46. Rumah dan Obat

1126 Words

Pukul sebelas malam, Leana terbangun. Dia melirik Melvin yang tidur di sampingnya, tampak lelah sekali. Wajah tampaknya tenang. Leana tersenyum, tangannya terangkat untuk menyentuh wajahnya lembut, tapi Melvin sama sekali tidak terusik, masih lelap dalam buai mimpinya. Cup! Satu kecupan mendarat singkat di pipi Melvin, Leana gemas tapi pria itu tetap tak terusik, masih tidur. Leana menyibak selimutnya hati-hati lalu turun dari kasur. Dia kemudian melangkah ke pintu kamar dan membukanya pelan-pelan agar Melvin tak terbangun meskipun dia yakin suaminya itu lelap sekali. Leana terkejut begitu pintu terbuka dan dia keluar, bersamaan dengan kedatangan dua orang ART. Dia belum sempat menutup pintu ketika keduanya tiba di depan Leana. “Nona?” Seorang ART paruh baya menyapa, ramah sekali k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD