. Setiap kali dia bertanya tentang Ros, Maya selalu menjawab jika Ros pulang ke rumahnya dulu. "Ma ... Abang, kangen Mbak Los," ucap putranya itu dengan celotehan cadelnya. "Abang pengen samperin Mbak Los ke rumahnya." Maya tersenyum menanggapinya, "Sayang ... Rumah Mbak Ros itu jauuuhhh banget. Kalau kamu samperin Mbak Ros, gimana dengan sekolah kamu?" Anak Maya sudah memasuki sekolah taman kanak-kanak saat ini. Biasanya, jika Maya sedang sibuk, Ros lah yang mengantar jemput ke sekolahnya. Maya melihat, anaknya langsung murung. Dia pun berusaha mengalihkan perhatiannya. ~~~ Sama halnya dengan Ros di kampungnya. Dia juga merindukan anak majikannya itu. Dia merasa sedih ketika memandangi beberapa fotonya yang dia potret di ponselnya. "Mbak sangat merindukan, Abang," ucap Ros bicara sendiri. Tiba-tiba Ros merasa mual dan pusing. Penglihatannya terasa kabur dan lama kelamaan menjadi gelap, lalu terjatuh pingsan. Sang Ibu yang melihatnya langsung berteriak dan menghampirinya. Lalu meminta tolong pada tetangga dekatnya. Beberapa jam kemudian ... Ros membuka matanya dengan pelan. Kepalanya masih terasa pusing. Hidungnya menci*un aroma obat. Dia pun berusaha sadar sepenuhnya. Ternyata dirinya sedang berada di ruang puskesmas. "Kamu sudah sadar, Ros?" tanya sang Ibu sambil menggenggam tangannya. Ros mengangguk pelan. Lalu dia melihat mata sang ibu yang sembab. Dia bisa menebak bahwa sang ibu pasti sudah menangis. "Ibu kenapa?" Sang ibu yang bernama Rumana itu tersenyum. "Ibu tidak apa-apa. Ibu seharusnya bahagia, bukan bersedih karena akan menjadi seorang nenek." Degh ... Ros merasa jantungnya berhenti berdetak. "Apa maksud Ibu?" "Ka-kamu sekarang positif hamil, Ros. Itu berarti, Ibu akan menjadi nenek." Ibunya berusaha bersikap senang. Padahal hatinya sakit dengan kenyataan sang anak yang harus hamil tanpa seorang suami. Ros membekap mulutnya tidak percaya. Tangannya meraba perutnya yang masih rata. Cairan bening akhirnya lolos begitu saja di pipinya. "Apa yang harus Ros lakukan, Bu? ... Ros tidak mungkin hamil tanpa seorang suami. Tetangga pasti akan jijik sama Ros karena telah mengandung dan tidak tahu siapa ayahnya. Apa Ros gugurkan saja. Mumpung cabang bayi ini belum tumbuh besar." Bu Rumana terkejut dengan ucapan Ros. Dia tidak menyangka Ros akan punya pikiran sej*hat itu. "Astagfirullah, Ros ... Kamu jangan gegabah. Allah sangat memb*nci hal itu." "Tapi bayi yang aku kandung tidak punya ayah, Bu. Ros juga pasti malu. Begitu juga dengan anakku nanti. Dia pasti malu karena terlahir tanpa seorang ayah," ucap Ros dengan histeris. Bu Rumana memeluk sang putri guna menenangkannya. "Ini adalah takdir yang sudah digariskan Allah, Ros." Ros menangis di pelukannya. Terbesit di pikirannya, ingin memberitahu kehamilannya pada Adam, majikannya itu. Tapi Ros tidak yakin karena Adam tidak tahu kejadian malam pahit yang Ros alami. ~~~ Beberapa hari kemudian. Ros ingin sekali menghubungi adik majikannya dan memberitahu bahwa dirinya sekarang sedang hamil anak kakaknya. Biar bagaimanapun, adik majikannya itu tahu apa yang terjadi padanya. Jadi pikirnya, tidak ada salahnya memberitahu. Namun dia teringat pada Maya, hingga urung dia lakukan. Bagai peribahasa mengatakan, pucuk dicinta ulam pun datang. Adik majikannya ternyata menghubunginya. Ros merasa senang dan langsung mengangkatnya. Namun ternyata, adik majikannya mengatakan kabar yang membuatnya sedih. Maya sedang sakit kanker rahim. Mau tidak mau Maya harus operasi pengangkatan rahim. Hal itu akan menyebabkan Maya tidak akan bisa memiliki keturunan lagi. Padahal Maya pernah cerita padanya, ingin memberikan adik perempuan untuk putranya. "Kasihan, Bu Maya," lirihnya dengan sedih setelah telepon terputus. Dia pun mengelus perutnya yang masih rata dan urung memberitahu adik majikannya itu. ~~~ Detik demi detik. Jam demi jam. Hari demi hari. Minggu demi minggu dan bulan demi bulan Ros lalui. Perutnya semakin membesar. Gunjingan tetangga sudah tak dia hiraukan lagi. Mau mengeluh pun tak ada gunanya. Toh dia memang hamil tanpa seorang suami. Untung saja ketua RT di kampungnya memahami penderitaannya. Karena beliau sangat mengenal Ros dengan baik. Sehingga sedikit membuat dirinya dan ibunya tenang. Ros meringis sambil memegangi perutnya yang buncit. Sudah beberapa hari perut dan pinggangnya terasa nyeri. Minggu ini memang HPL yang Bidan tafsirkan. Dia pun sangat tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Namun sayang, wajahnya sangat pucat. Kehamilannya tidak seperti wanita hamil lainnya. Tubuhnya sangat kurus. Sang Ibu selalu bertanya kesehatannya pada sang Bidan, namun Bidan bilang dia tidak apa-apa. Nyeri di perutnya sampai ke pinggang semakin terasa. Dia pun mengaduh dan memanggil sang Ibu. Namun darah yang mengalir di paha membuatnya berteriak ... "Ibuuuuu ... ." °°° TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD