Leana masih menangis, menyesali banyak hal, tentang kepergiannya, tentang menghilangnya, tentang pergi tanpa pamit dan lain hal yang selama ini dia lakukan tanpa diketahui banyak orang, tapi ternyata mereka mengawasi dalam diam. Leana tak tahu akan semua hal itu. “Maaf. Maafkan aku,” bisik Leana dalam dekap erat Melvin yang terus menenangkannya. Tangisnya masih berlangsung, menyayat hati. Sesal itu menggerogoti. Leana tak mampu menahan diri, sesak yang melingkupi dadanya itu kembali terluka. “Jangan menyesali apa yang sudah kau putuskan dulu,” kata Melvin menghibur. Setelah itu Melvin tak mengatakan apa-apa lagi selain membiarkan wanitanya menangis sepuasnya. Besok dia cuti masuk kerja jadi bisa menemani Leana seharian penuh. Bahkan jika wanitanya itu meminta hal-hal lain, dia akan

