thestarlees path

1807 Words
THE STARLEES PATH --- ## **PROLOG** Tidak ada yang tahu kapan tepatnya cahaya mulai padam. Hanya saja, suatu malam, bintang-bintang terasa redup—seperti sesuatu di langit sedang menahan napas. Dan di antara keredupan itu, seorang pria bernama **Eidan Mikhail** berdiri sendirian di tepi Observatorium Harrow, memandangi langit yang seolah menolak menyapanya. Ia pernah menjadi pemuda yang percaya pada galaksi, pada kemungkinan-kemungkinan, pada keajaiban dalam sebutir debu bintang. Tapi malam itu, ia hanya melihat satu hal: **Kehidupan yang kehilangan cahaya.** Dan ia tidak tahu bahwa perjalanan panjangnya baru saja dimulai. --- # **BAGIAN 1 — PEMBUNUH CAHAYA** Langit malam di Harrow biasanya tampak seperti permadani hitam bertabur berlian kecil. Namun malam itu, redup. Kosong. Eidan menarik napas panjang. Tangannya memegang teleskop lama yang diwariskan Ayahnya, seorang astronom yang meninggal dalam kecelakaan sepuluh tahun lalu. "Ayah," gumamnya lirih. "Kalau kau masih ada, apa kau juga akan mengatakan bahwa bintang-bintang sedang… mati?" Ia tahu itu terdengar absurd. Bintang tidak mati secara bersamaan. Galaksi tidak tiba-tiba redup begitu saja. Namun sejak tiga bulan terakhir, intensitas cahaya ratusan bintang yang diamati observatorium menurun drastis. Para ilmuwan bingung. Para astronom gelisah. Namun hanya Eidan yang merasakan sesuatu jauh lebih dalam—sebuah firasat yang merayap dari tulang punggung hingga ke ujung jari. Seolah ada **sesuatu** di luar sana. Sesuatu yang mendekat. Dan ketika angin malam memukul wajahnya, firasat itu berubah menjadi rasa takut yang tidak bisa dijelaskan. --- # **BAGIAN 2 — SURAT DARI KOSMOS** Saat Eidan turun dari menara observatorium menuju bangunan utama, ia melihat sebuah paket kecil tergeletak di depan pintu logam yang biasanya tertutup rapat. Tidak ada kurir malam. Tidak ada yang seharusnya bisa masuk ke area itu. Namun paket itu nyata. Di atas permukaannya tertulis namanya dalam tulisan tangan yang sangat ia kenali. *Tulisan ayahnya.* Eidan membeku. Tangannya bergetar saat membuka paket itu. Di dalamnya ada sebuah buku catatan tua—jilid kulit cokelat dengan pinggiran yang mulai terkelupas. Bagian depan tertulis: **“STARLESS PATH — Catatan Rahasia”** Ia menelan ludah. Itu buku yang hilang di kecelakaan yang menewaskan ayahnya. Dengan jantung berdegup keras, Eidan membuka halaman pertama. Di situ tertulis sebuah kalimat yang membuat bulu kuduknya merinding: **"Jika kau membaca ini, Eidan, berarti bintang-bintang sudah mulai padam."** --- # **BAGIAN 3 — RAMALAN BINTANG** Halaman berikutnya penuh dengan diagram, peta galaksi, dan coretan-coretan rumit yang tidak pernah diajarkan dalam astronomi umum. Namun satu paragraf membuat Eidan terhenti: > **“Pada tepi galaksi Andromeda, terdapat celah gelap—sebuah lubang keheningan yang bukan lubang hitam, bukan nebula, bukan fenomena alam. > Ia disebut *Nadir*, penjeda cahaya, pemakan bintang. > Jika Nadir bergerak… galaksi akan perlahan kehilangan nyawanya.”** Eidan mengusap wajahnya. “Ayah… kau percaya pada hal ini?” Namun semakin jauh ia membaca, semakin sedikit ia meragukan. Ayahnya meyakini bahwa Nadir bukan fenomena fisik—melainkan **entitas**. Sesuatu yang sadar. Sesuatu yang menelusuri galaksi, meredupkan bintang untuk memakan energi kehidupannya. Dan sekarang, menurut catatan itu… **Nadir sudah bergerak menuju Bima Sakti.** --- # **BAGIAN 4 — KEHILANGAN** Tiga bulan sebelumnya, Eidan kehilangan seseorang yang ia cintai. **Lara Amelie**, sahabat sekaligus tunangannya. Ia tersesat dalam ekspedisi penelitian bintang supernova di luar stasiun orbit Pegasus-9. Kapalnya tidak pernah ditemukan. Nama Lara hanya menyisakan gema. Sejak itu, hidup Eidan berhenti. Ia bekerja, bernapas, tidur—tapi tidak benar-benar hidup. Namun malam itu, saat mencermati halaman terakhir buku ayahnya, darah Eidan terasa membeku. Di lembar paling belakang, tertulis kalimat tunggal: **"Lara masih hidup. Nadir membawanya."** --- # **BAGIAN 5 — GERBANG** Tidak ada waktu untuk berpikir. Eidan menghabiskan dua malam membaca seluruh isi buku itu. Ayahnya percaya bahwa ada satu titik di galaksi yang tidak pernah dicatat dalam peta resmi—sebuah “gerbang gelap” di mana cahaya bintang terlihat sekarat tetapi tidak sepenuhnya hilang. Gerbang itu disebut: **THE STARLESS PATH.** Ayahnya menggambarkannya sebagai lorong kosmik yang menghubungkan ruang nyata dengan dimensi lain—dimensi tempat Nadir tinggal. Dan menurut catatan terakhir ayahnya: > **“Gerbang muncul ketika cahaya bintang-bintang tertentu bergetar dalam pola yang tak wajar. > Kau bisa menemukannya… jika berani mengikuti kegelapan.”** Keesokan harinya, Eidan sudah berada di hanggar pesawat kecil miliknya. Ia membawa buku ayahnya, bekal sekadarnya, dan tekad yang sebagian besar dipenuhi rasa putus asa. “Kau gila,” gumamnya pada diri sendiri. “Tapi apa lagi yang bisa kaulakukan?” Ketika mesin menyala dan pesawat menembus atmosfer menuju keheningan luar angkasa, Eidan tahu: Tidak ada jalan kembali. --- # **BAGIAN 6 — DI JANTUNG KEGELAPAN** Perjalanan ke lokasi yang ditandai dalam catatan ayahnya memakan waktu 18 hari. Dan selama itu, Eidan merasa bintang-bintang benar-benar meredup lebih cepat dari biasanya. Dalam diamnya ruang, jantung semesta seperti berdegup lambat. Ketika ia tiba di koordinat terakhir, pemandangan itu membuatnya terdiam lama. Di sana, di tengah ruang kosong, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada: **Sebuah lingkaran gelap sempurna.** Seolah potongan langit telah dipangkas dan dibiarkan berlubang. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. “Gerbang…” Tapi sebelum ia sempat mendekat, sesuatu bergetar dari dalam tubuh pesawat. Seperti suara—bukan dari luar, melainkan dari pikirannya sendiri. **“Eidan…”** Ia memejamkan mata. Itu suara yang ia kenali lebih dari napasnya sendiri. **Lara.** --- # **BAGIAN 7 — SUARA DARI KEHENINGAN** “Lara? Lara, apakah itu kau?!” Eidan menahan napas. Suara itu samar, seperti gema dari tempat yang jauh. **“Aku di sini… jangan pergi…”** “Di mana kau?!” teriak Eidan, meski ia tahu itu sia-sia. Namun suara itu kembali: **“Ikuti cahaya yang tidak tampak…”** Ia menggigil. Itu bukan kalimat biasa. Lara sering mengatakannya saat mereka berdiskusi tentang fisika teoretis—meme yang mereka buat sendiri saat kuliah. Hanya **Lara** yang bisa mengatakannya. Dan suara itu berasal dari arah lingkaran gelap. --- # **BAGIAN 8 — MASUK KE NADIR** Tanpa memikirkan risiko—atau mungkin karena dia memang sudah tidak peduli— Eidan mengarahkan pesawatnya ke arah lingkaran gelap. Semua sensor mati. Mesin melambat. Warna-warna menghilang. Saat ia menembus gerbang itu, dunia berubah. Bukan ruang hampa. Bukan nebula. Bukan galaksi. Tetapi **kegelapan yang hidup**. Ia merasa dikelilingi jutaan bisikan—suara-suara yang berbeda, orang-orang yang pernah hilang, bintang-bintang yang pernah padam. Seolah setiap cahaya yang hilang meninggalkan jejak suaranya di tempat ini. Dan di antara suara-suara itu… **“Eidan…”** Lara. Ia menekan layar navigasi, mencoba memindai sumber suara. Tapi sebelum ia menemukan apa pun, sesuatu muncul dari kejauhan: **Sebuah cahaya tunggal.** Kecil. Putih. Bergetar lembut. Ini aneh, pikir Eidan. Tempat tanpa cahaya—memunculkan cahaya? Ia mengikuti sumber itu. --- # **BAGIAN 9 — LARA** Saat ia mendekat, cahaya itu berubah bentuk. Dari titik kecil… menjadi siluet. Dari siluet… menjadi sosok. Dan tiba-tiba, ia melihatnya. **Lara.** Berjalan perlahan dari balik bayangan, tubuhnya dikelilingi cahaya redup—bukan cahaya tubuh fisik, tapi lebih seperti jejak energi. “Lara…” Suaranya pecah. Wajah wanita itu mengangkat, matanya lembut tapi penuh kesedihan seperti galaksi yang tengah merintih. “Eidan… kau benar-benar datang.” Ia mencoba meraih tangannya—tapi yang disentuhnya hanyalah udara. Lara tersenyum pahit. “Aku… tidak sepenuhnya di sini.” “Kau… mati?” suara Eidan pecah. “Tidak.” Lara menggeleng pelan. “Tapi aku juga bukan sepenuhnya hidup.” --- # **BAGIAN 10 — PENJAGA KOSMOS** Lara menjelaskan. Ia tidak hilang. Ia tidak mati. Pada hari ekspedisinya, kapal Lara terseret oleh gelombang energi misterius. Gelombang itu berasal dari **Nadir**, entitas yang menyerap cahaya bintang. Siapa pun yang terlalu dekat akan “ditarik” ke dimensi ini—dimensi transisi antara hidup dan mati, antara realitas dan ketidakadaan. “Aku terjebak,” kata Lara. “Tapi aku bukan satu-satunya.” Ia menunjuk sekeliling. Dan Eidan tiba-tiba melihatnya— **ribuan bentuk cahaya**, melayang seperti serpihan bintang. Setiap cahaya adalah jiwa… dari bintang yang padam. Dari makhluk hidup yang hilang. Dari kehidupan yang tercerabut sebelum waktunya. “Aku bersama mereka,” kata Lara. “Kami disebut Penjaga.” “Penjaga?” Lara mengangguk. “Nadir tidak sepenuhnya jahat. Ia mengumpulkan cahaya yang hilang untuk melindungi alam semesta dari kelebihan energi destruktif. Tapi…” Lara menunduk, suaranya bergetar, “Nadir mulai lapar. Ia menyerap terlalu banyak. Terlalu cepat.” “Dan kau terjebak di sini… karena itu?” Lara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak bisa kembali tanpa seseorang yang memiliki cahaya asli.” “Cahaya asli?” “Kau, Eidan.” --- # **BAGIAN 11 — JALAN TERAKHIR** Lara mengarahkannya pada sebuah lingkaran cahaya raksasa—pintu keluar menuju dunia nyata. Namun pintu itu tampak pudar, hampir hilang. “Aku bisa kembali,” kata Lara. “Tapi hanya jika kau memberikan sebagian cahayamu.” “Cahaya apa?” Lara tersenyum lembut. “Cahaya hidupmu.” Eidan mengertakkan rahang. “Apa maksudmu?” “Jika kau memberikannya… umurmu akan berkurang banyak. Mungkin setengahnya. Mungkin lebih.” Suara Eidan pecah. “Lara, aku tidak bisa—” “Aku tidak memaksa.” Lara memegang dadanya, meski tangannya menembus tubuh Eidan. “Aku hanya memberi pilihan.” Hening panjang. Dua dunia menahan napas. Dan Eidan tahu jawabannya sejak pertama kali ia masuk gerbang. “Aku tidak datang sejauh ini untuk kembali sendirian.” Ia maju. Menempatkan tangannya ke dalam lingkaran cahaya itu. Tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdenyut nyeri. Ia merasa kehilangan sesuatu—energi, waktu, masa depan. Tapi ia tidak menarik tangan. Karena di balik cahaya itu, ia melihat wajah Lara. Dan itu cukup. --- # **BAGIAN 12 — PERMULAAN BARU** Ledakan cahaya memenuhi kegelapan. Suara jeritan bintang-bintang terbelah. Nadir menggema seperti badai jauh. Saat Eidan membuka mata… Ia berada di lantai observatorium Harrow. Udara hangat. Angin lembut. Dan bintang-bintang… **lebih terang**. Di sisinya, seseorang berbaring lemah. Lara. Pucat, kelelahan, tapi nyata. Hidup. “Eidan…” Ia meraih tangan yang dulu tidak bisa ia sentuh. “Kau kembali bersamaku.” Eidan tersenyum, napasnya berat. “Tidak ada yang bisa menghentikanku.” Ia merasakan pusing aneh. Kelelahan mendalam. Seolah bertahun-tahun hidupnya menghilang begitu saja. “Tapi… umurnya—” Lara melihatnya dengan panik. Eidan hanya menggeleng. “Aku memilihmu.” Ia menarik wanita itu ke pelukannya, menatap langit yang kini berkilau kembali. “Dan sepertinya,” katanya sambil menatap bintang yang kembali hidup, “semesta juga memilih kita.” --- # **EPILOG — CAHAYA YANG TIDAK PERNAH MATI** Tahun-tahun berlalu. Bintang tidak lagi meredup. Observatorium Harrow kembali ramai. Dan dunia tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik kegelapan kosmos—yang tahu hanyalah mereka berdua. Kadang, saat malam terlalu sunyi, Eidan merasakan detak kecil di dadanya. Detak cahaya. Cahaya yang ia berikan pada Lara. Kehidupan mereka tidak sempurna. Waktu mereka mungkin lebih pendek. Tapi mereka mencintai dengan cara yang hanya dipahami oleh orang yang pernah kehilangan segalanya dalam kegelapan. Dan setiap kali mereka memandang bintang, mereka tahu satu hal: **Cahaya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya mencari seseorang yang berani menemukannya kembali.** --- # 🌌✨ **Selesai**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD