Melvin memeluk tubuh Leana yang bergetar dalam dekapannya. Di balkon itu, dengan hembusan angin pagi yang lembut, waktu seakan berhenti sejenak untuk memberi mereka ruang bernapas. Melvin mengusap punggung Leana perlahan, memberi ketenangan yang tak pernah bisa diucapkan lewat kata. “Aku menyesal pergi diam-diam,” bisik Leana di d**a Melvin. Suaranya serak, penuh penyesalan. “Aku pikir, aku menyelamatkan semuanya dengan menghilang. Tapi ternyata, aku justru meninggalkan luka.” Melvin tak menjawab. Dia hanya memejamkan mata, seolah mencoba menyerap semua rasa sakit dan cinta dalam satu pelukan itu. “Aku butuh waktu untuk berdamai dengan diriku sendiri,” lanjut Leana. “Aku hancur waktu itu. Rasa kehilangan, rasa cemburu, dan keyakinan bahwa aku tak lagi berarti untukmu, semua itu membuatk

