12. Jangan Katakan apapun

1253 Words
Paginya, seperti biasa, Leana bangun lebih awal, saat mentari masih belum menampakkan dirinya dari peraduan, baru tampak cerahnya langit fajar di sana. Lampu-lampu ruang itu masih mati dan tapi aroma kopi giling menyeruak dari dapur, menyambut paginya yang tampak segar. “Kau sudah bangun? Sejak kapan?” Leana menghampiri Melvin di pantry dapur yang tengah menyeduh kopi giling. Pria itu terkekeh kecil. “Aku biasa bangun jam segini beberapa tahun ini. Mungkin sejak berkecimpung di perusahaan,” jawabnya membalik badan menghadap Leana. “Bagaimana denganmu?” tanya Melvin balik, satu tangannya di pinggang, satunya lagi di meja pantry. “Kebiasaan. Sebelumnya pun aku bangun jam segini, sepagi ini. Didikan orang rumah. Katanya, biar jadi anak sukses, jangan malas bangun pagi,” jawab Leana santai sambil mencuci tangannya di wastafel yang tak jauh dari Melvin. Melvin kembali tertawa dan mengangguk. Dia tahu akan hal itu dan berpikir mungkin bisa diubah, tapi rupanya tidak. “Kau mau kopi?” tawar Melvin. “Tidak. Aku menyusui, Vin,” jawabnya yang sekali lagi membuat Melvin tertawa. “Biar aku seduhkan s**u untukmu. Kau duduk saja seperti ratu,” kata Melvin seraya membalikkan badannya Leana lalu mendorong tubuh itu ke meja makan. “Tunggu di sini, aku buatkan dulu. Mau sekalian sarapannya?” “Tidak perlu. Aku akan membuatnya nanti,” tolak Leana. “Oke.” Melvin kembali sibuk di area dapur. Leana memperhatikan dalam diam. Punggung itu kokoh dan hangat. Leana pernah digendong Melvin di punggung beberapa tahun silam dan rasanya nyaman sekali. Dia membayangkan, jika merasakannya sekarang apakah rasanya akan sama? Leana pikir, mungkin ya tapi juga tidak. “Melamunkan apa, Leana?” Teguran itu membuyarkan lamunan erotis Leana soal punggung hangat yang ingin dia rasakan lagi itu. “Tidak ada.” Dia berkilah sambil menerima gelas s**u yang disodorkan Melvin. Pria itu terkikik geli. Hening. Mereka berdua hanya larut dalam kenikmatan pagi hari dengan secangkir minuman hangat. “Jadi, hari ini jam berapa?” Leana memecah hening di antara mereka. Menatap Melvin yang sejak tadi memperhatikan dalam diamnya. “Pemberkatan sore, sekitar jam 3. Masih ada waktu untuk fitting baju pengantin kalau kau mau,” katanya. “Oke.” “Siangnya, kau akan ke hotel, tempat acara diadakan. Dan bertemu orang tua kita. Kau bisa berbincang sebelum acara. Mungkin, kau akan bertemu orang tuanya Freya juga,” lanjut Melvin. Leana hanya mengangguk, berpikir itu mungkin wajar saja. “Dan, mengenai ASI mu itu, bisa kau jelaskan pada mereka?” Melvin berkata hati-hati membuat Leana menatapnya. “Kenapa?” “Ya, aku tidak bisa menjawab pertanyaan bagaimana kau bisa memiliki ASI secara logis selain pernah mengandung. Jadi —” “Oke.” Leana menyela, pembahasan itu masih terlalu berat untuknya tapi dia akan mencobanya jika memang itu perlu. “Baiklah. Aku akan ke kantor dulu hingga siang. Ada rapat yang harus aku hadiri. Sekitar jam 2 aku akan datang. Kita bertemu di aula. Aku akan mengirimkan seseorang untuk mengantarkanmu ke tempat acara,” pesan Melvin. Leana kembali mengangguk. “Tapi, aku akan pergi mencari gaun pengantin itu dengan Nala. Sahabatku itu sudah berpesan. Sekitar jam 8 nanti, dia akan menemui aku di tempat yang dijanjikan,” terang Leana untuk meminta izin dari Melvin yang kini berstatus sebagai calon suaminya. “Boleh. Tentu. Kau bisa mengajaknya sekalian. Jika ada apa-apa, hubungi saja aku. Kau menyimpan nomorku, kan?” Namun Leana justru menggelengkan kepalanya. “Tidak di ponsel lain.” Melvin berdecak. “Mana ponselmu?” “Di kamar. Nanti saja.” “Oke. Itu saja untuk hari ini. Kau bisa membawa Alvaro atau butuh bantuan?” “Tidak perlu. Aku bisa membawa bayi. Kirimkan saja sopir untukku.” “Oke.” Lagi, mereka saling diam sampai Leana menatap Melvin dengan sorot yang serius. “Kau yakin, tidak lebih dari sekadar rahasia kecil, kan?” Melvin balas menatapnya, tak paham dengan apa yang Leana tanyakan itu. “Aku baru ingat siapa Dion dan bagaimana dia dengan keluarganya. Itu membuat aku berpikir kalau Freya —” “Leana!” Melvin berseru. “Jangan katakan apapun yang akan membuatmu berpikir buruk. Kita tahu seperti apa Dion, dan itu cukup. Yang perlu kita lakukan kedepannya adalah, mari hidup bahagia saja dengan Alvaro. Aku akan mendaftarkan dia sebagai anak kandungku sendiri. Jadi, apapun yang terjadi, aku butuh bantuanmu untuk itu, Leana.” Diam, tidak ada tanggapan dari Leana yang berpikir bahwa perkataan Melvin itu serius. Walaupun berkata, tidak apa-apa, nyatanya perasaannya tak begitu enak untuk itu. “Baiklah. Aku akan melakukannya sebisa mungkin. Jadi, tetaplah bersamaku, itu adalah janjimu.” “Iya, Leana. Akan aku lakukan apapun, bahkan sekalipun harus memberikan semesta, akan aku berikan untukmu.” “Gombal!” Leana mencebik, Melvin tertawa. “Ya sudah. Kau jangan lupa sarapan setelah ini. Aku akan bersiap.” “Mau aku buatkan sarapan untukmu?” tawar Leana sebelum Melvin bangun dari duduknya. “Boleh. Aku bisa makan apapun, tapi yang gosong dan batu serta kayu.” “Gila. Kau manusia purba?” Tawa itu kembali mengudara. Melvin bangun dari duduknya, membawa gelas kopinya yang sudah habis ke wastafel lalu mencucinya hingga bersih kemudian menaruhnya dengan rapi. Dia kembali menghampiri Leana. “Have fun, Leana. Aku akan menunggumu di altar nanti,” bisiknya tepat di samping Leana dengan senyum manis yang begitu menggoda. “Oke. Nantikan aku yang akan menjelma menjadi nenek sihir,” balas Leana yang membuat Melvin mengerutkan wajahnya aneh. “Kenapa nenek sihir?” tanyanya. Leana berdehem, mengusir gugup akibat melihat senyum manis Melvin membuatnya ingin sekali mencicipi bibir itu di pagi hari, rasanya pasti seperti kopi, pahit dan manis di saat yang sama. “Karena kau menyebalkan,” katanya seraya membuang muka. Lagi, Melvin tertawa. Suaranya entah bagaimana membelai lembut telinga Leana. “Na?” Cup! Satu kecupan mendarat mulus di bibirnya bersamaan dengan Leana yang menoleh saat Melvin memanggilnya. “Bibirmu manis s**u busui,” komentarnya. Leana mencebik, pura-pura mengusap bibirnya yang baru saja dikecup singkat oleh Melvin. “Ish. Jangan ambil kesempatan, Melvin. Sudah sana bersiap, aku akan masak sosis.” Leana mendorong Melvin kasar tapi pria itu bergeming beberapa saat sampai akhirnya membiarkan Leana ke dapur. Leana tampak kesal, dan itu tampak menggemaskan bagi Melvin. Alih-alih pergi ke kamarnya di lantai dua. Dia malah menghampiri Leana yang mulai sibuk di dapur untuk membuatkan sarapan. Saat Leana diam di satu titik untuk mengupas sosis dan mengocok telur untuk membuat dadar gulung kesukaannya, Melvin mendekati perlahan, tanpa suara layaknya singa yang membidik mangsa, tatapannya fokus, dingin seakan menyimpan ribuan rasa yang tak terungkapkan. “Aku tahu kau mendekati aku, Vin. Mau apa?” Luruh seketika sikap awasnya Melvin untuk menyergap Leana. “Astaga. Kau peka sekali, Na?” “Aromamu itu terlalu segar, Vin. Jika di kantor, aku yakin para karyawan wanita sudah pingsan,” ledeknya. Melvin mencebik tapi tetap mendekati Leana. Lalu tanpa aba-aba memeluknya dari belakang. Sempat membuat Leana berjingkat kaget lalu dia berontak tapi Melvin memerangkapnya kuat. “Kau kau apa, Vin?” Leana waspada. “Mengambil aromamu untuk aku simpan. Rindu, Na,” bisiknya seduktif di telinga Leana. Melvin tak peduli dan mempermainkan Leana dengan kecupan singkat di leher. “Eungghh. Melvin!” Lenguhan Leana itu membuat Melvin tertawa dan saat itulah Leana sadar letak satu tangan besar Melvin yang berada di antara dua pahanya. “Ngapain kau?” “Memastikan kalau kau masih mengenakan pembalut, Na. Yang artinya, aku harus puasa memasukimu, kan?” Leana mendelik tajam. “Sialan kau, Vin. Rasakan itu!” Balas Leana kesal. Melvin meninggalkannya di dapur kemudian sambil tertawa kecil, senang sekali menggodai Leana yang wajahnya bersemu merah, panas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD