Bagas tetap diam. Ia merasa seolah-olah gravitasi mendadak menjadi lebih kuat, menahan setiap gerakannya, setiap pikirannya. Tiba-tiba suara lain menyela, ceria tetapi tidak pada tempatnya. “Ada apa nih?” Sesil muncul dengan ekspresi ingin tahu, matanya melirik bergantian antara Diana dan Bagas. Diana mengalihkan pandangannya, tatapannya yang sebelumnya tajam kini melunak ketika bertemu dengan Sesil. “Sil,” panggilnya, nada suaranya berubah lebih santai, meskipun sisa-sisa ketegangan masih menggantung di udara. “Ada yang pengen gue omongin sama elo. Soal Uncle Sean. Elo pasti tercengang saat tahu semuanya.” Tanpa menunggu balasan, Diana meraih tangan Sesil, menariknya dengan lembut tetapi penuh tekad, membawa temannya itu menuju atap gedung kampus. Sesil, yang kebingungan tetapi terl

