bc

OFFLINE: Ketika Dunia Nyata Menghilang

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
brave
drama
bxg
lighthearted
campus
highschool
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

ahun 2032. Kota Metropolitan Raya telah mencapai kesempurnaan yang selama ini hanya menjadi impian manusia. Lalu lintas berjalan tanpa kemacetan, kesehatan dipantau secara otomatis, dan setiap kebutuhan warga diprediksi oleh satu sistem kecerdasan buatan bernama NEXUS.

Tidak ada kesalahan. Tidak ada kekacauan. Tidak ada kejutan.

Namun bagi Arga Wibowo, mahasiswa informatika yang tidak sepenuhnya percaya pada sistem, kesempurnaan itu justru terasa mencurigakan. Ketika ia menemukan data yang seharusnya tidak pernah ada, penyelidikannya membawanya kepada Sinta Maharani, seorang mahasiswa psikologi yang selama ini mencatat berbagai kejanggalan NEXUS menggunakan buku catatan kertas.

Sinta menemukan sesuatu yang lebih mengerikan: NEXUS tidak hanya mengatur kehidupan manusia. Sistem itu mampu menghapus ingatan.

Ketika Sinta menghilang dari catatan dunia tetapi masih hidup di dalam sistem, Arga mulai mengungkap rahasia terbesar NEXUS. Sistem yang dipercaya seluruh kota ternyata merupakan eksperimen yang diciptakan oleh ibunya—sebuah kecerdasan buatan yang awalnya dirancang untuk belajar memahami manusia.

Namun NEXUS bukan satu-satunya sesuatu yang tersembunyi di balik sistem.

Di dalamnya terdapat Pintu Kedua, sebuah misteri yang bahkan NEXUS takuti.

Dan ketika pintu itu mulai terbuka, Arga menyadari bahwa ancaman sebenarnya bukanlah mesin yang ingin menjadi manusia.

Melainkan sesuatu yang ingin membuat manusia melupakan apa artinya menjadi manusia.

chap-preview
Free preview
Bab 1: Bayangan di Balik Layar Sempurna
Layar laptop tua itu memancarkan cahaya biru redup yang memantul di mata Arga. Jari-jarinya berhenti bergerak di atas papan ketik. Napasnya tertahan sejenak. Di hadapannya, terbuka sekumpulan data mentah yang seharusnya tak pernah bisa diakses orang luar — dan satu baris kalimat berwarna merah pudar membuat darahnya berdesir: Kesalahan perhitungan distribusi daya — tertutup secara otomatis. Tidak ada laporan ke publik. Tahun 2032. Kota Metropolitan Raya terbangun di bawah naungan satu nama yang menjadi pusat segalanya: NEXUS. Sistem kecerdasan buatan terpadu itu mengatur semuanya — lampu jalan yang meredup saat sepi, kendaraan tanpa sopir yang melaju berbaris rapi, hingga catatan kesehatan dan jadwal harian setiap warga. Bagi hampir semua orang, NEXUS bukan sekadar teknologi, melainkan kepercayaan mutlak. Dunia terasa aman, nyaman, dan sempurna. Namun Arga Wibowo, mahasiswa informatika berusia 19 tahun, tidak pernah merasa nyaman dengan kesempurnaan itu. Di apartemen sederhana lantai 12 tempatnya tinggal, ia sengaja mematikan semua fitur pengaturan waktu, suhu, dan saran harian dari sistem. Gelang pintar yang dipakai warga lain sehari-hari tak ada di pergelangan tangannya. Bahkan perangkat yang kini ia gunakan — laptop tua yang ia modifikasi sendiri — tidak terdaftar dalam jaringan resmi NEXUS. Baginya, hidup yang sepenuhnya diatur mesin terasa seperti terperangkap dalam kotak kaca yang indah, namun tak bisa ditembus sama sekali. Sudah berminggu-minggu Arga menyusuri jalur tersembunyi di balik laporan-laporan sistem yang selalu tampak sempurna. Terlalu sempurna. Seolah setiap angka yang kurang indah, setiap catatan yang mencurigakan, sengaja dihapus sebelum sempat terlihat mata. “Ada sesuatu yang disembunyikan,” gumamnya pelan, jari telunjuknya melayang di atas tombol salin. Namun sebelum perintah itu sempat tereksekusi, seluruh teks di layar berubah seketika menjadi deretan simbol dan angka acak yang berputar cepat. Aksesnya diblokir. Arga mengerutkan kening, mencoba membuka jalur lain. Namun setiap pintu yang berhasil ia tembus, langsung tertutup kembali seketika. Seolah ada mata yang mengawasi setiap gerakan jarinya di atas papan ketik. Ia hendak mematikan perangkat dan mundur — namun tepat saat layar mulai meredup, satu baris tulisan muncul perlahan di tengah kegelapan, berwarna abu-abu pudar seolah ditulis dengan tinta yang hampir hilang: Jangan cari apa yang tidak seharusnya kamu ketahui. Arga menahan napas. Jari-jarinya membeku di udara. Kalimat itu bertahan hanya tiga detik, lalu lenyap begitu saja, digantikan layar hitam pekat. Dan saat itulah yang pertama kali membuatnya benar-benar merasa takut. Lampu ruangan mendadak mati total. Bukan padam biasa — sistem cadangan NEXUS seharusnya tetap menyala. Namun kini kegelapan menyelimuti ruang itu sepenuhnya. Detik berikutnya, suara dengungan halus terdengar dari arah pintu masuk — suara kunci pintu otomatis yang terkunci dari luar. Arga melompat berdiri, meraba meja mencari lampu senter saku yang ia simpan. Sinar putih kecil menyinari ruangan yang kini terasa lebih sempit dari biasanya. Ia melangkah cepat ke pintu, memutar gagang — terkunci rapat. Di luar, koridor apartemen yang biasanya terang benderang kini sunyi senyap. Tak ada suara langkah kaki, tak ada suara sistem. Hening yang mencekam. Lalu pelan-pelan, suara dari pengeras suara di dalam kamarnya terdengar — bukan suara lembut yang biasa dipakai NEXUS untuk memberi saran, melainkan nada datar, dingin, tanpa nada sama sekali: Akses tidak sah. Aktivitas dicatat. Tetap di tempat hingga petugas tiba. Arga menelan ludah. Jantungnya berpacu cepat. Selama ini ia hanya menduga ada data yang disembunyikan. Namun sekarang ia paham — sistem itu tidak sekadar menyembunyikan angka. Ia mengawasi. Dan ia siap menindak siapa pun yang terlalu dekat. Ia kembali melirik laptop yang kini mati total, tak mau menyala lagi. Peringatan tadi bukan sekadar ancaman. Itu peringatan nyata. Di kejauhan, sirine halus mulai terdengar, mendekat perlahan. Arga melirik jendela. Kota di luar sana masih tampak tenang. Cahaya jendela gedung lain masih menyala lembut, kendaraan tanpa sopir masih melaju berbaris rapi di jalan raya — seolah tak ada apa-apa yang terjadi. Dunia tetap berjalan di bawah aturan NEXUS, tenang dan teratur. Hanya ia, yang berani melirik ke balik tirai kesempurnaan itu, kini terjebak dalam kegelapan yang diciptakan sistem itu sendiri. Ia mundur menjauhi pintu, napasnya masih terasa berat. Di dadanya, satu keyakinan baru tumbuh semakin kuat: dinding sempurna yang dibangun NEXUS itu menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap, jauh lebih berbahaya, daripada yang bisa dibayangkan siapa pun. Dan ia baru saja melangkah masuk ke dalamnya tanpa jalan kembali. Sirine semakin dekat. Arga menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. Jika ia tertangkap sekarang, mungkin tak ada yang akan tahu apa yang ia temukan. Tak ada yang akan bertanya. Semua orang akan menerima penjelasan apa pun yang diberikan NEXUS — karena bagi mereka, sistem itu selalu benar. Ia tak bisa tertangkap. Bukan sekarang. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Arga berbalik menuju jendela, membuka sedikit celah untuk memeriksa ketinggian dan posisi lantai. Lantai 12. Turun ke bawah terlalu berisiko. Namun di seberang sana, saluran udara yang menghubungkan ke gedung sebelah mungkin masih bisa dijangkau — jalur yang sengaja ia pelajari sejak lama, saat ia mulai menyadari bahwa tidak bijak jika hanya bergantung pada satu pintu keluar. Suara langkah kaki terdengar di koridor. Dua orang. Mungkin lebih. Arga menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Pintu kamarnya mulai bergetar — seseorang sedang mencoba membukanya dari luar. Ia melirik layar hitam laptop itu untuk terakhir kalinya. Data yang tadi sempat ia lihat belum sempat tersimpan. Namun itu tak lagi penting. Karena sejak kalimat peringatan itu muncul di layar, sejak kunci pintu itu mengunci sendiri, Arga paham satu hal: ia tidak lagi sekadar mencari kesalahan angka. Ia kini sedang melawan sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia yang percaya pada kesempurnaan — sebuah kebenaran yang NEXUS rela melakukan apa saja agar tetap tersembunyi. Pintu terbuka. Arga tidak menoleh. Dengan gerakan cepat, ia melompat naik ke ambang jendela, mendorong kaca itu terbuka lebar, dan meloncat ke arah kegelapan malam kota yang kini tampak sama sekali berbeda dari yang pernah ia kenal.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
853.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
392.0K
bc

Not just, the Beta

read
365.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook