Pagi itu, matahari belum sepenuhnya muncul ketika Leana terbangun. Pelukan Melvn masih melingkari pinggangnya, dan napas pria itu teratur, damai. Alvaro pun masih tertidur lelap di boksnya. Leana membelai kepala Melvin perlahan, merasakan ketenangan yang sudah lama tak dia miliki. Tapi entah kenapa, hatinya terasa gelisah. Ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang menunggu di ambang pintu. Walaupun begitu, Leana tersenyum, mensyukuri paginya yang terasa begitu hangat dan indah. Dan hal itu benar-benar datang. Sekitar pukul sembilan pagi, suara bel rumah berbunyi. Melvin sedang menunggu Alvaro dan memperhatikan bayi itu yang sedang bermain-main dengan tangannya, sementara Leana masih sibuk merapikan dapur. Dia turun lebih dulu, membuka pintu sambil menyeka tangannya dengan lap. Suara

