STARLEESPATH2

1407 Words
--- # 🌌 **THE STARLESS PATH** ### *Novel Puitis-Filosofis* ### *Bab 1 — Bab 3* --- # **BAB 1 — LANGIT YANG KEHILANGAN NAFAS** Langit Harrow malam itu bukan langit yang dikenalnya. Biasanya, langit membawa rasa kedekatan—seperti seseorang yang memahami kebiasaan kita, seperti teman lama yang tahu di mana kita selalu berdiri saat memandang bintang. Tapi malam itu langit terasa asing, jauh, seperti seseorang yang lupa namanya sendiri. Eidan Mikhail memandang ke atas dari teras kecil observatorium. Ujung jarinya menyentuh dingin pagar besi, dan angin tipis menelusuri garis wajahnya. Ia merasakan sesuatu di udara: bukan ketakutan, bukan kesedihan—melainkan **ketiadaan**. Ada malam-malam ketika sunyi terasa lembut. Malam ini sunyi terasa seperti lubang. Ia menutup mata, mendengarkan. Biasanya malam memiliki ritme: desir angin, gesekan jarum semak, suara serangga, dengungan listrik dari menara radar. Semua itu berbaur menjadi harmoni yang membuat alam terasa hidup. Namun malam itu, harmoni itu mati. “Langit sedang menahan napas,” gumamnya. Ia memikirkan ayahnya—pria yang mengajarkannya membedakan konstelasi sejak usia lima tahun, yang menjelaskan bahwa setiap bintang seperti manusia: lahir, tumbuh, meredup, mati, tapi meninggalkan cahaya yang menyeberangi ribuan tahun ke masa depan. “Tidak ada yang benar-benar hilang,” ujar ayahnya bertahun-tahun lalu. “Cahaya selalu menemukan jalan pulang.” Tapi malam itu, cahaya tampak tersesat. Ia mengarahkan teleskopnya, mengatur fokus. Bintang-bintang yang biasanya berpendar terang malam ini tampak seakan sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat. Cahaya mereka berdenyut lambat. Beberapa bahkan redup drastis, seperti nyala lilin yang dilindungi tangan rapuh. “Kenapa?” bisik Eidan. Tidak ada jawaban. Hanya langit yang semakin gelap di luar jangkauan teleskop. Ia mengalihkan pandangan ke tepi observatorium—dan saat itulah ia melihatnya. Sebuah kotak kecil, terbungkus kain kusam, diletakkan tepat di depan pintu logam observatorium. Tidak ada kurir malam. Tidak ada akses publik ke area itu. Dan tidak ada alasan apa pun mengapa kotak itu bisa ada di sana. Ia turun perlahan, setiap langkah terasa berat. Ada rasa yang aneh—seperti seseorang sedang memegang ujung napasnya menunggu reaksinya. Ketika ia jongkok untuk mengambil kotak itu, dunia seperti mengecil di sekelilingnya. Karena di atas kotak itu, dengan tinta yang nyaris pudar, tertulis namanya: **“Untuk Eidan.”** Tulisannya… Bukan tulisan orang asing. Bukan tulisan yang keliru diingat. **Itu tulisan ayahnya.** Ayahnya yang telah mati. Dan malam yang tadinya hanya gelap, kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Menjadi pertanda. --- # **BAB 2 — CATATAN YANG TERLUPAKAN WAKTU** Tangan Eidan gemetar saat ia membuka kotak itu. Di dalamnya, tidak ada apa-apa kecuali sebuah buku catatan tua, kulit cokelatnya retak dan kusam seperti sudah melewati perjalanan yang lebih panjang daripada usia manusia mana pun. Ia mengenali buku itu. Itu milik ayahnya. Buku yang hilang bersama tubuh ayahnya dalam kecelakaan kapal riset sepuluh tahun lalu. Para penyelam tidak pernah menemukan bangkai kapal, apalagi barang-barangnya. Namun buku itu sekarang berada di pangkuannya. Ia membawanya ke ruang kerja kecilnya, menyalakan lampu meja yang redup. Cahaya kuning menyentuh halaman pertama, mengungkapkan tulisan tangan ayahnya—kokoh namun sedikit condong, sama persis seperti yang ia lihat pada catatan astronomi lama. Di halaman pertama, hanya ada satu kalimat: **“Jika kau membaca ini, Eidan, berarti bintang-bintang telah mulai padam.”** Eidan menutup mata, mencengkeram buku itu seperti seseorang memegang sesuatu yang berbahaya tapi tak mampu dilepaskannya. Ia membuka halaman berikutnya. Ada peta galaksi yang digambar dengan tangan—rumit, detail, dan menyimpan jejak kecemasan yang halus. Di tepi halaman, ayahnya menulis: > “Cahaya tidak pernah memudar tanpa sebab. > Jika banyak bintang meredup bersamaan, > maka mereka sedang *diambil*.” Bagian selanjutnya membuat Eidan merinding: > “Ada entitas di tepi Andromeda—ruang hampa yang bukan ruang hampa. > Ia disebut *Nadir*. > Pemakan cahaya. > Penjeda nyawa bintang.” Nadir. Kata itu tampak sederhana, tapi memiliki beban seperti teriakan sunyi. Eidan membalik halaman cepat, semakin gelisah. Ada diagram gelap seperti lubang iris mata raksasa. Ada catatan tentang gerak cahaya yang bergerak berlawanan hukum fisika. Ada grafik pola redup yang sama dengan yang sedang ia amati beberapa bulan terakhir. Tetapi yang membuat jantungnya hampir berhenti adalah halaman terakhir buku itu. Di sana, di tengah halaman kosong, ayahnya menulis dengan tinta yang lebih gelap: **“Jika kau mencari Nadir… kau akan menemukan Lara.”** Eidan tersentak. Bernapas rasanya sulit. Ia menutup buku dan membiarkannya jatuh ke meja, duduk memegangi wajah. Lara. Wanita yang ia cintai. Tunangannya. Lara yang hilang dalam ekspedisi bintang supernova di Pegasus-9. Lara yang tidak pernah kembali. Tidak pernah ditemukan. Tidak pernah memberi satu pun tanda hidup. Lara yang membuat hidup Eidan runtuh pelan-pelan seperti meteor kecil yang melubangi hati. Dan sekarang… Ayahnya mengatakan Lara ada di tempat yang bahkan tidak dicatat dalam peta semesta. “Kau bercanda…” bisiknya parau. Tapi ia tahu ayahnya tidak pernah bercanda soal langit. Langit bagi ayahnya bukan tempat cerita—tapi rumah. Dan jika ayahnya menulis itu, berarti ia menginginkan Eidan menemukan sesuatu. Atau seseorang. --- # **BAB 3 — MEREKA YANG TINGGAL DALAM GELAP** Hujan turun pagi berikutnya. Rintik kecil mengetuk atap observatorium, seperti sekelompok jari kecil mengetuk-ngetuk sehelai kaca. Eidan duduk diam di depan buku catatan itu, seolah menunggu hujan memberi jawaban. Tapi hujan bukan untuk menjawab. Ia untuk menyamarkan kesedihan. Ada suara langkah pelan masuk ke ruang kerja. Itu **Rheya**, rekan astronom sekaligus sahabat sejak masa kuliah. “Eidan… kamu belum tidur, ya?” Suara lembutnya mengandung kekhawatiran. “Terlalu banyak yang harus kupikirkan.” Ia menutup buku itu perlahan. Tatapan Rheya tertarik ke buku itu. “Itu bukan… buku ayahmu yang hilang itu, kan?” Eidan tidak menjawab, tapi itu cukup. Rheya menarik kursi, duduk di depannya. “Eidan, kau harus berhenti mengejar… bayangan.” “Ini bukan bayangan.” “Lara sudah ti—” “Jangan.” Eidan menatapnya. “Jangan mengatakan itu.” Rheya menghela napas panjang. Ia menghormati Lara. Ia menghormati Eidan. Tapi ia juga takut. “Apa pun yang kau pikirkan untuk kau lakukan,” kata Rheya pelan, “jangan lakukan sendirian.” Eidan tidak membalas. Karena ia tahu: apa pun yang harus ia lakukan nanti… tak ada seorang pun yang boleh ikut. Ini bukan perjalanan untuk siapa pun. Saat Rheya pergi, meninggalkan aroma kopi hangat dan kecemasan di udara, Eidan membuka buku lagi. Membaca catatan yang sebelumnya ia lewati. > “Nadir tidak membunuh. > Ia menyimpan. > Ia mengumpulkan cahaya dari bintang, dari jiwa, dari makhluk hidup yang hilang. > Tempatnya disebut jalur tanpa bintang: **The Starless Path**.” Ada diagram tentang sebuah gerbang gelap—lebih gelap dari ruang hampa, lebih pekat dari lubang hitam. Namun di tengahnya ada denyut cahaya kecil, seperti suara yang ingin didengar. Ayahnya menulis: > “Untuk memasuki Starless Path, seseorang harus mengikuti pola redup bintang. > Cahaya yang hilang meninggalkan jejak di ruang.” > “Hanya mereka yang pernah kehilangan cahaya, > yang bisa menemukan jalur menuju kegelapan.” Eidan memejamkan mata. Ia kehilangan Lara. Ia kehilangan ayah. Ia kehilangan bagian dirinya sendiri. Jika itu syaratnya… maka ia adalah orang yang paling memenuhi syarat. Hari mulai malam ketika ia memutuskan. Tanpa menunggu lebih lama, ia menuju hanggar kecil di belakang observatorium. Pesawat kecil miliknya—Athena—masih kokoh meski tidak lagi sering digunakan sejak kepergian Lara. Ia menyentuh permukaan logamnya dengan hati-hati, seolah menyapa teman lama. Ia memeriksa mesin, persediaan oksigen, cadangan makanan, dan modul navigasi. Ia memasukkan buku ayahnya ke dalam tas. Ketika ia menyalakan mesin dan cahaya biru memenuhi hanggar, ia merasakan sesuatu yang aneh: campuran ketakutan dan kelegaan. Ketakutan karena ia tahu ia mungkin tidak akan kembali. Kelegaan karena ia tahu ia akhirnya melakukan sesuatu. Pesawat bergetar pelan. Panel navigasi hidup. Langit malam membuka pintunya. Sebelum ia meluncur, ia memandang sekali lagi ke arah observatorium—tempat ia tumbuh, tempat ayahnya bekerja, tempat Lara pernah tertawa keras-keras saat memaksanya makan makanan kaleng saat lembur. “Kalau aku tidak kembali…” Ia menggantung kalimat itu. Tapi ia tahu: kalau ia tidak kembali, itu karena ia memilih untuk tidak kembali tanpa Lara. Ia memasuki kokpit. Menutup kubah kaca. Dan dengan satu tarikan napas panjang, ia mulai menghitung mundur. “Tiga… dua… satu…” Athena melesat menembus atmosfer. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Eidan merasa tidak sendirian. Langit yang kehilangan napas itu kini seperti memanggilnya— bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai seseorang yang dibutuhkan. Karena di ujung gelap semesta, sesuatu menunggunya. Seseorang menunggunya. Dan perjalanan Eidan baru saja dimulai. --- ### 💫 **BAB 1–3 selesai.**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD