Bagas kembali mengangguk, kali ini lebih mantap. Namun matanya masih menyiratkan amarah yang tertahan. Perusahaan besar yang dipegang Diana dan Sean pasti mampu menangani badai ini, pikirnya, tapi jauh di lubuk hatinya, ia ingin lebih dari sekadar penyelesaian bisnis—ia ingin keadilan. Di sisi lain, Sean menarik napas panjang, meredakan gejolak emosinya. Ia menatap Diana, yang masih tampak rapuh seperti kaca yang nyaris retak. Dengan lembut, ia mengusap punggungnya, menenangkannya dengan gerakan perlahan yang hampir seperti sebuah mantra. “It’s oke, Diana,” ucap Sean, suaranya tenang seperti aliran sungai di pagi hari. “Jangan percaya dengan berita itu. Mereka hanya ingin menjatuhkan kita. Kamu tahu kan, perusahaan ini sedang berkembang pesat? Banyak yang iri, dan bukan kamu yang m

