Leana sudah selesai dengan gaun pengantin dan riasan natural di wajahnya kini dia menunggu di pintu besar yang tertutup rapat, aula itu akan menjadi tempatnya melaksanakan pemberkatan nikah dengan Melvin. Ayahnya berdiri di samping, menggenggam tangan Leana erat.
Leana merasakan tangannya basah oleh keringat dingin, gugup yang menderanya membuat perasaannya tak keruan. Leana gelisah, berpikir apakah ini harus? Mengapa Melvin begitu buru-buru mengikatnya dalam pernikahan padahal dia baru saja kembali ke negara asalnya, tempat dia lahir. Dibanding bertemu orang tuanya, Leana justru tinggal di rumah Melvin. Karena awalnya, Leana tak berencana memberitahukan kepulangannya yang mendadak pada keluarganya.
Tapi, yang di lakukan Melvin itu, adalah sesuatu sekali bagi Leana, sesuatu yang terjadi di luar rencananya.
Menyadari putrinya yang gugup di sampingnya, sang ayah berbisik,” Gugup, ya?”
Gadis itu menoleh dan mendapati senyum tipis di wajah rupawan sang ayah yang sudah menua itu.
Ayahnya terkekeh geli. “Kapan terakhir kali kita bertemu, Leana? Tahun lalu, kan? Saat tahun baru,” kata ayahnya.
Pikirannya sontak saja teringat akan pertemuannya dengan keluarga di negara tempat Leana melanjutkan perjalanan menggapai impiannya.
“Papa nggak nyangka, sama sekali. Maaf, karena tidak menyadari masalah besar yang kamu hadapi, Leana. Papa, merasa tak pantas untuk menahanmu sekarang,” katanya.
“Pa … .”
Pria itu menoleh. Setelan jas hitamnya nampak pas di tubuh tegapnya yang masih gagah walaupun rambutnya mulai memutih.
“Sssttt. Jangan menangis. Pengantin harus banyak senyum. Riasanmya mahal, lho, Na,” katanya bercanda.
Leana terkekeh.
Gianta, pria itu pun tersenyum kecil. Menepuk punggung tangan Leana lembut.
“Papa … percaya pada Melvin,” ucapnya sambil menunggu panggilan dari MC di depan pintu besar aula itu. “Anak itu datang hampir setiap hari saat kamu tidak di sini, Na. Meski kami tahu dia mengetahui keberadaanmu, Melvin menahan diri untuk tak datang padamu. Dia bilang, biar Leana bahagia karena bersamanya mungkin akan menjadi luka,” tutur Gianta, terkekeh kecil.
Leana menyimak, sedikit terkejut dengan pengakuan sang ayah.
“Sejak dulu, Papa tau Melvin itu memperlakukan kamu dengan baik walaupun kalian sering kali cekcok,” lanjutnya. “Tapi, kadang, situasi tidak selalu sama seperti yang kita harapkan, ya, kan, Leana?” Gianta melirik putrinya itu.
Diam sejenak. Riuh di balik pintu aula itu terdengar, tapi tak mengusik keduanya, ayah dan anak yang tengah bicara serius itu setelah sekian lama.
“Melvin menjelaskan alasannya meminta izin untuk menikahi kamu pada kami. Dia bahkan meminta izin pada orang tua Freya di hadapan kami. Dia, tetap menjaga hubungan baik kami, bahkan sekalipun tanpa Melvin sebenarnya kami akan tetap berhubungan baik. Namun, Melvin menjelaskan, menceritakan pertemuannya denganmu.”
Bungkam. Leana masih mendengarkan sang ayah.
“Melvin bilang, kamu melahirkan anak, tapi dia tidak tahu siapa yang melakukan itu padamu. Kamu —”
“Pa!” Leana menyentak cepat, tidak ingin pembahasan itu merusak suasana hatinya. “Aku akan menceritakannya nanti, tidak sekarang,” katanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Gianta tersenyum.
“Tentu. Kami akan mendengarkan, Leana. Bahkan mungkin menghajar b******n itu sampai mampus.”
Leana tertawa mendengarnya.
“Baiklah. Kita akan segera memasuki aula. Janji sama Papa, begitu pintu ini terbuka, kamu akan tersenyum, bukan menangis, ya?” Gianta menatap putrinya itu.
“Iya, Pa. Akan aku lakukan.” Leana membalas seraya tersenyum kecil.
“Baiklah. Ayo lakukan ini hari ini, bahagia.”
Leana terkekeh, dan mengangguk setuju.
Mereka siap untuk melangkah melewati pintu besar aula itu begitu sang MC memanggil mereka.
Suara MC terdengar jelas, menggema dengan lembut ke seluruh penjuru aula yang telah didekorasi dengan mawar putih dan anggrek kuning pucat. “Kepada seluruh tamu yang hadir, mari kita sambut mempelai wanita, Leana Violette, yang akan berjalan menuju altar.”
Pintu besar itu perlahan terbuka.
Sinar matahari sore masuk dari jendela tinggi berbingkai kaca patri, menerpa langkah Leana yang baru saja mulai berjalan masuk. Gaun pengantinnya jatuh anggun mengikuti gerakan lembut tubuhnya, dengan kerudung tipis menjuntai ke belakang, berkilau samar diterpa cahaya. Riasan natural memperkuat kecantikannya, membuat wajahnya terlihat bersinar, namun tetap lembut, seperti embun pagi yang hangat.
Ayahnya berjalan di sampingnya, langkah mereka perlahan dan teratur. Di setiap langkah, Leana bisa merasakan detak jantungnya berdentum lebih keras. Suasana aula begitu hening, hingga suara napasnya sendiri terasa nyata. Di kedua sisi, para tamu berdiri, tersenyum dan terpukau, namun semua itu seakan tak berarti dibanding satu sosok di ujung altar.
Melvin Rayder.
Dia berdiri dengan setelan jas hitam sederhana namun elegan. Rambutnya disisir rapi, dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Tapi sorot matanya, sorot mata itulah yang menahan langkah Leana agar tidak gemetar. Ada kebanggaan di sana, ada kekaguman, tapi juga ada ketulusan yang begitu dalam, seolah Melvin baru benar-benar menyadari… bahwa wanita di hadapannya ini bukan hanya sahabat lama melainkan seseorang yang kini sedang melangkah ke dalam hidupnya dengan cara yang jauh lebih bermakna.
Mereka saling menatap, dan dalam tatapan itu, tak satupun dari mereka memikirkan masa lalu yang rumit, luka-luka yang belum sembuh, atau kontrak yang membawa mereka sampai di sini. Yang mereka rasakan adalah detik ini. Saat ini. Saat di mana dua sahabat yang pernah bertukar tawa dan air mata, kini berdiri sebagai dua insan dewasa yang akan saling mengikat janji.
Leana tersenyum pada Melvin, senyum kecil, tapi penuh makna. Melvin membalasnya dengan sedikit anggukan, lalu mengulurkan tangan saat ayah Leana menyerahkan putrinya.
“Saya titipkan Leana,” ujar sang ayah, suaranya parau, namun penuh keikhlasan.
Melvin menerima tangan Leana dengan kedua tangannya, seolah ingin meyakinkan semua orang, dan dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan melepaskannya lagi.
Mereka berdiri di altar. Sang MC mulai membacakan kata sambutan, namun dunia terasa sepi bagi keduanya.
Leana mencuri pandang ke arah Melvin. Dia mengenal pria ini hampir seumur hidupnya. Dia tahu cara Melvin tersenyum saat gugup, cara dia memalingkan wajah saat menyembunyikan emosi, cara bahunya sedikit naik ketika sedang menahan sesuatu. Dan saat ini, Leana bisa melihat semua itu. Tapi berbeda. Ada getaran baru yang tak pernah dia temukan dulu, sebuah harapan, dan ketakutan kecil, bahwa mungkin setelah hari ini, mereka bukan lagi hanya sahabat.
Melvin, di sisi lain, menatap Leana seolah melihatnya untuk pertama kali. Wajah yang dulu begitu akrab kini terasa asing sekaligus memikat. Dia tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Mungkin sejak malam itu. Atau mungkin jauh sebelumnya, ketika dia melihat Leana merawat Alvaro dengan kasih sayang yang tak pernah dia sangka bisa menggerakkan hatinya yang beku.
Dia ingin menyentuh pipi Leana, ingin berkata bahwa dia cantik. Tapi kata-kata itu tertahan. Karena baginya, keindahan Leana bukan hanya pada gaunnya, riasannya, atau cahaya sore yang membingkai wajahnya. Tapi pada keberanian di matanya, keteguhan langkahnya, dan cinta tanpa pamrih yang dia tunjukkan selama ini bahkan saat dunia tidak memihak padanya.
Saat mereka akhirnya diminta untuk saling berpandangan dan bersiap mengucapkan janji suci, Leana menarik napas dalam-dalam.
Ini bukan hanya pernikahan. Ini adalah pengakuan diam-diam bahwa mereka, dua sahabat yang pernah terpisah oleh waktu dan keadaan, telah menemukan satu sama lain kembali, di jalan yang tak pernah mereka rencanakan.
Dan mungkin, hanya mungkin … cinta sedang menunggu di ujung altar.