Seperti yang dikatakan Melvin tadi kalau ada akan seseorang yang datang untuk menjemput Leana. Dia tidak membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan orang yang menjemput Leana itu masuk, tapi dia yang menunggu di depan gerbang.
Seorang pria dengan gaya kasual menyapa Leana ramah dan memperkenalkan dirinya sebagai bawahan Melvin.
“Usiamu tampak lebih muda dariku. Santai saja,” kata Leana begitu memasuki mobil dan duduk di belakang kemudi. Dalam gendongannya, Alvaro tidur setelah kenyang nge-mimi pada Leana.
“Tidak masalah, Bu. Anda bisa katakan padaku tempat tujuannya,” kata pria itu formal.
Leana menghela napas, walau tampilannya tampak santai, tapi bicaranya kaku.
“Aku akan mampir ke cafe di blok Z dekat sini, kau tahu, kan?” tanya Leana menuju tempat yang menjadi pertemuannya dengan Nala.
Tidak lama kemudian mobil berhenti di tempat parkir cafe tujuan Leana itu. Pria yang menjadi sopir Leana berkata akan menunggu meskipun Leana sudah membujuk untuk ikut saja dengannya sebab dia pun akan sedikit lama di sana. Tapi sikapnya yang kaku itu membuat Leana mengalah dan membiarkan pria itu di mobil.
Memasuki cafe itu, Leana mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari sosok yang akan membantunya hari ini. Hingga seseorang mengangkat tangannya dan melambai pada Leana, memberi tahu posisinya di dekat jendela cafe yang terbuka sedikit.
“Hai, La, maaf aku terlambat,” sapa Leana pada Nala Edwin yang menyambut dengan rentangan kedua tangannya.
Leana melesak tanpa sungkan pada pelukan sang sahabat yang telah membantunya itu dalam kesulitan dulu.
“Hanya dalam beberapa hari, kau sungguh akan menikah tanpa memberi tahu? Sahabat macam apa itu?” Omel Nala kala mereka saling duduk. “Dan itu, bayi itu … siapa?” tanyanya menunjuk Alvaro yang dalam gendongan Leana alih-alih membawa kereta bayi.
Leana tertawa kecil. “Maaf, aku pun tak menyangka akan seperti ini. Aku akan menceritakannya singkat saja ya soalnya setelah ini aku harus ke toko gaun pengantin untuk memilih,” katanya.
Nala mencebik tapi dia tak keberatan juga. Maka Leana pun menceritakan bagaimana dirinya bisa terjebak dengan Melvin, sahabat lamanya itu dan ayah dari bayinya sekarang. Tapi Leana tidak menceritakan kalau Alvaro bukanlah anak kandung Melvin. Masalah yang rumit itu sepertinya tidak harus orang lain dengar.
“Jadi, mau ke butik gaun sekarang?” tawar Nala setelah mendengar cerita Leana yang akhirnya akan menikah dengan Melvin, sahabat lamanya itu.
“Kau tidak sibuk, La?”
“Tidak. Khusus hari ini, aku akan menjadi sahabatmu. Besok, aku akan menjadi bosmu dan membahas kontrak kerjasama kita, Leana,” kata Nala.
Leana tertawa. “Oke.”
Maka mereka pun pergi dari cafe itu.
Di dalam mobil itu tidak banyak yang mereka bicarakan sebab Nala sendiri sibuk dengan ponsel. Meski mengatakan akan menjadi sahabat Leana, bukan berarti wanita muda itu tidak sibuk. Dia sibuk tapi menyempatkan waktu untuk Leana, hal yang selalu dilakukan Nala sejak dulu ketika mereka saling kenal dan bergantung satu sama lain sebagai sahabat.
Tiba di butik yang Leana inginkan, mereka pun memasuki butik tersebut.
Butik itu tidak terlalu besar, tapi tertata dengan elegan. Bau harum bunga segar menyambut mereka, berpadu dengan dentingan lembut musik klasik yang mengalun pelan.
Leana menatap sekeliling dengan pandangan berbinar, sesaat melupakan semua beban yang dia pikul. Ini adalah butik impiannya sejak dulu. Tempat yang hanya bisa dia lihat lewat layar ponsel atau majalah pengantin bekas yang dulu dia koleksi secara diam-diam.
“Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?” Seorang pegawai wanita muda dengan setelan pastel menyambut mereka ramah.
“Sahabatku akan menikah. Kami ingin melihat-lihat beberapa pilihan gaun,” jawab Nala sigap.
Leana tersenyum kecil, masih memeluk Alvaro yang tertidur lelap dalam gendongan.
“Oh, silakan masuk. Kami punya beberapa koleksi baru minggu ini. Apakah Anda sudah punya model atau gaya tertentu yang diinginkan?”
Leana menggeleng pelan. “Aku ingin mencoba saja dulu. Aku tidak pernah membayangkan akan memakai gaun pengantin dalam waktu dekat … .”
Pegawai itu hanya tersenyum memahami, lalu mempersilakan mereka masuk ke ruangan khusus calon pengantin. Deretan gaun putih, krem, champagne, dan bahkan nuansa pink muda tergantung rapi di sisi kanan, sementara di sisi lain terdapat sofa panjang dengan meja kecil tempat majalah pengantin dan segelas infused water tersedia untuk para tamu yang menunggu.
“Sini, Alvaro denganku dulu. Aku akan gendong dia kalau kau ingin mulai mencoba,” bisik Nala, mengambil bayi mungil itu dengan lembut. Leana menurut, menyerahkan Alvaro ke pelukan sahabatnya, lalu berdiri di tengah ruangan dengan perasaan bergetar.
“Baik, kita coba yang ini dulu, ya,” ujar pegawai butik sambil membawa satu gaun putih sederhana dengan renda halus di bagian leher dan lengan, memanjang elegan ke bawah.
Leana berganti di balik tirai dan perlahan keluar. Cermin besar memantulkan sosoknya dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Leana melihat dirinya bukan sebagai ibu muda yang memiliki banyak luka masa lalu, bukan sebagai wanita yang terjebak dalam situasi rumit, tapi sebagai seorang pengantin.
“Wah!” desah Nala pelan, berdiri sambil menggendong Alvaro. “Kau cantik sekali.”
Leana menatap pantulan dirinya di cermin, dan untuk sesaat matanya berkaca-kaca.
“Gaun ini … terlalu indah untuk dipakai hanya satu hari,” bisiknya pelan.
“Tapi bahkan satu hari pun tetap layak untuk kau rayakan, Na,” kata Nala, meletakkan tangan di bahunya. “Kau akan menikah. Meskipun rumit, meskipun ada luka … kau tetap pantas bahagia.”
Pegawai butik tersenyum dan mengambilkan satu veil lembut, meletakkannya di kepala Leana. Kini, bayangan di cermin bukan hanya seorang wanita cantik, tapi seorang pengantin sejati. Leana menutup mulutnya, menahan haru yang menggenang.
“Aku bahkan belum tahu apa Melvin akan tersenyum melihatku atau tidak. Tapi, aku ingin setidaknya sekali, aku terlihat seperti mempelai wanita yang benar-benar bahagia.”
“Melvin akan melihatmu,” kata Nala meyakinkan. “Dan dia akan menyesal kalau sampai melewatkan momen ini.”
Leana mencoba beberapa gaun lain, termasuk yang lebih glamor dengan payet berkilau dan potongan d**a rendah. Namun, dia kembali lagi pada gaun pertama. Ada sesuatu yang berbeda dalam kesederhanaannya, seperti dirinya. Tidak mencolok, tapi tulus. Tidak sempurna, tapi bermakna.
Setelah memutuskan, mereka duduk kembali untuk menyelesaikan administrasi penyewaan. Leana menandatangani formulir dengan tangan sedikit gemetar, lalu memandang ke arah gaun yang baru saja dia pilih dan kini sudah tergantung rapi di gantungan khusus.
“Terima kasih sudah ikut denganku hari ini,” katanya pada Nala. “Rasanya … seperti mimpi.”
Nala menepuk tangan Leana. “Ini bukan mimpi, Leana. Ini kenyataan. Dan meskipun hanya sehari, hari itu adalah milikmu. Milik kalian.”
Saat mereka keluar dari butik dengan Alvaro kembali dalam pelukan Leana, sinar matahari siang menyorot wajahnya dari sela dedaunan. Ada senyum tipis di bibirnya, bukan karena segalanya telah menjadi sempurna, tapi karena untuk pertama kalinya, dia mengizinkan dirinya bahagia. Meski hanya sebentar. Meski hanya untuk satu hari.