Leana dan Nala tiba di hotel tempat pernikahan akan dilangsungkan. Masih ada waktu sebelum acara pemberkatan. Leana punya waktu satu jam untuk berbincang sambil makan siang, mungkin? Atau hanya sekadar menyapa keluarga yang sudah menunggu di sana.
Dia berdebar, gugup untuk bertemu 3 keluarga itu pasca kepulangannya yang tanpa kabar itu, tiba-tiba saja Leana mengumumkan pernikahannya dengan Melvin. Yah, meskipun yang melakukan segala upaya itu adalah Melvin seorang, sebab Leana hanya bertarung dengan perasaan ragu di dalam dirinya.
“Kau akan tetap denganku, ‘kan, La?” Leana bertanya pada Nala dengan suara pelan yang sarat akan ketakutan.
“Ya, tenang saja. Aku adalah saksi bagaimana kau berjuang selama kehamilan dan melahirkan. Aku juga saksi atas rasa sakit yang kau alami di sana, Leana. Jadi jangan merasa rendah, jangan pernah. Karena yang salah itu bukan kamu, tapi si b******n gila yang aku sumpahin mati di tong sampah bau!” Rutuk Nala yang masih tampak murka mengingat mantan kekasih Leana yang menikah dengan wanita lain setelah membuat Leana hamil.
Kekehan lolos dari bibir Leana. Merasa terhibur dengan apa yang Nala katakan.
“Terima kasih, La. Aku beruntung sekali memilikimu disisiku,” kata Leana tulus.
“Hei, ayolah. Aku pun merasa beruntung memilikimu, Leana. Kita saling dukung, saling bergantung. Itulah makna dari sahabat. Sudah. Sekarang kau hanya perlu bahagia, kita lupakan saja masa lalu kelammu itu,” kata Nala mengusap lengan Leana lembut, memberikan dukungan, dan semangat untuk sang sahabat.
Mereka semakin masuk ke hotel bintang lima yang diketahui Leana sebagai milik keluarga Melvin. Tidak. Leana tidak merasa rendah sebab keluarganya pun setara, dan Leana punya banyak hal yang patut dibanggakan sebagai prestasinya.
“Mereka di sini?” Nala bertanya, memastikan tempat yang mereka tuju untuk saling bertemu keluarganya Leana itu.
Leana hanya mengangguk, yakin dengan ruangan khusus.
“Ayo. Aku akan menemanimu,” ajak Nala.
Dia pun menekan bel di pintu itu, dan menunggu di sana. Leana berulang kali menelan ludahnya, semakin gugup. Tak dipungkiri jika pikiran buruknya menghantui. Apakah keluarganya akan membencinya? Atau apakah mereka akan menerimanya? Atau justru sebaliknya? Berbagai pikiran buruk itu terus datang, membuat Leana mengepalkan kedua tangannya erat.
Pingin berayun terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang mengenakan kacamata. Rambut hitamnya disanggul elegan.
“Siapa … Leana?” Suara itu menyambut, terkejut kala obsidiannya menangkap sosok Leana di samping Nala.
“H-halo, Bu,” sapa Leana terbata.
“Astaga. Leana!”
Wanita itu menarik Leana untuk memasuki kamar hotel tersebut lantas memeluknya erat sekali dengan derai air mata yang tak mampu dibendung. Nela sigap mengambil Alvaro dari Leana.
Tangis itu pecah. Orang-orang yang ada di ruangan itu mendekat, ikut menangis dalam diam.
“Leana … kemana saja kamu?” Wanita itu melepaskan pelukannya, menangkup wajah Leana, mengusapnya lembut.
Leana tak menjawab, hanya tergugu oleh pertemuan itu.
Belum juga lega dari pelukan erat wanita pertama yang menyambutnya. Seseorang menarik Leana dalam pelukannya labu, itu adalah ibunya. Ibu kandung Leana, sementara yang tadi adalah ibu dari Melvin, Marsha Rayder.
“Maaf. Maafkan Mama yang tak tahu apa-apa tentangmu, sayang,” ucapnya.
Tangis Leana semakin menjadi saja, membalas pelukan ibunya erat. Rindu. Merasa bersalah. Sekaligus haru. Leana sempat berpikir ibunya akan marah. Marah besar seperti layaknya ibu yang kecewa pada kegagalan sang putri.
Lili Violette, ibu Leana itu melepaskan pelukannya, mengusap wajah sang putri dengan kelembutan. Setelah pelukan Lili terlepas, giliran wanita lain yang membawa Leana pada pelukannya. Wanita itu adalah ibu Freya, Fira Miliani.
Sama seperti ibu lainnya, Fira pun menangis, berbisik pada Leana, “Terima kasih sudah kembali, Leana, dan menjaga Alvaro sementara Freya pergi selamanya.”
Hati Leana hancur, perih sekali rasanya mendengar apa yang Fira katakan. Dia pernah kehilangan putranya begitu terlahir, jadi rasa sakitnya masih bisa ditangani walaupun kehilangan itu menjadi luka. Bayangkan saja, Fira kehilangan anaknya yang sudah tumbuh bertahun-tahun dalam pengasuhannya, dalam pengawasan dan didikannya. Rasanya pasti lebih hancur lagi.
Leana masih belum mampu berkata sebab kejutan itu terlalu besar untuknya yang sempat berpikir akan dibenci oleh 3 keluarga itu. Ketika pelukan Fira dilepas, baru saat itulah Leana mendapati sosok tinggi tegap dengan rambut yang hampir memutih semua. Sosok itulah yang akan mengantarkan Leana ke altar, menuju Melvin yang menunggunya nanti.
“Papa ….” Leana tercekat, rasa sesak di dadanya semakin parah. Rasa bersalahnya bertambah tapi melihat kedua tangan kekar yang sudah keriput itu terentang, Leana berlari menghampiri ayahnya dan memeluknya erat. “Papa … .” Hanya satu kata itu yang mampu Leana ucapkan, mewakili kata lainnya yang tersangkut di kerongkongannya.
Usai pelukan hangat dari semua orang yang berkumpul di ruangan itu, Leana duduk di tengah-tengah para ibu.
“Melvin sudah menceritakannya pada kami kemarin. Jadi kami setuju untuk menikahkan kalian. Karena, Leana, tidak ada yang bisa mengganti posisi Freya di samping Melvin, pun sebaliknya. Jadi kami memutuskan untuk setuju. Kamu harus bahagia.” Fira bertutur sambil mengusap punggung tangan Leana dari jarak yang terhalang ibunya Melvin itu.
Leana hanya mengangguk, wajahnya kusut, merah dan basah.
Ibunya memeluk erat di sisi kanan. Sedangkan sisi kirinya ada ibu Melvin lalu setelahnya ibu Freya. Para ayah hanya sibuk dengan bayi Alvaro.
“Jadi, apa yang terjadi padamu?” tanya ibunya.
“Apa?” Leana bertanya balik, serak.
“Bayimu … .”
“Anda tidak perlu khawatir soal itu, Bu,” Nala yang sejak tadi hanya menonton sambil larut dalam haru dan tangis menjawabnya. “Leana akan baik-baik saja. Mengenai si b******n itu, aku sudah menghajar dan akan menghajarnya lagi jika bertemu lagi nanti,” lanjut Nala dengan berani yang mengundang kekehan para ibu.
“Hei, seharusnya kau tak menangis. Lihat wajahmu jadi bengkak. Pengantin kok jelek,” ledek Marsha Rayder sembari mengusap wajah Leana lembut yang tertawa kecil.
“Kau akan menikah dalam 2 jam, jadi tenanglah. Ayo kita lakukan bersama kali ini, untuk saling bahagia mengabadikan momen indah kita, bagaimana?” tanya Fira mengusulkan idenya.
“Bagus. Ayo kita buat sisa hari ini menjadi indah sampai malam nanti,” timpal Lili, ibu Leana itu semangat.
Ah, Leana lupa kalau tiga keluarga itu sudah dekat sejak lama. Berawal dari pertemuan rutin wanita sosialita, lalu beralih ke organisasi sebuah yayasan kanker. Mereka menjadi fondasi tetap yayasan itu. Para ibu berhati mulia itu berteman baik sejak anak-anaknya masih kecil sehingga Melvin, Leana, dan Freya menjadi sahabat. Tapi walaupun begitu, sepertinya rahasia yang Melvin miliki, tersimpan begitu rapi, seorang diri.
“Sudah. Kita harus bersiap juga untuk acaranya. Leana, kau mungkin harus mandi lebih dulu. Kamar di sebelah itu khusus untukmu, jadi pergilah ke sana, rilekskan dirimu supaya bersinar saat di altar nanti,” kata Fira.
“Tapi, Alvaro … .”
“Jangan cemaskan dia. Kami akan menjaganya bergantian,” sahut Marsha.
“Iya. Jika dia ingin. Menyusu, kami akan membawanya padamu. Pergilah, mandi kembang 7 rupa dulu,” goda sang ibu sembari mendorong tubuh Leana.
Nala yang akan menemaninya, membiarkan yang lain mengerubungi Alvaro.
“Syukurlah, tidak seperti yang kita pikirkan. Setidaknya, mereka menyambut baik dirimu, Na,” kata Nala.
Leana mengangguk, pertemuannya dengan keluarga ternyata disambut baik oleh mereka.
“Sepertinya, Melvin sudah menceritakannya sedikit tentangku. Jika belum, tidak mungkin sikap mereka akan demikian, ‘kan, La?” Leana berkata setelah keluar dari kamar hotel itu.
Nala mengangguk setuju. Dia jadi tidak harus menceritakan banyak hal untuk membela Leana, tapi sebagian banyak adalah rahasia yang Nala simpan tentang Leana dan lukanya.