11. Ayo Lakukan

1133 Words
Ketika tangis Leana reda, Melvin memberikan tisu padanya dengan senyum geli di wajahnya, mengejek Leana. “Kau tak berubah banyak ya dalam 10 tahun ini, Na? Masih cengeng,” ejeknya. Leana mencebik. “Kau, bahkan sudah menyiapkan semuanya hanya untuk mengikat aku dalam pernikahan. Apa alasanmu?” tanya Leana. “Hm. Alasan, ya?” Melvin berlagak berpikir lalu menatap Leana lagi. “Tidak ada alasan,” katanya. Sekali lagi Leana mencebik. “Aku hanya ingin menikah denganmu, apakah itu bisa dijadikan alasan?” Melvin serius menatapnya lagi. “Hanya karena ingin?” Todong Leana sedikit tak terima. “Lantas apa? Aku membutuhkanmu, menginginkanmu, bahkan itu sejak dulu. Hanya saja, seperti yang kau tahu, banyak hal terjadi membuat kita tidak bisa sembarangan mengambil keputusan. Tapi sekarang, aku berani mengambil keputusan itu dengan yakin. Jadi ya, ayo kita menikah, Na?” Leana diam, masih tak percaya sekaligus ragu. “Tapi Melvin, aku pernah —” “Sstt! Aku tahu kau akan membahas masa lalumu, bukan? Tentang bagaimana kau mendapatkan ASI itu? Itu kemungkinan kecil jika ada ASI keluar tanpa pernah mengandung atau melahirkan. Jadi, aku tidak peduli sekarang. Namun nanti, tolong ceritakan padaku supaya aku bisa menghajar b******n itu.” Mendengarkan penuturan Melvin itu entah kenapa Leana justru tertawa. “Memangnya kau tahu apa yang aku lalui?” “Tidak. Maka dari itu ceritakan padaku. Aku akan siap mendengarkannya.” “Melvin … ,” Leana menatapnya sendu. Membuat perasaan bersalah itu menyeruak dalam dadanya. Sakit sekali teringat alasannya pergi. “Bagaimana dengan Freya? Dia masih basah dalam kuburnya. Aku tidak mungkin mengisinya begitu saja, bukan?” Ragu itu kadang menyebalkan sekali, menjadi penghalang atas beberapa hal. Hela napas berat dan kasar dari Melvin membuat Leana menatapnya aneh. “Jika aku bilang, ini tidak ada hubungannya dengan Freya, kau akan percaya?” katanya tampak menahan kesal dan marah di waktu yang sama. “Apa yang terjadi?” “Bukankah sudah aku katanya, menikah dengan aku, maka kau akan tahu bagaimana kehidupan kami di sini,” “Termasuk ayah kandung Alvaro?” Serangan itu tak terprediksi oleh Melvin yang mengangkat wajahnya terkejut. “Apa maksudnya, Leana?” “Ternyata itu benar,” timpal Leana dengan tawa sinis. “Alvaro, bukan anak kandungmu. Tapi ayahnya adalah Dion, ‘kan?” Matanya membulat, mulutnya bungkam, tubuhnya terpaku itu cukup menjadi jawaban bagi Leana. “Dalam waktu 10 tahun itu, pasti banyak hal yang terjadi, ‘kan, Vin? Termasuk bagaimana kehidupan Freya? Anak itu … sungguh yang dilahirkan Freya?” Nadanya pelan tapi menusuk Melvin yang diam, bungkam. “Leana, aku —” “Ayo menikah saja, Vin. Dengan begitu, aku bisa mencari tahu apapun setelah menikah, termasuk mengurus Alvaro, kan?” Sela Leana menatap pria di depannya itu dengan sorot yang tak bisa diartikan. Namun Melvin masih diam, dia balas menatap Leana dengan tatapan yang serupa, tak terbaca. “Oke. Ayo kita lakukan. Karena keputusan yang aku buat pun demi Alvaro. Entah siapapun ayahnya, dia sudah menjadi anakku sejak di lahir. Dia akan menjadi anakku di kartu keluarga,” kata Melvin yakin. Seulas senyum hadir di wajah Leana, sedikit lega. Dia mengangguk cepat. “Tapi, Dion memang ayahnya?” tanya Leana memastikannya. “Siapa tahu?” Melvin justru mengedikkan bahunya acuh. “Lah? Apa maksudnya itu, Vin? Kau tak yakin?” “Aku tidak yakin, Na. Sejujurnya, aku tidak begitu yakin dengan sesuatu yang tidak ada bukti. Mungkin bisa jadi memang Dion adalah ayahnya, tapi Freya, tidak banyak mengatakan apa-apa. Tidak banyak menjelaskan tentang ayah anaknya. Aku hanya —” “Tunggu!” Leana menyela, menatap Melvin aneh. “Apa maksudmu?” Tuntutnya. Menghela napas panjang, Melvin balas menatap Leana. “Aku kan sudah bilang, Freya, tidak seperti yang kita pikirkan, Na. Dia, jauh dariku. Selama itu, aku tidak tahu bagaimana dia.” Leana diam, mencerna apa yang disampaikan Melvin itu. Dia … tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Melvin katakan itu. “Oh ya. Siapa yang memberi tahu kau tentang Dion?” Pertanyaan Melvin itu menyadarkan Leana dari lamunannya. “Ah, tadi ada tamu datang, namanya Kiandra. Dia bilang, kau mungkin kenal,” kata Leana melaporkan. Melvin tampak diam berpikir, mengingat. “Ah, Kiandra. Dia teman Freya. Bisa dikatakan mereka lebih dekat daripada dengan aku. Dia datang? Kapan?” “Siang tadi. Dia menceritakan sedikit tentang Freya juga. Katanya, ada yang aneh dengan Freya sebelum melahirkan. Dia juga mengatakan kalau ayah Alvaro adalah Dion, tapi dia seperti tak begitu yakin.” “Mungkin. Freya tak menjelaskan padaku tentang ayahnya. Tapi, dari apa yang kau katakan itu, hidung Alvaro mengingatkan aku pada Dion.” Melvin bergumam, baru menyadari perbedaan itu. “Selebihnya, wajah Freya.” Leana setuju dengan itu. Memang wajah Freya dominan, tapi pembeda itu tidak bisa dipungkiri. “Hei, Vin. Ayo kita cari tahu apa yang terjadi. Freya seperti menyimpan banyak hal, dan Alvaro lahir dengan selusin rahasia. Aku ingin tahu apakah Dion memang ayah dari anak itu atau bukan? Aku ingin tahu, apa yang Freya lalui. Dan aku pun ingin tahu apa yang kau simpan seorang diri.” Tatapan Melvin tertuju pada Leana, terkejut atas apa yang dikatakan gadis itu di akhir. “Kalau begitu, aku pun ingin tahu, apa yang terjadi dan yang kau lalui selama ini, Leana,” balas Melvin. Gadis itu tertawa. “Oke. Kita bergantian.” Mereka saling berjabat tangan untuk bekerjasama dalam mengungkapkan rahasia kehidupan mereka selama berpisah itu. Bagaimanapun juga, Leana masih akan melakukan beberapa hal untuk masa lalu, termasuk memberikan pelajaran pada sosok yang membuatnya sengsara, tapi di satu waktu yang sama, dia bersyukur karena dengan adanya ASI dalam dirinya, dia jadi bisa menyusui bayi Alvaro yang terhubung dengan sahabatnya di masa lalu. “Jadi besok jam berapa?” Tiba-tiba Leana bertanya membuat Melvin mengerutkan keningnya. “Kau bilang akan menikahi?” jelasnya. “Ah, masih ada waktu. Tapi Leana, pernikahannya tak begitu mewah. Aku hanya menyiapkan surat-suratnya dan tempat untuk pemberkatan. Jadi —” “Tidak apa-apa. Itu saja sudah cukup. Tapi, aku harus mengenakan pakaian pengantin, bukan?” Melvin mengangguk. “Kau masih punya waktu untuk memilih gaunnya.” Senyum Leana hadir. Bagaimanapun juga, walaupun dadakan, walaupun sederhana itu bisa jadi mimpi untuk Leana yang mendambakan gaun pengantin walaupun hanya dikenakan dalam beberapa jam. “Oke. Aku akan meminta bantuan dari sahabatku besok. Dia akan datang besok sambil marah-marah pasti,” kata Leana teringat pada Nala yang akan datang besok. Sahabat yang merangkap jadi bosnya itu pasti akan mengomelinya panjang lebar. “Ya sudah. Tidurlah sebelum Alvaro bangun dan minta nyusu,” kata Melvin seraya mendekat. “Mau apa kau?” Leana mendelik. “Cuddle, Na. Kangen.” “No, no, no. Jauh-jauh sana. Aku mau tidur,” tolak Leana beringsut dari sofa itu dan berlari ke kamar di mana bayi Alvaro terlelap. Melvin tertawa di tempatnya, tapi kemudian tatapannya berubah menjadi dingin dan gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD