Leana tiba di depan pintu apartemen Nala. Dia menekan bel sekali dan menunggu beberapa saat hingga daun pintu itu pun terbuka tak lama kemudian menampilkan sosok Nala Edwin yang masih acak-acakan. Bahkan menyambut Leana sambil menguap lebar. “Dasar pengangguran,” semprot Leana sambil menggelengkan kepalanya dan memasuki unit apartemen Nala itu. “Itu kata orang yang pengangguran juga,” balas Nala. Leana meringis mendengarnya. Dia menaruh plastik belanjaan di dapur dan membawa jinjingan di tangan satunya lagi ke sofa, itu tas yang berisi keperluan Alvaro. Dia juga melepaskan bayi itu dari gendongannya dan menaruhnya di sofa dengan penghalang di sisinya agar tidak jatuh. “Kau bawa apa sampai serepot itu, Na? Cukup datang saja dengan bayi itu, kenapa bawa makanan segala?” Nala berkoment

