Keesokan harinya, jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh pagi saat Diana mulai membuka matanya. Sejenak ia hanya diam, mencoba mengenali sekitar. Sinar matahari yang menerobos jendela menerangi kamar, menyadarkannya bahwa ia berada di kamarnya sendiri. Perlahan-lahan, kejadian semalam mulai terlintas kembali di benaknya, dan dengan refleks ia memijat pelipisnya, menahan pusing yang menyerang akibat mabuk. “Aaahhh! Pusing!” keluhnya, nyaris berbisik. Rasa pening masih menempel kuat di kepalanya. Matanya kemudian tertuju pada sosok Sean yang duduk di samping ranjang, wajahnya tampak muram, menyimpan campuran penyesalan dan harapan. Sean menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam—seolah tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah menunggu Diana memberi sedikit kelonggaran unt

