Hujan turun dengan derasnya di luar sana, suaranya yang syahdu seharusnya bisa menjadi pengantar tidur. Hawanya yang adem itu biasanya membawa kenikmatan pada tubuh untuk lelap dalam mimpi dan istirahat dari aktivitas yang melelahkan. Tapi dua insan itu duduk bersebelahan dengan Leana yang terus bergerak menjauhkan Melvin yang memepet tubuhnya terus.
“Sial! Geser sana, ih, Vin!” Leana berseru kesal tapi Melvin tak mau. “Geser atau aku tidur aja?” Ancamannya masih sama tapi kali ini Melvin mengalah sambil tertawa.
Dia duduk dengan baik di sampingnya Leana, hanya berjarak beberapa jengkal saja.
“Oke. Mau kau dulu atau aku dulu?” tanya Melvin setelah mengatur napas dan ekspresi jahilnya.
“Apanya?”
“Ngatur cuddle, Na,”
“Sialan! Ogah. Jauh-jauh sana!” Leana mengusir dengan kesal.
Sekali lagi Melvin tertawa.
“Ngomongnya. Bukannya tadi bilang ada yang mau kau bicarakan, Na? Apa itu?” Melvin memperjelasnya.
Tapi Leana terlanjur kesal sehingga hanya bungkam.
“Ya, oke. Aku dulu aja kalo gitu. Aku -”
“Aku-”
Sayangnya, bersamaan untuk memulai dan sama-sama saling diam. Leana mendelik dan mereka saling bertatap tajam dengan kedua tangan mengepal kuat dan mata saling beradu tatapan, tak sekalipun ada yang mau mengalah bahkan Leana pun mengatupkan mulutnya rapat sekali.
“Keras, batu, gunting!”
Dalam hitungan menit ketegangan itu, keduanya pecah justru bersuten. Melvin bersorak ketika dirinya menang dengan tangan mengepal layaknya batu, sedangkan Leana membentuk gunting dengan jari telunjuk dan jari tengahnya yang tegak, tiga jari lainnya terlipat.
“Sialan!” Dia mendesis tak terima tapi Melvin terlanjur kesenangan sehingga tak peduli dengan wajah masamnya itu.
Rupa-rupanya mereka masih sama walau telah 10 tahun berpisah. Setiap kali ada hal yang harus mengalah, suten adalah jalan keluarnya. Selalu begitu di antara ikatan sahabat.
“Oke. Aku aja dulu,” kata Melvin lantas bergerak untuk mengambil sebuah map berwarna coklat yang tidak jauh dari tempat dia duduk, tergeletak di sofa. Leana baru menyadari benda itu di sana. “Ini, coba buka,” ujarnya seraya memberikan map itu pada Leana.
“Apa ini?” Leana ragu menerima, menatap Melvin penuh kewaspadaan. Firasatnya tiba-tiba saja tidak enak.
“Liat aja isinya. Aku jamin kau tak akan menolak,” kata Melvin dengan percaya diri.
Leana berdecih melihatnya tapi dia menerima map itu dan membuka ikatannya. Perasaan berdebar itu cukup menggelitik juga tapi Leana menahannya agar tidak menjadi bahan ledekan Melvin.
Begitu map terbuka, di dalamnya hanya ada beberapa lembar kertas. Leana menarik keluar kertas itu dan membaca huruf yang tersusun itu. Hitam di atas putih adalah istilah dari sebuah perjanjian, bukan? Ya, kertas yang ada di tangan Leana itu tak lebih juga sama. Hanya saja, mata yang membulat sempurna itu, dan mulutnya yang ternganga adalah reaksi dari kejutan yang menurut Leana … gila.
“Gila!” Dia bahkan tak sungkan menyuarakannya meskipun baru beberapa hari bertemu Melvin, sama sekali tidak menjaga image sebagai seorang perempuan feminim yang telah lama berkecimpung di dunia per-wanitaan.
Hei, waktu berlalu mau sejauh dan banyak apapun, bagi sahabat yang sudah mengenal luar dalamnya emosi satu sama lain, sungkan itu tidak ada dalam kamus. Masa bodoh dengan jaga image feminim. Tapi yang dilakukan Melvin memang gila.
“Jangan bilang, kau melakukan ini semua seharian ini? Mengumpulkan data identitas aku cuma buat disahkan jadi istrimu? Dasar sinting!” Sembur Leana tak percaya dengan perlakuan Melvin yang kini tampak santai menyesap minumannya.
“Hei, hei. Kalo ngomong itu dijaga, dong, Na, nggak sopan,” tegurnya, santai sekali.
“Sialan! Ini maksudnya apa, sih, Vin? Kau sungguh akan menikahi aku dalam waktu dekat?” tanyanya meminta klarifikasi.
“Lebih tepatnya besok,” jawab Melvin yang kini justru menampilkan senyum kecil yang mirip seringai setan itu.
“Sialan! Itu lebih gila! Nggak waras kau, Vin!”
“Aku waras, Na. Lebih waras malah,” kilah Melvin sembari memposisikan dirinya menghadap Leana sepenuhnya. Wajahnya serius sekali dengan sorot mata tajam yang penuh kesungguhan. “Itu janjiku, dan aku akan menepatinya besok. Semua hal sudah aku urus, termasuk semua dokumen yang diperlukan. Kita hanya perlu untuk pemberkatan nikah saja supaya sah di mata hukum dan agama.”
Mulut Leana terbuka mendengar keseriusan Melvin itu. Di berkas yang Leana pegang itu lengkap sekali dengan semua hal yang dibutuhkan untuk mengurus dokumen pernikahan.
“Aku juga sudah mengantongi izin dan restu orang tuamu, Leana. Jadi, kau nggak bisa lari lagi dari aku,” tuturan Melvin itu terdengar ringan, sarat akan kepuasan atas klaimnya Leana yang kini berstatus calon istrinya.
“Bener bener gila,” gumam Leana tapi tentu saja di dengar pula oleh Melvin yang tertawa.
“Ini keputusan dan pilihan yang aku buat, Na. Dengan segala pertimbangan resiko dan lainnya, dengan kesadaran penuh, aku memintamu untuk menikah dengan aku besok, Leana. Jadi … .”
“Tunggu, Vin!” Leana menyela, mengangkat tangannya menghentikan perkataan pria itu.
Leana menatap Melvin sepenuhnya, di bawah lampu neon yang terang itu Leana bisa melihat kesungguhan yang tak terbantahkan dari pria yang menjadi sahabatnya selama 15 tahun itu, sebelum kemudian berpisah 10 tahun ini lalu kembali bertemu dengan kondisi dan keadaan yang jauh berbeda.
“Kau … serius?” Entah, Leana ragu, sebab di dalam hatinya ada luka. Di kepalanya ada perang yang tak berkesudahan tengang sebuah pikiran.
“Iya, Leana. Aku serius. Jadi … .”
“Vin … ,” Leana berucap lirih, kedua matanya terasa panas, siap menumpahkan bulir beningnya itu. “Aku … apa aku bisa menolaknya?”
Melvin terdiam.
“Alasannya?”
“Aku … merasa tak pantas untukmu. Aku … .”
“Aku tidak mau mendengar keraguanmu, Leana!” Potong Melvin cepat. “Aku tidak menerima penolakan darimu, apa pun itu. Tidak! Aku tidak akan menerimanya. Jadi, singkirkan ragumu sebab aku pun tak pantas untukmu. Tapi, aku harus melakukannya ini. Aku harus melindungi Alvaro dengan bantuanmu. Jadi, menikah saja denganku besok, Leana.”
Leana bungkam. Pada akhirnya, bulir itu pun terjun bebas dari pelupuknya.
Melvin meraih tangan Leana, menggenggamnya erat dan menatap wajah itu yang amat dia rindukan.
“Terlepas dari apapun. Kau mau terima atau tidak. Tapi … aku pernah mencintaimu, dan sekarang pun rasa itu ada. Jadi keputusan yang aku ambil itu bukan tanpa banyaknya pertimbangan, tanpa persiapan, tanpa memikirkan banyak hal. Tapi setelah semua itulah, aku sampai pada titik ini, menikah denganmu,” tuturnya.
Leana masih bungkam. Di kepala dan hatinya riuh sekali dengan banyak hal, tentang sebuah kemungkinan.
“Seperti yang sudah kita sepakati kemarin, aku akan melakukan apapun untukmu, bahkan membeberkan rahasia yang hanya aku tahu. Aku tidak peduli. Yang penting adalah, pasanganku adalah kau, Leana. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Dengan hadirnya kau, aku merasa memiliki kekuatan. Jadi … ayo nikah besok.”
Oh, di saat lukanya masih ada, bahkan mungkin membekas. Di saat dirinya merasa begitu rendah akan sebuah bahagia, masihkah dia pantas mendapatkannya? Terlebih lagi, yang memintanya untuk bersama seumur hidup itu adalah sosok sahabat sekaligus cintanya di masa lalu.
Melvin kian erat menggenggam tangan Leana, tampak sekali ketakutan untuk ditinggalkan kedua kalinya.